Langsung ke konten utama

Filosofi Kopi dan Buku

Kopi ada yang sangat pekat dan hitam sampai membuat jantung berdebar-debar, ada pula yang begitu lembut sedikit kecoklatan tak begitu berpengaruh ketika diminum. Kopi memiliki tingkatan-tingkatan tetapi tak diketahui mana tingkatan yang paling tinggi mencapai titik kulminasi dan titik terendahnya. Setiap kopi pasti memiliki perbandingan dengan yang lebih kuat dan yang lebih lemah.


Filosofi Kopi dan Buku (achmad fadel)


Hidup juga begitu, ada tingkatan-tingkatan. Ketika menghadapi kesulitan seseorang akan merasa dirinya tidak sanggup menghadapi kesulitan itu, padahal masih banyak yang lebih sulit dari dia. Ketika kaya, orang lupa kalau masih ada yang miskin dan sangat membutuhkan untuk dibantu. Jadi tak perlu menahbiskan diri yang 'paling' di antara yang lain.

Demikian pula buku, memiliki lembaran-lembaran yang sangat melelahkan untuk dibaca, jika tanpa semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Tetapi, buku tetap berbeda dengan kopi yang masih memiliki awal dan akhir diantara lembaran-lembarannya. Sebagian besar pembaca buku kalah dengan lembaran itu, putus asa ditengah jalan padahal belum mencapai akhir perjalanannya. Bahayanya, terkadang ilmunya belum tuntas tapi sudah menilai buku itu.

Demikian pula kehidupan, banyak usaha dan kerja keras yang belum diselesaikan dengan baik, sudah berhenti dan putus asa. Atau mungkin mengira usahanya tidak akan membuahkan hasil padahal setiap awal akan ada akhir, tak mungkin tak mendapatkannya di akhir. Demikian pula buku yang ditekuni hingga selesai, selalu ada buah di akhirnya.


Kolaka, 23 Juni 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...