Langsung ke konten utama

Tradisionalis, Modernis dan Substansialis: Menghadapi Masalah Zaman dalam Beragama

Islam tidak beda dengan agama-agama lain yang selalu akan berubah dengan berubahnya zaman. Agama bukan lahir sejak turunnya wahyu kepada nabi Muhammad. Ajaran agama sudah ada sejak manusia lahir dan sadar akan dirinya. Entah, apakah itu dari nabi Adam as atau mungkin evolusi kera menjadi sejenis makhluk yang bernama Homo Sapiens. Tetapi nyatanya dan yang terpenting masalah spiritualitas dan norma agama untuk mengatur manusia agar menjadi sejahtera, aman, damai dan tenang keberadaannya sudah ada sejak awal sejarah.


Jadi, jangan heran kalau banyak agama yang muncul dan menahbiskan Tuhannya masing-masing. Ditengah itu muncul juga kaum penantang yang menolak semua tahbisan terhadap Tuhan yang hanya khayalan. Terjadilah percekcokan demi menyelamatkan pikirannya masing-masing. Muncul perang atas nama agama dan atas nama keyakinan. Demi melawan apa yang disebut kekafiran. Pengingkaran yang merupakan dosa besar.


Tradisionalisme, Modernisme, Substansialisme Agama
Autografi editing


Perjalanan sejarah lantas menunjukkan lika-liku. Hikayat yang kita baca dalam sejarah penuh dengan intrik, konflik, penguasaan, sekaligus usaha perdamaian agar hidup menjadi tenang. Nah, semua itu bagian reaksi manusia terhadap manusia lain dan terhadap fenomena alam yang meresahkannya.


Dalam konteks beragama muncul tiga aliran dalam memandang bagaimana seharusnya agama dipandang. Bagaimana kalau agama ini dilihat dan disesuaikan dengan waktu turunnya agama itu. Para tokoh agama mau menyesuaikan agamanya dengan kondisinya sekarang. Tetapi terhambat dalam cara berpikir yang tepat. Ada juga yang sama sekali tidak mau menyesuaikan dengan zamannya karena menganggap itu bagian dari pengubahan keaslian agama.


Tradisionalisme Agama

Pertama, kaum yang menganggap semua yang bunyi dari teks tentang cara hidup yang detail-detai, seperti: cara makan, berpakaian, berjalan, bersalaman, sampai menggosok gigi dianggap bagian dari agama dan dianjurkan untuk mengikutinya. Karena orang yang mengikutinya akan mendapatkan pahala yang berlimpah. Aliran ini biasa disebut sebagai tradisionalis karena tidak mau mengikuti perkembangan zaman yang sudah seharusnya meninggalkan warisan yang dianggap tidak bermanfaat lagi. Kaum tradisionalis berwatak konservatif pada ajaran agama dan selalu menggaungkan pemurnian terhadap agama yang telah mengalami distorsi atau pencampuran yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama. Biasa juga karena kesadaran zaman yang sudah mulai terbangun bahwa kita harus mengikuti penemuan ilmu yang memudahkan dan memberikan manfaat. Agama yang tadinya hanya berkutat pada ajaran moral dan paling banter kebudayaan sudah meluas dalam seluruh dimensi kehidupan. Terjadi agamisasi disana sini.


Agamisasi, anda boleh menggantikan kata agama itu dengan ajaran agama tertentu seperti: Islam, Kristen, Hindu, dan sebagainya. Beberapa dimensi yang tadinya berwatak ‘sekular’ seketika memiliki agama dengan menambahkan unsur keagamaan tersebut ke dalam dimensi itu. Contohnnya, Sains Islam, Filsafat Islam, Sastra Islam, Islamisasi Ilmu, Seni Islam, dan sebagainya. Yang saya maksud di sini bukan suatu dimensi keilmuan lalu menjadikan Islam sebagai objek bahasan (subject matter). Bukan juga memasukkan Islam sebagai batas-batas moral yang harus dipatuhi sebagai ilmuwan yang beragama Islam. Tetapi, Dimensi keilmuan (atau yang lainnya) itu secara substansinya diislamisasikan. Metodologi dan Paradigma keilmuan diambil dari teks suci agama dan dijadikan sebagai landasan dalam membangun keilmuan. Pada dasarnya tidak ada permasalahan di sisi ini, namun setelah agama dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran dalam membangun dimensi apapun dalam kehidupan di dunia ini, akan menjadi problem bagi manusia dan masyarakat.


Karena masing-masing agama memiliki karakter ajaran yang berbeda satu sama lain. Antara Islam dan Kristen jelas berbeda memahami Tuhannya dan beberapa kredo lainnya. Kehidupan bersama-sama memerlukan konvensi yang mengatur interaksi dan hubungan satu sama lain, kalau satu agama saja yang dijadikan untuk membangun konvensi itu atau dimensi kehidupan bersama dalam berinteraksi akan terjadi konflik dan perpecahan yang hanya berujung pada kehancuran semua pihak. Karena itu agama sebenarnya masalah privat manusia, namun kesamaan yang terdapat pada setiap agama seperti ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebersamaan, dan sebagainya itu merupakan nilai yang menjadi landasan dimensi kehidupan bersama manusia.


Agamisasi dimensi kehidupan bersama hanyalah menyebabkan perpecahan, kecuali yang dimunculkan adalah nilai universal yang dimiliki oleh setiap orang sehingga akan diterima dengan baik. Bila agamisasi didasarkan pada keinginan konservasi budaya terdahulu, kolot, dan acuh terhadap budaya keilmuan dan rasionalitas maka peradaban manusia akan stagnan tanpa kemajuan.


Orang-orang yang tradisionalis memiliki ciri utama: Konservatif dan Skriptualis. Orang tradisionalis kalau mendapatkan masalah selalu merujuk pada agama dan mencarinya pada teks-teks yang sudah tercatat, jarang sekali mereka mau menggunakan akalnya sendiri untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Parahnya lagi, sebagian besar mereka memahami teks suci secara literal tanpa memahami konteks dari teks-teks yang ada. Hal ini yang membuat mereka tidak ingin berubah dan melakukan pembaruan keislaman karena pemahaman konteks Islam tidak mereka pahami.


Modernisme Agama

Kritik itu datang dari Kaum Modernis, aliran yang kedua ini selalu ingin mengadakan pembaruan keislaman. Artinya sebagian pemahaman Islam itu perlu untuk direvisi kembali, utamanya dalam ranah-ranah yang aksidental, tampilan, atau simbolik dari Agama. Mereka berusaha untuk mengikuti kebudayaan saat ini. Kaum Modernis kebanyakan hanya bergantung pada akal untuk menyelesaikan persoalan atau menggunakan disiplin keilmuan yang sudah berkembang. Mereka memanfaatkan betul teknologi yang baru untuk memudahkan kehidupan sehari-hari. Mereka meninggalkan kekolotan dan takhayyul yang memercayai cara-cara gaib dalam kehidupan sehari-hari.


Namun kaum Modernis terkadang melupakan ajaran-ajaran agama, khususnya Islam yang murni sebagaimana dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kebergantungan terhadap sains yang berlebihan membawanya kepada sekularisasi agama yang semestinya memiliki nilai sakralitas yang sangat perlu untuk disucikan dan dihargai. Ini sama saja dengan penghilangan ruh agama secara spiritualitas, karena agama hanya dipandang hanya dalam paradigma sains semata. Padahal agama memiliki nilai yang melampaui batas indera dan sains, sehingga modernis seperti ini membatasi paradigmanya dan cenderung untuk mengacuhkan posisi agama.


Substansialisme Agama: Solusi Beragama

Nah, Aliran terakhir lebih memandang secara substansial dari masalah umat Islam sekarang ini. Saya menyebutnya sebagai Islam Substansialis, berbeda dengan Tradisionalis yang konservatif dan simbolis. Sekaligus berbeda dengan Modernis yang cenderung melewati batas sekularisasi dan unsur-unsur sakral dalam agama. Seorang Substansialis selalu memandang inti persoalan umat dengan tidak melupakan pokok ajaran yang disampaikan Nabi melalui Al-Qur’an dan Hadis melalui kaca mata kontekstual. Substansialis menganggap spiritualitas agama adalah hal yang paling penting dan pokok kebersamaan di dalam masyarakat. Jika, Modernis alih-alih menginginkan kontekstualisasi agama justru melupakan spiritualitas yang menjadi pokok agama.


Akhirnya, poin terpenting yang dibutuhkan oleh umat beragama sekarang adalah kontekstualisasi ajaran setiap agama dan menjaga spiritualitas sebagai batas paling luar dalam beragama. Karena setiap agama mengajarkan inti spiritualitas yang sebenarnya sama, perbedaan hanya terletak pada ranah simbolik saja. Setiap manusia akan menemukan kebenaran spiritualitas bukan bagi satu agama saja. Karena agama pada hakikatnya manifestasi spiritual dalam lokus masyarakat dan kultur. Pencarian inti kehidupan, kedamaian, kebersamaan, dan pengembangan peradaban adalah tujuan pokok seorang Substansialis.

 Wallahu A'lam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...