Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Filsafat

Sekelumit Tentang Filsafat Jiwa

Ditengah kegelisahan, kemurungan, kebehagiaan dan semua perasaan yang datang silih berganti, hal itu tidak pernah disebabkan sama sekali oleh hal-hal di luar kita. Perasaan itu bahkan bisa datang sekejap dan hilang juga dengan tiba-tiba tanpa proses yang mendahuluinya. Antara satu rasa dengan rasa yang lain bahkan saling berkontradiksi. Perasaan tidak senang tidak perlu datang dengan gangguan dari luar. Bahkan cukup dengan mengkhayalkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada diri kita, sudah sangat mengganggu hidup kita. fenomena-fenomena itu menunjukkan sangat jelas perbedaan antara jiwa dan badan manusia. Namun, bagaimana para filsuf menjelaskan pikiran dan sesuatu yang muncul dari jiwa manusia itu datanng? Mereka berbeda pendapat tentang sumber dari pikiran itu, tetapi semua bersepakat mengenai adanya khayalan dan rasa-rasa di dalam jiwa. Bersikukuh menolak kejadian yang sangat jelas di dalam diri kita, sangatlah musykil. Kecuali bagi orang-orang yang sama sekali memiliki pikiran te...

Memahami Wabah sebagai Kebaikan (Bagian Kedua)

T elah sejak lama para ulama dari Islam maupun agama abrahamik sebelumnya mendiskusikan masalah bencana yang datang menimpa manusia. Dalam filsafat Skolastik, terdapat pembahasan khusus mengenai keburukan alam semesta yang dinamai Teodisi. Berlanjut ke Islam, para ahli kalam juga mempunyai argumentasi rasional dan pemaknaan terhadap keburukan dan bencana yang menimpa manusia, yang sebelumnya sudah dijelaskan di bagian pertama.                Permasalahan ini banyak yang membuat orang tidak mempercayai lagi agama bahkan Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Wabah atau bencana tidak mungkin terjadi bersamaan dengan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan, karena jika Tuhan mahakuasa pastilah Dia menghilangkan semua keburukan dan wabah itu keburukan, maka Tuhan tidaklah mahakuasa atau tidak mahabaik. Pemahaman seperti itu jelas sangat keliru. Karena menentukan keburukan pada wabah itu tidak berdasar sama sekali. Tidak setiap yang menyebabka...

Dua Cara Memahami Wujud

Salah satu terma yang paling krusial dalam filsafat adalah Wujud, khususnya Filsafat Islam. Wujud berasal dari bahasa arab yang artinya keberadaan, eksistensi, atau being . Cukup mudah untuk memahaminya, tetapi sangat sulit untuk mendalami cabang-cabang pembahasan yang diulas oleh para filsuf. Hal yang terpenting dalam memahami Filsafat ialah pemahaman presisi terhadap terma-terma filsafat yang ada dan penguasaan terhadap analisis logika.     Karenanya, Wujud jika dianalisis lebih dalam, ia mempunyai banyak posisi dan perbedaan  dalam menggunakan istilahnya. Meskipun, beberapa orang berkomunikasi menggunakan kata itu dengan makna yang sama. Perbedaan dalam memaknai kata bisa menyebabkan miskomunikasi. Oleh karena itu, perlu membahas wujud sebagaimana dalam konteks cara memahaminya.     Wujud banyak dikaji secara dalam, karena merupakan konsep paling mendasar dari semua pemikiran manusia. Watak Filsafat selalu mencari akar dan asas realitas yang disel...

Apakah Keburukan Diciptakan? (Bagian Pertama)

Wabah Covid-19 yang menimpa kita ini sangat mencemaskan masyarakat global. Bukan hanya menyebabkan kematian di pelbagai tempat, tetapi kemiskinan dan kejahatan. Kita dilanda musibah yang begitu pedih, bahkan sebagian orang tidak mampu menanggungnya. Alih-alih bersabar atas musibah itu, beberapa tergugah dengan sang pencipta alam semesta yang menurutnya harus menuntaskan semua keburukan, kejahatan, dan kemelaratan di dunia ini.  Banyak pertanyaan dicecarkan kepada orang-orang yang bertuhan, Siapa yang menciptakan musibah ini? di banyak pelosok terjadi kemiskinan, penyakit dan sebagainya, mungkinkah semua itu terjadi tanpa izin dari pencipta alam semesta? apakah Dia sudah melepaskan sifat mahabaik-Nya atau mahakuasa-Nya tak mampu menghalangi bencana itu terjadi? Melihat kejadian itu, salah satu agama kuno memberikan solusi dengan dua pencipta alam semesta. Satu yang menciptakan kebaikan dan satunya lagi khusus menciptakan keburukan, bencana, kejahatan. Kebaikan dan keburukan memang...

Berpikir Sederhana (Refleksi)

Pernah tidak, melihat orang yang terlalu ribet mikir, berputar-putar, sudah menjelaskan di ulang lagi penjelasannya. Penyakit ini banyak dijangkit orang-orang yang terlalu ‘berfilsafat’, dalam tanda kutip. Saya banyak menemui begitu, ditengah pelajaran atau bahkan kuliah dari dosen-dosen yang berlatarbelekang filsafat, beberapa sedihnya juga terjangkit. Saya melihat ini karena watak filsafat yang selalu berpegang pada prinsip logika, biasa kita sebut ‘identitas’. Prinsip ini memang sangat sulit untuk ditolak, bahkan mustahil. Tidak perlu untuk dijelaskan karena sudah sangat jelas, dan takutnya saya akan mengikuti dosen saya yang menanyakan yang sudah jelas-jelas jawabannya. Entah, memang ciri filsafat itu kritis alias selalu mempertanyakan apapun itu. tapi, kelewatan juga kalau mempertanyakan yang sudah sangat jelas sekali, ini bisa membuat kita jengkel. Yah , sama saja satu tambah satu, semua orang sudah pasti tau dua. Kita bisa melihat, sudah pasti. Ini yang terkadang membuatku jen...

Transformasi Realitas

Dulu saya berlarut-larut dalam pikiran, mungkin karena kegelisahan pada masalah filsafat yang selalu menganggu dan mengusik. Filsafat yang selalu memikirkan problem fundamental manusia, orang yang tak kuat untuk berubah-ubah secara radikal dari satu pikiran ke pikiran yang lain, saya yakin akan larut dan mengiang-ngiang dalam pertanyaan yang tak pernah berhenti dan terus mencecar. Itu memang salah satu hal positif yang tak bisa dihindari bagi yang bergaul di alam filsafat. Tetapi, akhir-akhir ini baru saya sadari ternyata kita tidak bisa terus seperti ini. Apalagi dalam bersosial dengan kawan di masyarakat, atau tinggal di suatu tempat dikelilingi peristiwa penting berlalu begitu saja dengan tak acuh.  Kejadian ini saya sebut sebagai transformasi realitas. Alam kejadian di sekitar yang dihadapi sehari-hari sudah tidak lagi dianggap sesuatu yang penting layaknya 'angin  yang lewat'. Kondisi di sekitar hanya menjadi nyata karena dipersepsi oleh indranya, seandainya kelima indran...

Sejarah Singkat Taoisme

Dalam tradisi filsafat Tiongkok, ada kebijaksanaan yang perlu kita pelajari untuk dijadikan sebagai pelajaran kehidupan. Bagi yang beragama Islam, mengambil kearifan dari luar merupakan perintah yang mungkin jarang dilakukan. Kita sering mendengar hadis “ Hikmah adalah harta temuan mukmin, ambillah dimanapun kamu menemukannya ”. Namun, sebagian umat muslim hanya melihat ke dalam tubuh Islam saja, jarang kita temui usaha pemahaman keluar yang mungkin akan banyak hikmah bisa diambil disitu. Salah satu hikmah dari luar yang bisa kita ambil adalah Taoisme atau Daoisme yang ban yak mempengaruhi filosofi hidup masyarakat Tiongkok hingga sekarang. Pada awalnya, sekitar tiga hingga lima abad sebelum masehi atau lebih awal lagi, pemahaman ini lebih bersifat filosofi hidup dan individualistik. Pelopor pemikiran ini, Lao Tzu, merupakan seorang pustakawan kerajaan yang saat itu berkuasa. Beliau banyak mengambil ilmu dari buku-buku dan pemikiran Konfusianisme yang sebelumnya lebih dahulu berkembang...