Langsung ke konten utama

Menjadi Manusia Aktif

Dalam hidup, kita akan banyak menghadapi fenomena yang sangat mempengaruhi diri kita. Ada fenomena yang jelas-jelas mengarah pada diri kita seperti perkataan atau sikap orang lain, di satu sisi ada fenomena yang diam tetapi begitu memberikan kesan mendalam, bisa kita temukan pada benda-benda mati, atau kejadian yang terjadi di sekitar kita, orang yang salin tolong menolong, kejahatan, dan sebagainya.


Menjadi Manusia Aktif (achmadfadel.xyz)

 

   Semua yang ada di alam semesta ini saling terhubung satu sama lain, dan mempengaruhi setiap individu dengan caranya sendiri. Sebagian besar peristiwa karena reaksi dari yang lain, misalnya hukum permintaan dan penawaran ekonomi yang saling bereaksi untuk mengarah pada keseimbangan, air laut yang senantiasa menguap setelah bereaksi dengan matahari, kemudian menjadi hujan, dan seterusnya. Namun, berbeda dengan manusia, mereka memiliki keunikan tersendiri dalam melakukan reaksi dengan sekitarnya. Sebagian manusia bereaksi dengan kelaziman kultur dan pengalaman yang sudah ada, sebagian lagi bereaksi secara aktif dengan proses pemahaman akibat dari tindakan, kebergantungan antarunsur alam, kebahagiaan semua makhluk. Ketiganya menjadi pertimbangan dalam bereaksi untuk menentukan apa yang harus dilakukan.

    Oleh karena itu, kita sudah mendapatkan dua jenis manusia, yaitu reaktif dan aktif. Karakteristik yang dimiliki oleh manusia reaktif lebih cenderung konformitif terhadap apa yang sudah terjadi. Perbuatan mereka merupakan ikutan atau turunan dari kejadian yang ada di luar, karenanya setiap tindakan dilakukan atas dasar reaksi semata, bukan dengan pertimbangan aktif untuk melakukan perubahan dan melawan tradisi yang menjadi sub quo. Artinya, manusia reaktif cenderung bersenang-senang dengan apa yang sudah ada, dan kurang memiliki mental untuk mengubah nasib, karena selalu terpengaruh oleh situasi sekitar, seperti orang tua yang kurang baik, saudara, kondisi rumah tangga, dan pergaulan yang boleh dibilang semua itu tidak membawa pada kesempurnaan dirinya. Nah, pada kondisi seperti ini manusia reaktif akan ikut-ikutan tidak baik, tetapi manusia aktif tetap mencari jalan keluar dengan mengubah diri sendiri di tengah kemelut yang tidak mendukungnya.

    Manusia reaktif selalu memerhatikan sekitar untuk direspon sesuai tradisi yang sudah ada, tetapi manusia aktif memerhatikan sekitar untuk mengubahnya dengan cara yang benar-benar efektif meskipun sangat asing dalam tradisi masyarakat. Manusia aktif akan terus mencari dan membuka pengetahuannya ke siapapun dan dimanapun, setelah menemukan pengetahuan mereka tidak langsung menerimanya buta-buta tanpa memilah mana yang penting dan baik dalam situasi zamannya. Saya mengira menerima berbagai perspektif bukan untuk menemukan mana yang paling benar lalu mengikutinya, karena kebenaran akal sangat sulit menemukan itu dan membedakannya dengan kebatilan. Setiap aliran pemikiran akan membuktikan bahwa dirinyalah yang paling benar. Mungkin ini yang dimaksud oleh Socrates sebagai pencarian kebijaksanaan, bukan pencarian kebenaran.

    Mencari kebijaksanaan salah satu cara aktif dalam mereaksi kejadian sekitar. Kebijaksanaan sulit untuk didefinisikan secara sederhana, terkadang ada yang menyamakan dengan kemuliaan, kebaikan, kebenaran, dan pengertian yang agak mririp. Manusia mencari kebijaksanaan, menemukannya, kemudian memahami kebijaksanaan setelah menemukannya. Dalam bahasa indonesia kata ini berasal dari kata ‘bijak’ yang artinya karakter yang tepat dan pas, biasanya dalam memilih atau menentukan sesuatu. Seseorang yang bijak bukanlah pencari kebijaksanaan, kalau mereka sudah merasa bijak, untuk apa dicari? Kebijaksanaan dicari dengan pengalaman dan pembelajaran.

    Setiap pengalaman tidak perlu diungkapkan, Ia menjadi jelas dengan sendirinya dalam diri seseorang. Baik pengalaman indrawi atau batin, keduanya tak terjelaskan kepada siapapun kecuali bagi orang yang sudah mengalaminya. Pengalaman pada dasarnya batin dan ekspresi jiwa yang tersimpan dan sangat berkesan. Antara satu pengalaman dan pengalaman lainnya memiliki efek atau ‘rasa’ yang berbeda, bahkan pada setiap orang.

    Akhirnya, manusia aktif harus mengerti dan memahami itu semua. Kebijaksanaan, Pengalaman, dan Pembelajaran sebagai resources dirinya dalam menentukan dengan bijak apa yang akan terjadi. Intinya manusia aktif senantiasa melakukan atas dorongan dalam diri untuk mencapai kebaikan tertinggi, bukan dorongan dari luar. Kejadian luar sama sekali tidak mempengaruhi kecuali sebagai pengalaman dan pembelajaran, sisanya manusia mempunyai keaktifan menentukan dirinya sendiri.

Kolaka, 23 Juni 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...