Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Manusia

Duka Asyura, Tangisan, dan Perjuangan

Tangisan Asyura adalah ungkapan rasionalitas, tangisan yang membanjiri kezaliman di dalam diri. Tangisan itu menjadi petunjuk bagi perlawanan diri, bukan sekadar perlawanan terhadap pembunuh-pembunuh Al-Husain as. Banyak tangisan dan duka yang datang di sela-sela kehidupan, tetapi tangisan terhadap Al-Husain memiliki semangat yang berbeda dari tangisan lainnya. Ini bukan jeritan kelemahan atas diri, tetapi persiapan untuk kebangkitan jiwa yang tertatih. Asyura mengungkakan semua dimensi kebijaksanaan hidup. Bukan hanya kesedihan, atau ratapan tanpa makna. Di dalam itu semua terdapat persiapan untuk melawan diri, menghilangkan ego, cinta dunia, menghilangkan ikatan-ikatan yang menjatuhkan. Pengorbanan Al-Husain membentuk pemikiran Husainisme bagi pengikutnya, mengorbankan dirinya, menghilangkan keakuan. Di dalam tangisan itu tidak ada istilah tasawuf, pengkajian tentang perjalanan menuju Tuhan, tetapi dalam tangisan terhadap Al-Husain as telah terangkum semua nilai tasawuf, spirituali...

Memahami Wabah sebagai Kebaikan (Bagian Kedua)

T elah sejak lama para ulama dari Islam maupun agama abrahamik sebelumnya mendiskusikan masalah bencana yang datang menimpa manusia. Dalam filsafat Skolastik, terdapat pembahasan khusus mengenai keburukan alam semesta yang dinamai Teodisi. Berlanjut ke Islam, para ahli kalam juga mempunyai argumentasi rasional dan pemaknaan terhadap keburukan dan bencana yang menimpa manusia, yang sebelumnya sudah dijelaskan di bagian pertama.                Permasalahan ini banyak yang membuat orang tidak mempercayai lagi agama bahkan Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Wabah atau bencana tidak mungkin terjadi bersamaan dengan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan, karena jika Tuhan mahakuasa pastilah Dia menghilangkan semua keburukan dan wabah itu keburukan, maka Tuhan tidaklah mahakuasa atau tidak mahabaik. Pemahaman seperti itu jelas sangat keliru. Karena menentukan keburukan pada wabah itu tidak berdasar sama sekali. Tidak setiap yang menyebabka...

Apakah Keburukan Diciptakan? (Bagian Pertama)

Wabah Covid-19 yang menimpa kita ini sangat mencemaskan masyarakat global. Bukan hanya menyebabkan kematian di pelbagai tempat, tetapi kemiskinan dan kejahatan. Kita dilanda musibah yang begitu pedih, bahkan sebagian orang tidak mampu menanggungnya. Alih-alih bersabar atas musibah itu, beberapa tergugah dengan sang pencipta alam semesta yang menurutnya harus menuntaskan semua keburukan, kejahatan, dan kemelaratan di dunia ini.  Banyak pertanyaan dicecarkan kepada orang-orang yang bertuhan, Siapa yang menciptakan musibah ini? di banyak pelosok terjadi kemiskinan, penyakit dan sebagainya, mungkinkah semua itu terjadi tanpa izin dari pencipta alam semesta? apakah Dia sudah melepaskan sifat mahabaik-Nya atau mahakuasa-Nya tak mampu menghalangi bencana itu terjadi? Melihat kejadian itu, salah satu agama kuno memberikan solusi dengan dua pencipta alam semesta. Satu yang menciptakan kebaikan dan satunya lagi khusus menciptakan keburukan, bencana, kejahatan. Kebaikan dan keburukan memang...

Filosofi Kopi dan Buku

Kopi ada yang sangat pekat dan hitam sampai membuat jantung berdebar-debar, ada pula yang begitu lembut sedikit kecoklatan tak begitu berpengaruh ketika diminum. Kopi memiliki tingkatan-tingkatan tetapi tak diketahui mana tingkatan yang paling tinggi mencapai titik kulminasi dan titik terendahnya. Setiap kopi pasti memiliki perbandingan dengan yang lebih kuat dan yang lebih lemah. Hidup juga begitu, ada tingkatan-tingkatan. Ketika menghadapi kesulitan seseorang akan merasa dirinya tidak sanggup menghadapi kesulitan itu, padahal masih banyak yang lebih sulit dari dia. Ketika kaya, orang lupa kalau masih ada yang miskin dan sangat membutuhkan untuk dibantu. Jadi tak perlu menahbiskan diri yang 'paling' di antara yang lain. Demikian pula buku, memiliki lembaran-lembaran yang sangat melelahkan untuk dibaca, jika tanpa semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Tetapi, buku tetap berbeda dengan kopi yang masih memiliki awal dan akhir diantara lembaran-lembarannya. Sebagian besar pe...

Menjadi Manusia Aktif

Dalam hidup, kita akan banyak menghadapi fenomena yang sangat mempengaruhi diri kita. Ada fenomena yang jelas-jelas mengarah pada diri kita seperti perkataan atau sikap orang lain, di satu sisi ada fenomena yang diam tetapi begitu memberikan kesan mendalam, bisa kita temukan pada benda-benda mati, atau kejadian yang terjadi di sekitar kita, orang yang salin tolong menolong, kejahatan, dan sebagainya.       Semua yang ada di alam semesta ini saling terhubung satu sama lain, dan mempengaruhi setiap individu dengan caranya sendiri. Sebagian besar peristiwa karena reaksi dari yang lain, misalnya hukum permintaan dan penawaran ekonomi yang saling bereaksi untuk mengarah pada keseimbangan, air laut yang senantiasa menguap setelah bereaksi dengan matahari, kemudian menjadi hujan, dan seterusnya. Namun, berbeda dengan manusia, mereka memiliki keunikan tersendiri dalam melakukan reaksi dengan sekitarnya. Sebagian manusia bereaksi dengan kelaziman kultur dan pengalaman yang ...