DULU, sewaktu orang-orang masih berjalan kaki untuk ke sekolah, masih sangat sulit untuk mendapatkan bahan bacaan, dan masih memerlukan tenaga yang banyak demi mencari Ilmu baru. Orang-orang memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mencari Ilmu pada saat itu.
Bahan keilmuan begitu sulit dicari. Perpustakaan kalau pun ada, jaraknya jauh ditengah kota. Menyedihkan bagi yang tinggal di pedalaman desa, tetapi memiliki ingin tahu yang tinggi tanpa dukungan lingkungan dan tempat mencari Ilmu yang lebih luas. Hasilnya, ilmu yang didapati hanya apa yang ada di desanya saja. Dia mungkin menjadi juara satu di desanya, tapi sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan orang-orang kota yang barangkali tidak lebih kuat semangatnya. Orang desa itu hanya mengulang-ulang apa yang sudah dipelajarinya. Itu kisah orang desa. Mereka mempunyai ilmu yang dalam dan paham betul yang mereka pelajari, tapi tetap saja wawasan mereka sangat terbatas.
***
![]() |
| Produksi Pribadi |
Sekarang, orang desa itu sudah berubah. Jaringan dipasang di tiap tiang-tiang sudut jalan desa. Meskipun tidak semua desa, tapi nyatanya hampir semua bisa menikmati masa digital ini. Internet sudah bisa digunakan, dimana tempat semua ilmu dicurahkan. Perdebatan dan dialektika terjadi, bukan hanya antar-orang desa saja, tetapi antarpelosok dunia. Orang yang berada jauh beribu-ribu kilometer mendiskusikan dan menyimpan ilmunya ke ruang yang tak terbatas. Disinilah, terjadi kelimpahan (abundance) pengetahuan. Tapi tahukah kamu apa yang terjadi? Kelimpahan bukan malah mencerdaskan pengguna internet. Yang terjadi justru kemalasan dan hilangnya konsentrasi. Lalu jika ini terus berlanjut akan menyebabkan kecanduan yang luar biasa. Ilmu yang dipahami menjadi dangkal dan permukaan saja.
Pertama, Kemalasan. Pengguna internet, termasuk saya yang menggunakan blog ini untuk membagikan cerita dan pengalaaman, adalah orang-orang yang begitu terpukau dengan kecanggihannya. Kita menyadari begitu banyak pengetahuan yang bisa dikeruk di sini. Tetapi, setaelah enak-enak mengeruk pengetahuan, lantas kita lupa kalau selama ini kira hanya mengeruk bukan memakan atau mengonsumsi apa yang dikeruk itu. Kita terus-menerus berselancar, berpindah dari satu web ke web yang lain dan sampai pada tema yang begitu asing dan berbeda. Memang itu akan memberikan insight luas mungkin, tetapi itu akan begitu saja terlupakan setelah beberapa jam setelahnya. Akhirnya akan muncul keasyikan internet yang datang lalu melupakan kebutuhan-kebutuhan lain di dunia nyata. Disinilah kemalasan datang, internet menjadi wabah yang sangat merusak peradaban jika tak digunakan semestinya dan sebatasnya.
Kedua, terlalu banyaknya informasi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang begitu banyak dalam sekejap. Hal ini menyebabkan hilangnya fokus untuk meneliti dan memahami sesuatu secara mendalam di internet. Situasi ini memerlukan kontrol diri. Karena mustahil untuk setiap orang untuk menguasai semua cabang Ilmu dengan mendalam. Setiap orang perlu menentukan fokus Ilmu, apalagi ditengah kelimpahan informasi seperti ini. Disinilah kita harus berkorban untuk tidak mengetahui apa yang bukan fokus kita. Seseorang yang ingin fokus pada macam-macam Ilmu akan menjadi buyar dan tidak menghasilkan buah apa-apa—berupa ilmu yang istimewa. Itulah mengapa ditengah kelimpahan ini kita perlu untuk mengorbankan untuk memenangkan. Artinya, membiarkan untuk tidak mengetahui apa yang bukan konsen kita, demi mendapatkan hasil yang terbaik. As simple as that!
***
Saya membaca novel Penelusuran Benang Merah, yang mencaritakan pencarian detektif terkenal, Sherlock Holmes. Di sana ada satu pelajaran yang membuat Holmes begitu cerdas menginduksi temuan-temuan yang ada. Dia bisa memgetahui ciri-ciri pelaku: asal, usia, tinggi, dan bahkan gerak-gerik yang dilakukan saat beraksi melakukan kejahatan. Semua itu dia analisa dari tanda-tanda yang mungkin dan menghilangkan kemustahilan-kemustahilan yanh terjadi dari tanda-tanda itu. Misalnya, dia bisa mengetahui jenis rokok dengan cukup melihat abu rokok, karena dia sudah meneliti dan menulis khusus tentang abu rokok. Dia juga bisa mengetahui jenis tanah hanya cukup memandangnya sekilas.
Dia melakukan penelitian mendalam pada apa yang berkaitan dengan konsennya. Dia membaca sejarah kejahatan dan mengambil pola kejahatan yang ada. Intinya, jangan bertanya padanya tentang kejahatan, saking mendalamnya pengetahuan dia, dia bukan detektif yang langsung turun lapangan kalau terjadi kejahatan, dia adalah tempat konsultasi para detektif-detektif. Oleh karena itu dia disebut detektif konsultan.
Manariknya, wawasan dia tentang kejahatan sangat berbanding terbalik pada pengetahuan abstrak, seperti filsafat dan apa yang berkaitan dengan konsen dia. Watson, teman dokternya, pernah bertanya tentang Thomas Carlyle, seorang kritikus sosial. Holmes sama sekali tidak mengetahui tentang dia. Holmes mengakui, kalau dia tidak banyak mempelajari diluar konsennya.
Dia tidak mendalami satu disiplin, tetapi dia begitu mendalam dan fakih pada bidang detektif. Sekarang, kita tinggal memilih untuk menguasai semua ilmu secara permukaannya saja, atau memiliki pengetahuan mendalam pada satu bidang lalu mengorbankan yang lain.

Komentar
Posting Komentar