Langsung ke konten utama

Berpikir Sederhana (Refleksi)

Pernah tidak, melihat orang yang terlalu ribet mikir, berputar-putar, sudah menjelaskan di ulang lagi penjelasannya. Penyakit ini banyak dijangkit orang-orang yang terlalu ‘berfilsafat’, dalam tanda kutip. Saya banyak menemui begitu, ditengah pelajaran atau bahkan kuliah dari dosen-dosen yang berlatarbelekang filsafat, beberapa sedihnya juga terjangkit. Saya melihat ini karena watak filsafat yang selalu berpegang pada prinsip logika, biasa kita sebut ‘identitas’.

Berpikir Sederhana (Achmad Fadel)


Prinsip ini memang sangat sulit untuk ditolak, bahkan mustahil. Tidak perlu untuk dijelaskan karena sudah sangat jelas, dan takutnya saya akan mengikuti dosen saya yang menanyakan yang sudah jelas-jelas jawabannya. Entah, memang ciri filsafat itu kritis alias selalu mempertanyakan apapun itu. tapi, kelewatan juga kalau mempertanyakan yang sudah sangat jelas sekali, ini bisa membuat kita jengkel. Yah, sama saja satu tambah satu, semua orang sudah pasti tau dua. Kita bisa melihat, sudah pasti. Ini yang terkadang membuatku jengkel dan malas untuk mendengar kuliah lagi. Tapi, anehnya dibalik itu, sewaktu dosen menanyakan yang sudah sangat jelas itu, banyak teman-teman mahasiswa saya yang tidak menjawab dan kelihatan bingung. Entahlah, apa bingung karena terlalu jelas atau bingung karena tidak tau mau jawab apa. Mau jawab apa coba? Kalau jawabannya sudah sangat jelas.


Selain itu, dalam menjelaskan pelajaran, meskipun sudah dibantu dengan powerpoint, masih saja poin itu diulang-ulang terus. Memang ini ada manfaatnya sih bagi orang-orang yang goblok dan telat mikir. Mereka akan paham kalau sudah di jelaskan berkali-kali. Tapi, saya kira teman-teman saya tidak segoblok itu memahami filsafat mudah yang dipersulit. Iya, maksudku filsafat itu sangat mudah kalau dijelaskan dengan cara sederhana dan bahasa yang familiar didengar. Saya meyakini bukan filsafat yang sulit, tapi istilah yang dipakai filsafat yang bikin ribet. 


Dulu, saya memang termasuk suka dengan istilah-istilah filsafat yang sudah saya pahami, lalu saya pamerkan pada orang-orang yang belum paham. Ternyata, itu tidak ada gunanya sama sekali. Ilmu itu kalau bukan dipraktekkan, ya disebarkan. Toh, menyulitkan orang-orang tidak bermafaat dan sangat bertentangan dengan adab. Bukan sok adab, selain takabbur, ilmu juga tidak akan sampai dikepala orang. Sama saja berbicara dengan tembok yang tak akan mencerna pikiran kita. Tembok Cuma memantulkan suara kembali, tapi tak pernah sama sekali mengolahnya, apalagi mengembangkannya.


Masih banyak, keribetan atau tele-tele yang perlu dihilangkan, dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. Kita perlu untuk hidup sederhana dan berpikir sederhana. Maksudku, bukan masa bodoh dan tidak memikirkan secara kritis apa-apa yang sudah mapan. Tapi, berpikir sesuai jalurnya dan tak perlu melebih-lebihkan. Terkadang yang berlebihan membuat bingung atau malah menganggu kenyamanan. Intinya, Berpikir sederhana adalah tidak membuat pusing diri anda sehingga anda bosan dan terima kasih.

Salam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...