Dulu saya berlarut-larut dalam pikiran, mungkin karena kegelisahan pada masalah filsafat yang selalu menganggu dan mengusik. Filsafat yang selalu memikirkan problem fundamental manusia, orang yang tak kuat untuk berubah-ubah secara radikal dari satu pikiran ke pikiran yang lain, saya yakin akan larut dan mengiang-ngiang dalam pertanyaan yang tak pernah berhenti dan terus mencecar.
![]() |
Itu memang salah satu hal positif yang tak bisa dihindari bagi yang bergaul di alam filsafat. Tetapi, akhir-akhir ini baru saya sadari ternyata kita tidak bisa terus seperti ini. Apalagi dalam bersosial dengan kawan di masyarakat, atau tinggal di suatu tempat dikelilingi peristiwa penting berlalu begitu saja dengan tak acuh.
Kejadian ini saya sebut sebagai transformasi realitas. Alam kejadian di sekitar yang dihadapi sehari-hari sudah tidak lagi dianggap sesuatu yang penting layaknya 'angin yang lewat'. Kondisi di sekitar hanya menjadi nyata karena dipersepsi oleh indranya, seandainya kelima indranya dihilangkan maka selesai sudah hubungannya dengan hal-hal diluar.
Sebaliknya hilangnya kenyataan itu memunculkan kenyataan lain di dalam dirinya. Transformasi itu bermakna menghilangkan yang satu dan memunculkan yang lain.
Saya tidak memaksudkan orang yang mengalami gangguan psikologis atau delusi jiwa. Orang tersebut sadar kalau konsep adalah konsep, hanya sekadar pengertian-pengertian dalam akal, bukan kenyataan di luar.
Transformasi Realitas adalah kehilangan perhatian dan pemahaman terhadap apa yang terjadi di luar. Seseorang hanya bereaksi atas apa yang terjadi di luar, keaktifan dan pergerakan untuk mengatur dan mengubah apa yang terjadi sudah hilang. Penyebabnya karena keberlarutan di dalam kepala, memunculkan khayal-khayal baik itu rasionalitas atau sekadar fiksi. Perhatian pada semua itu menghilangkan penyelidikan terhadap tanda-tanda yang terjadi diluar.
Hal ini perlu diperhatikan!
Kolaka, 18 Juni 2020
#Refleksi

Komentar
Posting Komentar