Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kebijaksanaan

Perjalanan Mendaki

Dalam kehidupan penyempurnaan diri, filosofi yang paling sering digunakan adalah pendakian memuncak hingga mencapai titik tertinggi dari lereng gunung. Ada banyak hal yang bisa mencerminkan perjalanan asli manusia dengan analogi di dalam pendakian itu. Sebut saja sulitnya pendakian yang ditempuh bersamaan dengan semakin dekatnya kita ke puncak. Terdapat banyak rintangan dan hal-hal yang bisa menjatuhkan seseorang tiba-tiba ke jurang yang paling bawah, tersesat hingga tak bisa kembali lagi melihat cahaya penerang jalan. Perjalanan itu membutuhkan istirahat yang cukup untuk mengambil tenaga. Terakhir, seorang pendaki mesti sangat berhati-hati dari banyaknya gangguan yang datang dari perjalanan itu sendiri atau kawan-kawan sekitar dalam perjalanan yang tidak mengetahui perjalananmu. Seorang pejalan mesti memahami dirinya dan perjalanannya, karena sesungguhnya pengetahuan terhadap medan perjalanan adalah setengah dari perjalanan. Apa yang saya alami adalah banyaknya keterjatuhan yang tid...

Duka Asyura, Tangisan, dan Perjuangan

Tangisan Asyura adalah ungkapan rasionalitas, tangisan yang membanjiri kezaliman di dalam diri. Tangisan itu menjadi petunjuk bagi perlawanan diri, bukan sekadar perlawanan terhadap pembunuh-pembunuh Al-Husain as. Banyak tangisan dan duka yang datang di sela-sela kehidupan, tetapi tangisan terhadap Al-Husain memiliki semangat yang berbeda dari tangisan lainnya. Ini bukan jeritan kelemahan atas diri, tetapi persiapan untuk kebangkitan jiwa yang tertatih. Asyura mengungkakan semua dimensi kebijaksanaan hidup. Bukan hanya kesedihan, atau ratapan tanpa makna. Di dalam itu semua terdapat persiapan untuk melawan diri, menghilangkan ego, cinta dunia, menghilangkan ikatan-ikatan yang menjatuhkan. Pengorbanan Al-Husain membentuk pemikiran Husainisme bagi pengikutnya, mengorbankan dirinya, menghilangkan keakuan. Di dalam tangisan itu tidak ada istilah tasawuf, pengkajian tentang perjalanan menuju Tuhan, tetapi dalam tangisan terhadap Al-Husain as telah terangkum semua nilai tasawuf, spirituali...

Problem Kebebasan, Aliran Pemikiran dan Kebahagiaan

  Hasrat manusia yang tidak bisa dilepaskan dan sudah menjadi tabiatnya untuk mencari kebebasan. Siapapun dan di mana pun selalu ada semacam gerakan dan perjuangan untuk pembebasan dalam satu masyarakat jika terjadi sejenis pengekangan. Manusia yang sudah mulai berpikir dan merasakan dirinya terkungkung dan dibatasi akan memberontak terhadap apa saja yang membuatnya terbatasi. Merenungi kebebasan akan banyak diksi yang muncul perlu untuk diperbandingkan satu sama lain diantaranya: pembatasan, kemerdekaan, tanggung jawab, aturan, perusakan, dan kesewenang-wenangan. Persoalan yang paling jelas bagi kebebasan adalah tidak adanya kemutlakan bebas melakukan apa saja semau kita. Selalu ada batasan yang mengekang manusia. Batasan itu berupa aturan yang sudah disepakati bersama dalam masyarakat, atau batasan manusia agar tidak menghacurkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, persoalan kebebasan mutlak adalah hal yang utopis. Akal manusia selalu menolaknya. Paling tidak, batasan kebebasan m...

Berpegang dan Berlepas (Tawalla dan Tabarra')

Dalam pusaran sejarah, selalu muncul dikotomi-dikotomi yang saling berlawanan. Memang cara berpikir itu tidak mesti biner, hitam dan putih. Terkadang dalam melihat realitas diperlukan cara berpikir bertingkat. Namun, masing-masing cara berpikir memiliki tempat masing-masing. Kita tidak mungkin melihat kontradiksi dalam bentuk tingkatan. Kontradiksi selalu meniscayakan dua hal yang tidak memiliki jalan tengah. Antara konsep ‘ada’ dan ‘tiada’, tidak memiliki jalan tengah ( law of excluded middle). Namun, dalam tempat lain, realitas harus dilihat secara bertingkat, seperti suhu panas, ukuran-ukuran, dan lain-lain. Selalu banyak perbandingan ke atas atau ke bawah. Banyak yang keliru mengkritik cara berpikir biner itu terlalu simplisistik. Alih-alih menggunakan cara berpikir itu secara tidak sadar. Dualisme dalam pikiran memang tidak bisa dihindarkan, karena watak pikiran yang selalu mencari esensi sesuatu, hakikat, dan definisinya. Semua itu tidak bisa dipahami akal manusia tanpa membed...

Memahami Wabah sebagai Kebaikan (Bagian Kedua)

T elah sejak lama para ulama dari Islam maupun agama abrahamik sebelumnya mendiskusikan masalah bencana yang datang menimpa manusia. Dalam filsafat Skolastik, terdapat pembahasan khusus mengenai keburukan alam semesta yang dinamai Teodisi. Berlanjut ke Islam, para ahli kalam juga mempunyai argumentasi rasional dan pemaknaan terhadap keburukan dan bencana yang menimpa manusia, yang sebelumnya sudah dijelaskan di bagian pertama.                Permasalahan ini banyak yang membuat orang tidak mempercayai lagi agama bahkan Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Wabah atau bencana tidak mungkin terjadi bersamaan dengan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan, karena jika Tuhan mahakuasa pastilah Dia menghilangkan semua keburukan dan wabah itu keburukan, maka Tuhan tidaklah mahakuasa atau tidak mahabaik. Pemahaman seperti itu jelas sangat keliru. Karena menentukan keburukan pada wabah itu tidak berdasar sama sekali. Tidak setiap yang menyebabka...

Kesucian atau Kekuatan Jiwa

               Perbedaan antara spiritualitas Islam dan spiritualitas selainnya adalah penekanannya pada kesucian. Gerakan spiritualitas yang berkembang pada agama-agama non-muslim maupun sebagian sekte tarekat Islam, kebnayakan mengutamakan penguatan jiwa bukan penyuciannya. Keduanya hal yang berbeda. Penguatan jiwa bisa dianalogikan seperti berolahraga untuk membentuk otot-otot fisik.  Tujuan penguatan jiwa membentuk kekuatan yang melampaui alam bendawi. Kekuatan yang dihasilkan badan ditandai dengan otot-otot yang kekar, sedangkan kekuatan jiwa ditandai dengan pengendalian fisik. Seseorang yang memiliki jiwa yang kuat bisa saja memiliki kemampuan khusus, membaca pikiran, membuat karamat-karamat, atau mengendalikan benda yang ada, dan sebagainya.                Tujuan utama spiritualitas Islam bukanlah menguatkan, tetapi membersihkan noda-noda dalam jiwa. Seiring dengan kesucian jiwa, spirit...

Menjadi Manusia Aktif

Dalam hidup, kita akan banyak menghadapi fenomena yang sangat mempengaruhi diri kita. Ada fenomena yang jelas-jelas mengarah pada diri kita seperti perkataan atau sikap orang lain, di satu sisi ada fenomena yang diam tetapi begitu memberikan kesan mendalam, bisa kita temukan pada benda-benda mati, atau kejadian yang terjadi di sekitar kita, orang yang salin tolong menolong, kejahatan, dan sebagainya.       Semua yang ada di alam semesta ini saling terhubung satu sama lain, dan mempengaruhi setiap individu dengan caranya sendiri. Sebagian besar peristiwa karena reaksi dari yang lain, misalnya hukum permintaan dan penawaran ekonomi yang saling bereaksi untuk mengarah pada keseimbangan, air laut yang senantiasa menguap setelah bereaksi dengan matahari, kemudian menjadi hujan, dan seterusnya. Namun, berbeda dengan manusia, mereka memiliki keunikan tersendiri dalam melakukan reaksi dengan sekitarnya. Sebagian manusia bereaksi dengan kelaziman kultur dan pengalaman yang ...