Beberapa dekade ini kemajuan sains sudah menjelaskan misteri-misteri yang tidak terpecahkan oleh manusia. Pengujian empiris banyak membuktikan persoalan yang terkadang dijawab dengan dogmatisme atau keyakinan umum yang tersebar di masyarakat. Mulai dari penyakit yang menjangkiti manusia, emosi-emosi manusia, peristiwa-peristiwa alam yang menakutkan, hingga misteri di ujung alam semesta. Banyak kepercayaan yang dikonstruksi untuk menyelesaikan kegelisahan manusia. Dogma itu sangat berguna karena menghilangkan kegelisahan manusia yang terus mempertanyakan alam. Seiring berjalannya waktu Filsafat juga mulai datang untuk menjelaskan masalah-masalah metafisis yang tak terjangkau indra. Persoalan etika, makna hidup, dan prinsip-prinsip realitas.
Di balik itu, melihat realitas sekarang. Ilmu
pengetahuan sudah berkembang sangat maju. Penjelasan-penjelasan metafisis yang
bersifat dogmatis dan spekulatif digantikan dengan penjelasan sains. Masyarakat
modern abad ke-21 hingga abad selanjutnya akan mendapati dunia yang sangat
berbeda. Sebagian besar kesadaran dogmatisme akan mulai hilang seiring dengan
kencangnya arus informasi dan indoktrinasi sains positif. Sains menguji peristiwa-perisitiwa
dengan menggunakan alat yang sangat canggih untuk mendapatkan informasi yang
tidak mampu dicapai oleh mata telanjang. Pada tahap ini para saintis
menggunakan rasionalitasnya dalam mengambil pola-pola dan kesimpulan umum dari
hasil observasinya.
Tidak sampai disitu, pengetahuan yang sudah
dikonstruksi menjadi alat membentuk teknologi yang menggugah dogma-dogma
manusia. Keyakinan tentang jiwa sudah digantikan dengan keyakinan tentang saraf
manusia. Keyakinan tentang kebahagiaan, masalah emosional, dan apapun yang membentuk
manusia dikembalikan pada proses saraf. Kemampuan teknologi mendeteksi pola
saraf dan mengadakan pengubahan terhadap manusia menjadikan manusia seperti
komputer besar. Sebuah robot besar yang sudah bisa dikontrol layaknya telpon
pintar di genggaman tangan.
Transportasi dan unsur-unsur peradaban sudah mulai
berubah. Peradaban yang akan datang lama kelamaan menjadi satu, yakni peradaban
global. Tidak ada lagi peradaban dan keluhuran. Semuanya saling terhubung dan bergantung.
Munculnya kebergantungan-kebergantugan baru bagi manusia, membawa manusia pada
risiko baru yang lebih besar. Sebagaimana hukum sejarah, modernisasi membawa efek
samping yang perlu dijaga. Perjalanan itu membawa masyarakat pada kehancurannya
sendiri.
Akan tetapi, dari kemajuan itu, keyakinan-keyakinan
metafisis tidak akan pernah hilang. Selalu timbul bagaikan balon yang ditekan
di samping muncul di atas. DI musnahkan saat ini, muncul di waktu yang akan
datang. Hanya terjadi perubahan dan cara yang baru menggunakan keyakinan itu. Sekarang
pun, sains sudah menjadi dogmatisme tersendiri. Namun, keyakinan agama yang
berdasarkan kitab suci akan tetap memiliki wajah yang menyesuaikan dengan kondisi
masyarakatnya. Akhirnya, meskipun banyak peran agama yang tergantikan, bahkan
ter-falsifikasi, agama sebagai ungkapan metafisis yang naluriah akan tetap
mendapatkan bentuk-bentuk baru.
Bagi agama Ibrahim, zaman ini adalah akhir waktu. Sang
penyelamat akan datang memperbaiki dunia yang memusnahkan dirinya sendiri. Masing-masing
memberikan interpretasinya dengan justifikasi kitab suci. Kebenaran kitab suci
memang tidak bisa disamakan atau bahkan direndahkan dari kebenaran positif
selama pembuktian tidak menunjukkan sebaliknya. Dalam diri manusia, selalu ada
kebenaran lain yang dicari disamping apa yang teruji secara empirik dan rasional.
Kebenaran inilah yang mempertahankan manusia menjadi dirinya dalam memaknai
kehidupannya. Meskipun akan datang masyarakat tanpa agama, tetapi tetap saja akan
mencari cara baru menggantikan peran agama itu. Di akhir riwayat kehidupannya, makna-makna
seperti ini akan sangat disadari. Begitu juga, di akhir-akhir dunia. Memang bumi
sudah mulai berubah, termasuk manusia di dalamnya. Pertarugan politik, ekonomi,
dan identitas selalu terjadi. Ada pejuang keadilan, yang melawan pejuang
kezaliman. Pelaku-pelakunya tinggal memilih, tetapi ada juga yang masih tertidur
dalam kelelapan tanpa memerhatikan pertarungan sengit itu. Pertarungan akan
berakhir hanya setelah pengakuan kesalahan atau terhenti karena ketidakmampuan.
Demikian pula, bumi kita, alam raya kita.
Kolaka, 18 Agustus 2020

Komentar
Posting Komentar