Tangisan Asyura adalah ungkapan rasionalitas, tangisan yang membanjiri kezaliman di dalam diri. Tangisan itu menjadi petunjuk bagi perlawanan diri, bukan sekadar perlawanan terhadap pembunuh-pembunuh Al-Husain as. Banyak tangisan dan duka yang datang di sela-sela kehidupan, tetapi tangisan terhadap Al-Husain memiliki semangat yang berbeda dari tangisan lainnya. Ini bukan jeritan kelemahan atas diri, tetapi persiapan untuk kebangkitan jiwa yang tertatih.
Asyura mengungkakan semua dimensi kebijaksanaan hidup.
Bukan hanya kesedihan, atau ratapan tanpa makna. Di dalam itu semua terdapat persiapan
untuk melawan diri, menghilangkan ego, cinta dunia, menghilangkan ikatan-ikatan
yang menjatuhkan. Pengorbanan Al-Husain membentuk pemikiran Husainisme bagi pengikutnya,
mengorbankan dirinya, menghilangkan keakuan. Di dalam tangisan itu tidak ada istilah
tasawuf, pengkajian tentang perjalanan menuju Tuhan, tetapi dalam tangisan terhadap
Al-Husain as telah terangkum semua nilai tasawuf, spiritualitas Islam yang tak
disadari. Menghayati perjalanan sejarah Al-Husain as, bukan sekadar konsep-konsep
dalam akal saja. Detik demi detik pilihan-pilihan Al-Husain menuju
kesyahidannya adalah jalan-jalan ilahi yang tak disadari.
Duka Al-Husain tidak datang begitu saja. Penyebabnya
bukan sekadar keyakinan teologis, ungkapan sedih, kasihan terhadap Al-Husain as.
Beliau tidak membutuhkan kasihan dan rasa sedih pengikut-pengikutnya. Tangisan
itu adalah perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman. Tangisan itu sebagai kecaman
terhadap bentuk kesewenang-wenangan dan cinta dunia. Kecaman itu adalah menjauh
dari semua yang dikecam. Jika cinta dunia, kesewenang-wenangan masih ada di dalam
diri, maka kecaman bukan mengarah ke Yazid sebagai sosok sejarah dan
pembunuh-pembunuh Al-Husan, tetapi kecaman dan kutukan terhadap diri sendiri. Membaca
laknatan-laknatan terhadap pembunuh Al-Husain adalah pelaknatan bagi siapa saja
yang berlaku buruk terhadap Al-Husain, kepada siapa saja yang bertindak seperti
Yazid. Bahkan terhadap sang pelaknat. Laknatan itu justru kembali kepada
dirinya. Setiap tindakan zalim, pikiran zalim, akan menjadi penerima laknat.
Al-Husain as tidak lain adalah representasi pengorbanan
dan pelepasan egoisme dalam diri. Semua nilai-nilai akhlak, spiritual, dan inti
agama terangkum dalam perjalanan Al-Husain as sejak dari Madinah ke Makkah dan
menuju kesyahidannya di Karbala. Satu demi satu akan tertinggal dan tetap pada maqamnya.
Semakin dekat dari tujuan, semakin sedikit yang tersisa. Al-Husain tidak
membawa keluarga dan sahabat-sahabatnya menuju kematian. Beliau membawa mereka merasakan
hakikat spiritualitas tertinggi. Tidak memandang agama, keyakinan pengikut Al-Husain
as di Karbala termanifestasi dalam tindakannya melawan Kezaliman, mengikuti
beliau adalah wujud ketaatan terhadap Allah dan Nabi-Nya.
Akhir pencapaian Al-Husain as, adalah pertemuan dengan
Allah swt. Beliau keluar untuk menjaga agama datuknya, dan dengan kesyahidannyalah,
agama datuknya terjaga. Tidak ada pilihan lain yang bisa menjaga kemurnian agama
datuknya. Imam Ali bin Husain as menjadi penjaga suci dengan tangan suci yang
tak tampak, kebijakasanaan ajaran Islam. Beliau menangisi ayahnya hingga akhir
hayatnya. Tangisan itu sebagai wujud kelanjutan dan keterjagaan kesucian ajaran
Islam. Agama tidak menjadi biusan bagi pelaku-pelaku zalim. Ia adalah pembunuh semua
kezaliman di dalam dan luar diri.
Komentar
Posting Komentar