Langsung ke konten utama

Duka Asyura, Tangisan, dan Perjuangan

Tangisan Asyura adalah ungkapan rasionalitas, tangisan yang membanjiri kezaliman di dalam diri. Tangisan itu menjadi petunjuk bagi perlawanan diri, bukan sekadar perlawanan terhadap pembunuh-pembunuh Al-Husain as. Banyak tangisan dan duka yang datang di sela-sela kehidupan, tetapi tangisan terhadap Al-Husain memiliki semangat yang berbeda dari tangisan lainnya. Ini bukan jeritan kelemahan atas diri, tetapi persiapan untuk kebangkitan jiwa yang tertatih.

Asyura mengungkakan semua dimensi kebijaksanaan hidup. Bukan hanya kesedihan, atau ratapan tanpa makna. Di dalam itu semua terdapat persiapan untuk melawan diri, menghilangkan ego, cinta dunia, menghilangkan ikatan-ikatan yang menjatuhkan. Pengorbanan Al-Husain membentuk pemikiran Husainisme bagi pengikutnya, mengorbankan dirinya, menghilangkan keakuan. Di dalam tangisan itu tidak ada istilah tasawuf, pengkajian tentang perjalanan menuju Tuhan, tetapi dalam tangisan terhadap Al-Husain as telah terangkum semua nilai tasawuf, spiritualitas Islam yang tak disadari. Menghayati perjalanan sejarah Al-Husain as, bukan sekadar konsep-konsep dalam akal saja. Detik demi detik pilihan-pilihan Al-Husain menuju kesyahidannya adalah jalan-jalan ilahi yang tak disadari.

Duka Al-Husain tidak datang begitu saja. Penyebabnya bukan sekadar keyakinan teologis, ungkapan sedih, kasihan terhadap Al-Husain as. Beliau tidak membutuhkan kasihan dan rasa sedih pengikut-pengikutnya. Tangisan itu adalah perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman. Tangisan itu sebagai kecaman terhadap bentuk kesewenang-wenangan dan cinta dunia. Kecaman itu adalah menjauh dari semua yang dikecam. Jika cinta dunia, kesewenang-wenangan masih ada di dalam diri, maka kecaman bukan mengarah ke Yazid sebagai sosok sejarah dan pembunuh-pembunuh Al-Husan, tetapi kecaman dan kutukan terhadap diri sendiri. Membaca laknatan-laknatan terhadap pembunuh Al-Husain adalah pelaknatan bagi siapa saja yang berlaku buruk terhadap Al-Husain, kepada siapa saja yang bertindak seperti Yazid. Bahkan terhadap sang pelaknat. Laknatan itu justru kembali kepada dirinya. Setiap tindakan zalim, pikiran zalim, akan menjadi penerima laknat.

Al-Husain as tidak lain adalah representasi pengorbanan dan pelepasan egoisme dalam diri. Semua nilai-nilai akhlak, spiritual, dan inti agama terangkum dalam perjalanan Al-Husain as sejak dari Madinah ke Makkah dan menuju kesyahidannya di Karbala. Satu demi satu akan tertinggal dan tetap pada maqamnya. Semakin dekat dari tujuan, semakin sedikit yang tersisa. Al-Husain tidak membawa keluarga dan sahabat-sahabatnya menuju kematian. Beliau membawa mereka merasakan hakikat spiritualitas tertinggi. Tidak memandang agama, keyakinan pengikut Al-Husain as di Karbala termanifestasi dalam tindakannya melawan Kezaliman, mengikuti beliau adalah wujud ketaatan terhadap Allah dan Nabi-Nya.

Akhir pencapaian Al-Husain as, adalah pertemuan dengan Allah swt. Beliau keluar untuk menjaga agama datuknya, dan dengan kesyahidannyalah, agama datuknya terjaga. Tidak ada pilihan lain yang bisa menjaga kemurnian agama datuknya. Imam Ali bin Husain as menjadi penjaga suci dengan tangan suci yang tak tampak, kebijakasanaan ajaran Islam. Beliau menangisi ayahnya hingga akhir hayatnya. Tangisan itu sebagai wujud kelanjutan dan keterjagaan kesucian ajaran Islam. Agama tidak menjadi biusan bagi pelaku-pelaku zalim. Ia adalah pembunuh semua kezaliman di dalam dan luar diri.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...