Wabah Covid-19 yang menimpa kita ini sangat mencemaskan masyarakat global. Bukan hanya menyebabkan kematian di pelbagai tempat, tetapi kemiskinan dan kejahatan. Kita dilanda musibah yang begitu pedih, bahkan sebagian orang tidak mampu menanggungnya. Alih-alih bersabar atas musibah itu, beberapa tergugah dengan sang pencipta alam semesta yang menurutnya harus menuntaskan semua keburukan, kejahatan, dan kemelaratan di dunia ini.
Banyak pertanyaan dicecarkan kepada orang-orang yang bertuhan, Siapa yang menciptakan musibah ini? di banyak pelosok terjadi kemiskinan, penyakit dan sebagainya, mungkinkah semua itu terjadi tanpa izin dari pencipta alam semesta? apakah Dia sudah melepaskan sifat mahabaik-Nya atau mahakuasa-Nya tak mampu menghalangi bencana itu terjadi?
Melihat kejadian itu, salah satu agama kuno memberikan solusi dengan dua pencipta alam semesta. Satu yang menciptakan kebaikan dan satunya lagi khusus menciptakan keburukan, bencana, kejahatan. Kebaikan dan keburukan memang tidak akan pernah bersatu. Demikian pula kemahakuasaan Tuhan atas segala sesuatu tidak bisa dilepaskan dari 'keburukan dan kejahatan yang terjadi di muka bumi ini.
Sampai sini, muncullah agama dualisme menyelesaikan dilema ini. Agama Zoroaster meyakini pencipta kebaikan dan pencipta keburukan itu berbeda. Kebaikan datang dari Tuhan bernama Ahriman sedangkan kebaikan datang dari Tuhan yang bernama Ahura Mazda.
Ahriman menetapkan semua keburukan yang terjadi di dunia ini. Virus yang melanda kita sekarang ini adalah ulah dari Ahriman. Akan tetapi, kebaikan juga diciptakan dengan ohramzd (Ahura Mazda).
Meskipun keduanya berbeda dan saling berperang, ternyata mereka lahir dari satu rahim yang sama bernama Zurvan. Mungkin dialah tuhan yang paling tinggi, karena menciptakan dua tuhan lagi. Ini justru sangat membingungkan karena, keduanya tidak bisa dianggap sebagai Tuhan. Ia masih memiliki kekurangan, Ahriman memiliki keburukan, sedangkan Ahura Mazda juga diciptakan oleh Zurvan. Padahal, tidak ada tuhan yang diciptakan, kalau ada dia pasti lemah dan tidak layak untuk dianggap tuhan, atau disembah.
Dikotomi itu tentu tidak akan menyelesaikan masalah, justru memunculkan masalah baru. Zurvan ditutup-tutupi sebagai tuhan yang tertinggi tanpa menghubungkannya dengan kejahatan yang ada di dunia ini, bahwa Ahriman sang pencipta keburukan sebenarnya dari dia, sehingga Zurvan memiliki dua kontradiksi dalam dirinya.
Terlepas dari perdebatan itu, filsuf muslim memberikan solusi dari persoalan keburukan. Filsuf memandang keburukan memilik acuan pada realitas konkret, tetapi makna keburukan di alam realitas itu sebenarnya adalah kurangnya kebaikan. Antara kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang bersenyawa pada setiap ciptaan. Semua kemiskinan, penyakit, kematian, memang benar memiliki realitas. Hal itu tidak bisa ditolak bahwa semua realitas itu jga mempunyai sebab. Namun, realitas keburukan bukan realitas yang utuh. Ia memiliki kesenyawaan dengan non-eksistensi (ketiadaan). Oleh karena itu realitas miskin adalah realitas orang yang kurang memiliki harta, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Kekurangan” itu adalah sejenis non-eksistensi yang ditemukan oleh orang miskin tersebut. Pada dasarnya, realitas itu bertingkat-tingkat. Setiap keburukan mendapatkan ukuran ketiadaan dan kebaikan mendapatkan keberadaan dalam tingkatan tertentu. Orang miskin adalah orang yang mendapatkan kekayaan sesuai wadah yang mampu dia tampung sedikit, sehingga disebut miskin. Wadah itu ditentukan oleh akumulasi banyak sebab. Apakah itu karena tidak bekerja atau bermalas-malasan dan lain sebgainya.
Demikian pula penyakit adalah “tiadanya sehat”. Ia tidak mendapatkan tempat untuk masuknya realitas sehat di dalam dirinya. Artinya, Semua kekurangan di alam semesta yang dianggap sebagai keburukan pada dasarnya pemberian Allah yang “kurang” karena tidak memaksimalkan tempat untuk menerima kesehatan. Ketika kemampuan menerima sehat secara fisik hilang maka kematian akan datang. Pada dasarnya semua hal dari manusia adalah anugerah Allah yang diberikan secara adil sesuai porsi yang pantas diterimanya.
Lalu, muncul pertanyaan dari mana landasannya, bahwa yang sehat, hidup, kaya dan sebagainya itu diidentikkan dengan keberadaan dan lawannya sebagai ketiadaan? Kenapa tidak sebaliknya? Tentu karena setiap keberadaan membutuhkan sebab untuk mengada (mendapatkan eksistensi), sedangkan keburukan dan kekurangan tidak memerlukan sebab untuk mendapatkan wujud. Orang yang miskin tidak perlu berusaha untuk menjadi miskin, sakit, dan keburukan lainnya. Keburukan akan datang dengan sendirinya ketika sebab-sebab kebaikan tidak dilaksanakan. Oleh karena itu, keburukan yang masih mempunyai eksistensi pasti bersifat relatif pada tinjauan tertentu, tetapi memiliki kebaikan jika dilihat pada tinjauan yang lain.
Dengan demikian, semua yang diciptakan pasti disebabkan, tetapi dalam pemberian keberadaan, muncul sisa-sia keberadaan yang tidak diberikan karena ketidakmampuan menerimanya. Sisa-sia itulah yang dikenal sebagai kekurangan-kekurangan, padahal kekurangan itu sama sekali bukan pemberian dari Allah. Melainkan cara pandang kita tentang yang kurang dan tiada.
Untuk menjadi kaya, hidup, sehat, perlu penyebab. Namun, untuk menjadi miskin, mati, dan sakit, tidak perlu apa-apa. Tidak memiliki sudah menjadi tabiat awal manusia sebelum melakukan usaha dan mendapatkan pemberian.

Komentar
Posting Komentar