Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Refleksi

Revolusi Akhlak: Apa Tujuannya?

Perpolitikan dan Religiusitas di Indonesia menjadi dua sisi yang saling menguntungkan. Pergerakan politik dengan semangat agama sudah digaungkan sejak awal kemerdekaan, tapi tidak pernah berhasil bertahan lama. Pemerintahan berdasarkan agama hanya ilusi semata, tetapi agama sebagai cara berpolitik selalu dibawa sepanjang masa. Agama memang konsep yang paling membangkitkan emosional massa, karena memberikan musuh-musuh yang harus dilawan, menunjukkan misi yang harus diperjuangkan, dan kawan yang mengikat gerakan mereka. Habib Rizieq dan tokoh-tokoh yang terikat dengannya menggaungkan slogan “Revolusi Akhlak” untuk perjuangannya. Bagi masyarakat awam, slogan itu sangat mulia. Setiap orang menginginkan Akhlak. Tambahan kata revolusi di depan kalimat itu menjadi bumbu yang lebih membangkitkan semangat mengubah akhlak yang hina baginya. Slogan ini tentu melahirkan banyak masalah mulai dari sisi kepentingan di dalamnya dan efek-efek yang berdampak darinya. Penggunaan kata dalam ranah publi...

Jangan mengukur dirimu dengan orang lain!

Memperbaiki diri atau mencegah diri agar tidak merosot memerlukan ukuran tersendiri. Seseorang yang hidup di tengah masyarakat dengan pelbagai aktivitas, akan terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan mereka. Seperti adagium yang jamak kita dengar “orang yang bergaul dengan penjual parfum akan kecipratan harumnya, sedang orang yang bergaul dengan penjual ikan akan kecipratan baunya” cukuplah pengalaman dan sejarah orang lain jadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengulangi hal itu. Salah satu pengalaman pribadi saya, yang mungkin cukup berpengaruh dalam mengubah perilaku dalam bersosial adalah mengukur diri dengan orang lain, bukan dengan diri sendiri. Setiap orang punya kemampuan sendiri-sendiri yang unik bagaikan sidik jari dirinya. Di dalam kemampuan itu tersimpan kepribadian dan emosional yang cukup kompleks, hasil dari kikisan lingkungan sejak ia lahir hingga saat ini. Dalam bertindak secara instan, kita sangat dipengaruhi watak yang melekat itu, tetapi dengan proses berpikir manusia ...

Problem Kebebasan, Aliran Pemikiran dan Kebahagiaan

  Hasrat manusia yang tidak bisa dilepaskan dan sudah menjadi tabiatnya untuk mencari kebebasan. Siapapun dan di mana pun selalu ada semacam gerakan dan perjuangan untuk pembebasan dalam satu masyarakat jika terjadi sejenis pengekangan. Manusia yang sudah mulai berpikir dan merasakan dirinya terkungkung dan dibatasi akan memberontak terhadap apa saja yang membuatnya terbatasi. Merenungi kebebasan akan banyak diksi yang muncul perlu untuk diperbandingkan satu sama lain diantaranya: pembatasan, kemerdekaan, tanggung jawab, aturan, perusakan, dan kesewenang-wenangan. Persoalan yang paling jelas bagi kebebasan adalah tidak adanya kemutlakan bebas melakukan apa saja semau kita. Selalu ada batasan yang mengekang manusia. Batasan itu berupa aturan yang sudah disepakati bersama dalam masyarakat, atau batasan manusia agar tidak menghacurkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, persoalan kebebasan mutlak adalah hal yang utopis. Akal manusia selalu menolaknya. Paling tidak, batasan kebebasan m...

Berpegang dan Berlepas (Tawalla dan Tabarra')

Dalam pusaran sejarah, selalu muncul dikotomi-dikotomi yang saling berlawanan. Memang cara berpikir itu tidak mesti biner, hitam dan putih. Terkadang dalam melihat realitas diperlukan cara berpikir bertingkat. Namun, masing-masing cara berpikir memiliki tempat masing-masing. Kita tidak mungkin melihat kontradiksi dalam bentuk tingkatan. Kontradiksi selalu meniscayakan dua hal yang tidak memiliki jalan tengah. Antara konsep ‘ada’ dan ‘tiada’, tidak memiliki jalan tengah ( law of excluded middle). Namun, dalam tempat lain, realitas harus dilihat secara bertingkat, seperti suhu panas, ukuran-ukuran, dan lain-lain. Selalu banyak perbandingan ke atas atau ke bawah. Banyak yang keliru mengkritik cara berpikir biner itu terlalu simplisistik. Alih-alih menggunakan cara berpikir itu secara tidak sadar. Dualisme dalam pikiran memang tidak bisa dihindarkan, karena watak pikiran yang selalu mencari esensi sesuatu, hakikat, dan definisinya. Semua itu tidak bisa dipahami akal manusia tanpa membed...

Kemajuan Sains dan Agama

Beberapa dekade ini kemajuan sains sudah menjelaskan misteri-misteri yang tidak terpecahkan oleh manusia. Pengujian empiris banyak membuktikan persoalan yang terkadang dijawab dengan dogmatisme atau keyakinan umum yang tersebar di masyarakat. Mulai dari penyakit yang menjangkiti manusia, emosi-emosi manusia, peristiwa-peristiwa alam yang menakutkan, hingga misteri di ujung alam semesta. Banyak kepercayaan yang dikonstruksi untuk menyelesaikan kegelisahan manusia. Dogma itu sangat berguna karena menghilangkan kegelisahan manusia yang terus mempertanyakan alam. Seiring berjalannya waktu Filsafat juga mulai datang untuk menjelaskan masalah-masalah metafisis yang tak terjangkau indra. Persoalan etika, makna hidup, dan prinsip-prinsip realitas. Di balik itu, melihat realitas sekarang. Ilmu pengetahuan sudah berkembang sangat maju. Penjelasan-penjelasan metafisis yang bersifat dogmatis dan spekulatif digantikan dengan penjelasan sains. Masyarakat modern abad ke-21 hingga abad selanjutnya a...

Berpikir Sederhana (Refleksi)

Pernah tidak, melihat orang yang terlalu ribet mikir, berputar-putar, sudah menjelaskan di ulang lagi penjelasannya. Penyakit ini banyak dijangkit orang-orang yang terlalu ‘berfilsafat’, dalam tanda kutip. Saya banyak menemui begitu, ditengah pelajaran atau bahkan kuliah dari dosen-dosen yang berlatarbelekang filsafat, beberapa sedihnya juga terjangkit. Saya melihat ini karena watak filsafat yang selalu berpegang pada prinsip logika, biasa kita sebut ‘identitas’. Prinsip ini memang sangat sulit untuk ditolak, bahkan mustahil. Tidak perlu untuk dijelaskan karena sudah sangat jelas, dan takutnya saya akan mengikuti dosen saya yang menanyakan yang sudah jelas-jelas jawabannya. Entah, memang ciri filsafat itu kritis alias selalu mempertanyakan apapun itu. tapi, kelewatan juga kalau mempertanyakan yang sudah sangat jelas sekali, ini bisa membuat kita jengkel. Yah , sama saja satu tambah satu, semua orang sudah pasti tau dua. Kita bisa melihat, sudah pasti. Ini yang terkadang membuatku jen...

Filosofi Kopi dan Buku

Kopi ada yang sangat pekat dan hitam sampai membuat jantung berdebar-debar, ada pula yang begitu lembut sedikit kecoklatan tak begitu berpengaruh ketika diminum. Kopi memiliki tingkatan-tingkatan tetapi tak diketahui mana tingkatan yang paling tinggi mencapai titik kulminasi dan titik terendahnya. Setiap kopi pasti memiliki perbandingan dengan yang lebih kuat dan yang lebih lemah. Hidup juga begitu, ada tingkatan-tingkatan. Ketika menghadapi kesulitan seseorang akan merasa dirinya tidak sanggup menghadapi kesulitan itu, padahal masih banyak yang lebih sulit dari dia. Ketika kaya, orang lupa kalau masih ada yang miskin dan sangat membutuhkan untuk dibantu. Jadi tak perlu menahbiskan diri yang 'paling' di antara yang lain. Demikian pula buku, memiliki lembaran-lembaran yang sangat melelahkan untuk dibaca, jika tanpa semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Tetapi, buku tetap berbeda dengan kopi yang masih memiliki awal dan akhir diantara lembaran-lembarannya. Sebagian besar pe...

Menjadi Manusia Aktif

Dalam hidup, kita akan banyak menghadapi fenomena yang sangat mempengaruhi diri kita. Ada fenomena yang jelas-jelas mengarah pada diri kita seperti perkataan atau sikap orang lain, di satu sisi ada fenomena yang diam tetapi begitu memberikan kesan mendalam, bisa kita temukan pada benda-benda mati, atau kejadian yang terjadi di sekitar kita, orang yang salin tolong menolong, kejahatan, dan sebagainya.       Semua yang ada di alam semesta ini saling terhubung satu sama lain, dan mempengaruhi setiap individu dengan caranya sendiri. Sebagian besar peristiwa karena reaksi dari yang lain, misalnya hukum permintaan dan penawaran ekonomi yang saling bereaksi untuk mengarah pada keseimbangan, air laut yang senantiasa menguap setelah bereaksi dengan matahari, kemudian menjadi hujan, dan seterusnya. Namun, berbeda dengan manusia, mereka memiliki keunikan tersendiri dalam melakukan reaksi dengan sekitarnya. Sebagian manusia bereaksi dengan kelaziman kultur dan pengalaman yang ...

Transformasi Realitas

Dulu saya berlarut-larut dalam pikiran, mungkin karena kegelisahan pada masalah filsafat yang selalu menganggu dan mengusik. Filsafat yang selalu memikirkan problem fundamental manusia, orang yang tak kuat untuk berubah-ubah secara radikal dari satu pikiran ke pikiran yang lain, saya yakin akan larut dan mengiang-ngiang dalam pertanyaan yang tak pernah berhenti dan terus mencecar. Itu memang salah satu hal positif yang tak bisa dihindari bagi yang bergaul di alam filsafat. Tetapi, akhir-akhir ini baru saya sadari ternyata kita tidak bisa terus seperti ini. Apalagi dalam bersosial dengan kawan di masyarakat, atau tinggal di suatu tempat dikelilingi peristiwa penting berlalu begitu saja dengan tak acuh.  Kejadian ini saya sebut sebagai transformasi realitas. Alam kejadian di sekitar yang dihadapi sehari-hari sudah tidak lagi dianggap sesuatu yang penting layaknya 'angin  yang lewat'. Kondisi di sekitar hanya menjadi nyata karena dipersepsi oleh indranya, seandainya kelima indran...