Dalam tradisi filsafat Tiongkok, ada kebijaksanaan yang perlu kita pelajari untuk dijadikan sebagai pelajaran kehidupan. Bagi yang beragama Islam, mengambil kearifan dari luar merupakan perintah yang mungkin jarang dilakukan. Kita sering mendengar hadis “Hikmah adalah harta temuan mukmin, ambillah dimanapun kamu menemukannya”. Namun, sebagian umat muslim hanya melihat ke dalam tubuh Islam saja, jarang kita temui usaha pemahaman keluar yang mungkin akan banyak hikmah bisa diambil disitu.
![]() |
Salah satu hikmah dari luar yang bisa kita ambil adalah Taoisme atau Daoisme yang banyak mempengaruhi filosofi hidup masyarakat Tiongkok hingga sekarang. Pada awalnya, sekitar tiga hingga lima abad sebelum masehi atau lebih awal lagi, pemahaman ini lebih bersifat filosofi hidup dan individualistik. Pelopor pemikiran ini, Lao Tzu, merupakan seorang pustakawan kerajaan yang saat itu berkuasa. Beliau banyak mengambil ilmu dari buku-buku dan pemikiran Konfusianisme yang sebelumnya lebih dahulu berkembang. Akan tetapi, ciri keduanya berbeda.
Konfusianisme
lebih cenderung pada etika berhubungan, sedangkan Taoisme mengambil filosofi hidup yang harmonis
dan seimbang di antara dualisme di dalam
unsur-unsur dunia ini. kata kunci pertama memahami Taoisme adalah
“keseimbangan” yang tercermin dalam simbol Yin dan Yang. Simbol ini memiliki
penafsiran yang sangat dalam dan luas, bukan saja dalam praktik menghadapi
kehidupan, bahkan dalam menganalisa kesehatan dan teknik lainnya yang bisa
diambil lalu diterapkan.
Dengan
prinsip hidup yang Lao Tzu temukan, beliau kemudian mengamati situasi sosial
politik di sekitarnya. Beliau merasa sangat kecewa dengan praktik korup yang
terjadi, sehingga berniat pergi meninggalkan kotanya. Sebelum beliau berangat
meninggalkan pintu gerbang kota, Lao Tzu sempat mengajarkan filosofi Tao kepada
penjaga gerbang kota tersebut. Beruntungnya penjaga itu menuliskan kembali apa
yang dibicarakan oleh Lao Tzu ke dalam 81 Bab dan 500 huruf. Kitab inilah yang
kemudian menjadi panduan utama dalam Taoisme secara filosofis dan menjadi Holy
Book bagi babak sejarah selanjutnya setelah Chuang Tzu membuat syarah
(komentar) atas kitab tersebut lalu menjadi Agama yang terlembaga sederajat
dengan Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, dan lainnya.
Oleh karena
itu, menurut saya perlu dipisahkan aspek kajian dalam memahami Taoisme ini:
sebagai pandangan filosofi individualistik dan belief system yang telah
membentuk lembaga Agama dan diyakini secara sosial. Walaupun memang tidak bisa
dipungkiri keduanya bisa saja sama-sama menawarkan pandangan dunia (world view)
dan Ideologi yang mengarah pada kemestian praktis. Hanya saja jelas berbeda
ketika melihat sisi cakupannya yang telah menjadi terlembaga secara sosial dan
masih menjadi ranah kepercayaan yang dibangun secara individual semata.
Terkadang banyak kita temui penambahan (bid’ah) ajaran, baik secara konseptual maupun praktik, yang sudah sangat berbeda dengan ajaran aslinya. Hal ini terjadi (salah satunya) karena kontekstualisasi atau penyesuaian dengan kultur setempat dan momen zaman yang sudah sangat berbeda. Hal ini bukan hanya terjadi pada Taoisme tetapi juga pada semua agama yang ada saat ini. Lao tzu, sepanjang pembacaan, tidak pernah mengakui diri sebagai nabi. Akan tetapi, dalam perkembangannya kenabian ditahbiskan kepadanya karena telah sangat berjasa dalam membentuk institusi keagamaan yang disusun oleh tokoh-tokoh setelahnya, yang membuat komentar berjilid-jilid kitab suci Tao Te Ching. Akhirnya, terbentuklah dua mazhab besar yang menafsirkan seperti Zheng Yi dan Quanzhen. Keduanya lagi akan menghasilkan puluhan sekte-sekte lagi. Hal ini dapat kita jumpai dalam Islam seperti Ahlusunnah dan Syiah, yang kemudian masing-masing di dalamnya terbagi lagi dalam mazhab fikih dan kalam.

Komentar
Posting Komentar