Kemendasaran Wujud atau Ashalatul Wujud merupakan doktrin penting dalam filsafat Islam yang menjawab pertanyaan tentang apa yang mengisi segala yang ada dalam realitas eksternal dan menjadi hakikat bagi realitas itu. Tanpa landasan atau dasar maka realitas eksternal menjadi tak ada. Penelitian terhadap realitas eksternal dimulai secara indrawi mencerap benda-benda kemudian akal memahami konsep itu lebih dalam sampai jantung hakikat benda, menerobos apa yang sekadar tampak.
Setiap filsuf yang mempunyai kerangka pandangan dunia ontologis pasti memiliki jawaban atas pertanyaan ini, dengan hasil penalaran mereka masing-masing, tentunya. Sebagian masih melakukan perdebatan dalam ranah materi dan benda-benda dengan menganggap yang mendasar adalah air, bahwa yang menjadi sumber adanya yang lain merupakan hasil dari berubahnya air. Lalu, berkembang filsuf alam lain yang menyimpulkan bahwa api, empat unsur dalam bumi, atau bagian terkecil alam (semacam atom) seperti yang dikembangkan oleh Democritos. Mereka merupakan filsuf sebelum Socrates.
Seiring berjalannya sejarah pemikiran, filsafat barat di akhir abad pertengahan dijangkiti empirisisme, yang menganggap ‘materi’ sebagai landasan ontologis realitas eksternal, diikuti para saintis modern yang memercayai atom atau sub atom (kuantum) sebagai bagian mendasar realitas eksternal. Akan tetapi, disisi lain berkembang idealisme ontologis sebagai kontra pemikiran materialisme dengan anggapan: realitas adalah hasil konstruksi ide, terlepas dari keragaman perspektif di dalamnya. Perdebatan itu masih terjadi hingga sekarang tanpa membuahkan hasil yang mendamaikan.
Filsuf Islam sudah sejak awal, khususnya masa Ibnu Sina, melakukan perdebatan yang lebih mendasar dari semua itu (air, api, udara, atom, kuantum, materi, dll). Mereka menganggap itu semua adalah esensi-esensi (mahiyah, quiddity) sebagai jawaban dari ke-apa-an sesuatu. Selain itu, dalam tingkatan yang sederajat dengan esensi, terdapat konsep eksistensi (wujud, being) yang mencerminkan realitas eksternal an sich.
Oleh karena itu, perdebatan hanya terjadi pada ranah esensi atau eksistensi, dengan pertanyaan: yang mana dari keduanya (yang) mendasari realitas eksternal? Apakah esensi atau eksistensi? Perdebatan ini juga membentuk aliran-aliran ontologi menjadi Ashalatul Wujud dan Ashalatul Mahiyah. Filsuf yang mewakili ajaran Aristotelian (peripatetik) meyakini Ashalatul Wujud, sedangkan perwakilan Platonisme memercayai Ashalatul Mahiyyah.
Disini saya akan menjelaskan dalil penganut mazhab Ashalatul Wujud yang terakhir banyak berkembang di kalangan pembelajar filsafat Islam yang mempelajari karya-karya Mulla Sadra dan Ibnu Sina. Berlawanan dari itu, Mazhab Iluminisme meyakini Ashalatul Mahiyah, dipelopori oleh Syekh Syihabuddin Suhrawardi.
Sebenarnya kemendasaran wujud sudah mejadi konsep yang sangat jelas (badihi, aksiomatik). Cukup dengan menghubungkan konsep eksistensi dan realitas eksternal sebagai subjek dan predikat, maka terpahami secara analitis hubungan keduanya. Artinya, realitas eksternal dan wujud itu identik dan tak terpisahkan satu sama lain. Dengan begitu, kedua konsep itu inheren dan tak bisa terpahami tanpa selainnya. Namun, tetap saja masih ada kritik-kritik bagaimanapun jelasnya konsep itu. filsuf mencatat dalil kemendasaran wujud berikut ini.
Dalil Pertama Ashalatul Wujud (Mahiyah Tidak Bisa Mewakili Realitas)
Eksistensi dan Esensi adalah dua hal yang sederajat dalam tingkatannya sehingga Esensi bisa terpahami secara mandiri tanpa eksistensi. Dua konsep ini bisa dibayangkan seperti dua benda, misalnya cat dan tembok. Saya ingin memberikan contoh analogis agar lebih mudah dipahami, tanpa sedikitpun mereduksi makna esensi dan eksistensi itu sendiri. Cat merupakan benda yang terpisah dengan tembok, anggaplah tembok sebagai esensi dan cat sebagai eksistensi (dalam segi keterpisahannya!).
Kalau kita menanyakan, “Apa itu?” kita bisa menjawabnya, “Buku, mobil, rumah, gawai dll”. Namun, pertanyaan, “Adakah itu?” kita seakan-akan menanyakan, “apakah tembok itu tercat?” dengan kata lain, buku, mobil, dan rumah terpisah dari—apakah dia—eksis atau tidak. ‘Buku sebagaimana buku’, berbeda dengan ‘buku sebagaimana keberadaan buku’, dengan begitu esensi selalu membutuhkan eksistensi untuk menempati realitas eksternal (kenyataan). Buku hanya sebagai buku dalam ke-buku-annya, tanpa berhubungan apakah buku itu ada atau tidak.
Implikasinya, kebergantungan esensi pada eksistensi menjadi dalil bahwa eksistensi tidak pernah terlepas dari realitas eksternal atau kenyataan an sich. Eksistensi telah melekat secara inheren bagi realitas eksternal sehingga eksistensi-lah yang menjadi dasar realitas (ashalatul wujud). Ia telah menjadi prasyarat bagi apapun untuk masuk ke dalam wilayah realitas.
Dalil Kedua (Realitas Eksternal Terjelaskan Hanya oleh Konsep Eksistensi)
Proposisi terdiri dari subjek dan predikat, segala sesuatu yang tidak terpredikasi oleh wujud maka tidak bisa memasuki wilayah realitas eksternal. Oleh karena itu, untuk menjelaskan realitas eksternal selalu terdapat konsep wujud yang terselubung di dalamya, jika tidak disebutkan secara jelas dalam kata-kata yang semakna darinya: eksistensi, keberadaan. Kalimat yang tidak mengandung konsep wujud sama sekali, baik secara implisit atau eksplisit, tidak mungkin masuk ke wilayah eksternal. Penjelasan atas realitas luar selalu disisipi oleh wujud, bukan dengan esensi.
Dalil Ketiga (Realitas dan Wujud bersifat Individual, sedangkan Mahiyah Universal)
Realtas eksternal memiliki individual yang hanya dimiliki oleh eksistensi. Esensi bersifat universal, artinya bisa diterapkan pada banyak objek. Sebagai contoh, Konsep universal negara yang bisa diterapkan kepada Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Rusia, dan sebagainya. Begitu juga esensi yang tidak bisa tidak pasti diterapkan kepada banyak hal. Akan tetapi, realitas eksternal tidak mungkin untuk diterapkan kepada banyak hal, karena setiap yang riil diluar selalu unik memiliki ciri khasnya masing-masing yang hanya bisa diterapkan kepada individu itu sendiri. Contohnya, Indonesia sebagai keberadaan negara secara riil. Kalau kita ambil sebagai konsep pasti bersifat partikular, demikian juga bila diterapkan dalam realitas eksternal. Setiap penerapan konsep selalu terjadi secara individual, hal ini menunjukkan realitas eksternal bersifat individual, bukan universal.
Dalil Tambahan (Realias Eksternal Berasal dari Wujud Murni)
Argumentasi ini
didasari oleh pemahaman bahwa segala sesuatu (alam semesta) berasal dari entitas
yang murni Eksistensi tanpa dicampuri sedikit pun esensi di dalamnya, karena
itu jika realitas objektif dilandasi oleh esensi maka meniscayakan hilangnya
realitas Tuhan yang bersifat murni eksistensi. Ketiadaan eksistensi murni
menyebabkan ketiadaan sumber eksistensi alam semesta, karena eksistensi murni
adalah tingkatan tertinggi yang menjadi ujung bagi segala sebab-sebab yang
eksis.

Komentar
Posting Komentar