Dalam pusaran sejarah, selalu muncul dikotomi-dikotomi yang saling berlawanan. Memang cara berpikir itu tidak mesti biner, hitam dan putih. Terkadang dalam melihat realitas diperlukan cara berpikir bertingkat. Namun, masing-masing cara berpikir memiliki tempat masing-masing. Kita tidak mungkin melihat kontradiksi dalam bentuk tingkatan. Kontradiksi selalu meniscayakan dua hal yang tidak memiliki jalan tengah. Antara konsep ‘ada’ dan ‘tiada’, tidak memiliki jalan tengah (law of excluded middle). Namun, dalam tempat lain, realitas harus dilihat secara bertingkat, seperti suhu panas, ukuran-ukuran, dan lain-lain. Selalu banyak perbandingan ke atas atau ke bawah.
Banyak yang keliru
mengkritik cara berpikir biner itu terlalu simplisistik. Alih-alih menggunakan
cara berpikir itu secara tidak sadar. Dualisme dalam pikiran memang tidak bisa
dihindarkan, karena watak pikiran yang selalu mencari esensi sesuatu, hakikat, dan
definisinya. Semua itu tidak bisa dipahami akal manusia tanpa membedakan
sesuatu dengan sesuatu yang lain. Nah, di situlah muncul benih-benih pemikiran
biner. Bahkan, untuk memfalsifikasi sesuatu memerlukan tolok ukur yang benar. Sebenarnya,
tingkatan-tingkatan kebenaran adalah sekumpulan konsep biner yang
diperhubungkan satu sama lain.
***
Dalam memandang realitas,
manusia selalu memegang pilihan untuk dijadikan acuan dalam bertindak.
Contohnya, jika kita melihat singa di hadapan kita yang ingin memangsa, maka secara
spontan kita akan mencari cara menjauh darinya. Keinginan untuk menjauh itu karena
kita memegang pilihan untuk tetap hidup, tetapi secara tidak langsung
berimplikasi pada tindakan agar menjauhi diri hal-hal yang menyebabkan keselamatan
hidup hilang. Saya memahami konsep ini sebagai tawalla dan tabarra. Untuk mencapai
tujuan seseorang mesti melepaskan semua hal-hal yang bisa menghalangi tercapainya
keinginan dengan semua prasyarat-prasyaratnya. Setelah itu, memegang pada
tujuan itu dengan berkonsisten melakukan cara-cara mencapainya. Mungkin ini
terkesan sederhana. Namun, seharusnya prinsip ini diterapkan dalam semua aspek
kehidupan kita, dengan mendahulukan yang lebih prinsipal ketimbang cabang-cabangnya.
Problem yang
berkembang belakangan ini adalah relativisme pandangan. Terkadang demi merukunkan
kehidupan masyarakat, solusinya dengan merelatifkan semua pandangan. Artinya,
tidak ada pandangan yang betul-betul menjamin dan mutlak benarnya. Masing-masing
memiliki kekeliruannya tersendiri. Pandangan seperti ini akan sengat menipu orang-orang
awam yang mengaku intelektual. Kebangkitan intelektual dipandang hebat jika telah
merelatifkan semua pandangan, dengan alasan memudahkan pemahaman dan empati terhadap
orang lain.
Pemikiran itu tentu
memiliki gap antara tujuan dan cara. Cara berpikir seperti itu adalah
hasil dari ketidaktahuan menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan.
Memang, mungkin saja pemikiran seperti ini akan menyelesaikan konflik dan
perselisihan di masyarakat. Namun, hal ini akan memperparah keteguhan hati
masyarakat, akan muncul budaya yang tanpa arah dan tidak jelas.
Tidak ada yang
menginginkan adanya perpecahan masyarakat. Keberagaman tentu tidak selalu
menyebabkan perselisihan, dan perselisihan tidak selamanya disebabkan oleh
adanya perbedaan-perbedaan yang bersifat mutlak. Kemutlakan pandangan adalah hal
yang niscaya dan tidak bisa ditolak, karena pengorbanan, semangat, dan keteguhan
dalam membangun peradaban tidak akan mungkin dicapai dengan keyakinan penuh
akan hasil dan tujuan. Penyebab utama perselisihan pemikiran, karena sikap tidak
menerima kenyataan masyarakat. Benar, kemutlakan final pasti saja akan membawa
pada fanatisme dan nyaris tidak mungkin tidak menyebabkan terbangunnya dinding
kebersamaan dan perjuangan untuk menyamakan pikrian orang lain dengan pandangannya.
Yang saya maksud
adalah pandangan bahwa kebenaran mutlak itu ada berbeda dengan kemutlakan final
bagi pandangan seorang diri. Seorang pencari akan senantiasa membuka diri dengan
orang-orang lain, bersaudara, tanpa harus sepemikiran. Namun, pencari yang baik
adalah yang mengaggap bahwa keyakinanku, pemikiranku sekarang benar dalam
jangkauan pengetahuanku. Jika saja kutemui pandangan baru yang lebih baik, maka
pasti akan kuanggap benar, dan pemikiranku yang sebelumnya keliru.
***
Konsep berpegang
teguh pada apa yang diyakini dan dianggap benar adalah kemestian. Setiap orang
mau tidak mau melakukannya sambil berlepas diri dari hal-hal yang menyalhkan
pandangannya. Dalam ranah sosial, bukan hanya persaudaraan yang diteguhkan,
tetapi juga perlepasan dari semua tindak zalim. Landasan untuk berpegang pada
kebenaran dan keadilan selalu berimplikasi logis untuk melepaskan diri dari
semua kekeliruan dan tindak kezaliman. Berlepas diri artinya tidak memasukkan
diri kita ke dalam lubang kezaliman dan kekeliruan itu.
Berpegang pada
kebaikan bukan saja bertindak baik, tetapi menyebarkan kebaikan dan cinta kasih
ke seluruh manusia. Orang-orang yang bengis dan kejam memiliki cara tersendiri sesuai
konteks mereka diperlakukan baik, menghukum orang yang kejam adalah salah satu
wujud kebaikan dan cinta kasih padanya. Tidak ada kebaikan tanpa keadilan, dan
cinta kasih tanpa kebaikan. Oleh karena itu, orang yang memiliki cinta kasih
terhadap sesamanya selalu berlaku adil, meski terhadap musuhnya. Dua hal itu memiliki
kesenyawaan dalam menjalani kehidupan. Saling memenuhi satu sama lain. Maka
dari itu, pikirkanlah dimana kamu berpegang dan dimana kamu berpisah? Kapan kamu
mengikuti dan kapan melepaskan?
Komentar
Posting Komentar