Telah sejak lama para ulama dari Islam maupun agama abrahamik sebelumnya mendiskusikan masalah bencana yang datang menimpa manusia. Dalam filsafat Skolastik, terdapat pembahasan khusus mengenai keburukan alam semesta yang dinamai Teodisi. Berlanjut ke Islam, para ahli kalam juga mempunyai argumentasi rasional dan pemaknaan terhadap keburukan dan bencana yang menimpa manusia, yang sebelumnya sudah dijelaskan di bagian pertama.
Permasalahan ini banyak yang membuat orang tidak mempercayai lagi agama bahkan Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Wabah atau bencana tidak mungkin terjadi bersamaan dengan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan, karena jika Tuhan mahakuasa pastilah Dia menghilangkan semua keburukan dan wabah itu keburukan, maka Tuhan tidaklah mahakuasa atau tidak mahabaik. Pemahaman seperti itu jelas sangat keliru. Karena menentukan keburukan pada wabah itu tidak berdasar sama sekali. Tidak setiap yang menyebabkan kematian, kerusakan, dan hal-hal yang membuat manusia rusak adalah keburukan mutlak.
Jika kita melihat dari berbagai sisi peristiwa dan konsekuensinya maka tidak ada keburukan yang hakiki pada segala sesuatu, termasuk wabah yang menimpa. Wabah adalah kebaikan yang sangat besar bagi peradaban, manusia untuk mengembangkan teknologi yang bisa mengatasi wabah, itu sebuah penyempurnaan. Wabah juga sekaligus memperingatkan manusia yang congkak dan merasa bisa mengatasi segala hal, mengajari manusia untuk mengingat siapa pencipta jagat raya ini, dan banyak kesempurnaan-kesempurnaan lain yang bisa ditemukan manusia.
Adapun akibat yang dianggap buruk seperti kematian bagi manusia justru menjadi kebaikan bagi seorang yang mempercayai Tuhan dan hari akhir karena akan mendapat kemudahan dalam pengadilan akhir, sedangkan kematian orang-orang yang tabiatnya memang buruk dan merusak tidak lagi melakukan pengrusakan.
Pencurian dan semua kejahatan yang diakibatkan oleh wabah adalah kejadian lazim yang tidak bisa dihindari. Hal itu tidak ujub-ujub disebabkan oleh wabah itu sendiri. Kejahatan terjadi dengan ikhtiar setiap manusia. Wabah itu justru memperkuat kekokohan seseorang untuk melawan kehendak buruknya dan melakukan kebaikan sehingga mendapatkan balasan pantas yang lebih besar. Itulah keadilan Ilahi. Namun, kalau orang itu justru berbuat jahat, keadilan dan pembalasan tidak lebih besar dengan kejahatan lain yang sebab dan efeknya lebih sedikit. Semua akan mendapatkan balasan sesuai tindakannya meski sebiji zarrah.
Wabah dan bencana-bencana itu sebenarnya mendewasakan dan menyempurnakan kita, karena setiap ujian itu melatih untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Ujian itu sama sekali bukanlah keburukan, pada hakikatnya. Kegagalan orang-orang yang menghadapinya atau kelulusannya adalah kelayakan yang mesti baginya, atas ikhtiarnya. Orang-orang yang tidak berhasil memaknai peringatan dan menemukan realitas-utama bagi segala sesuatu dari perenungan di tengah wabah termasuk orang yang gagal. Adapun yang berhasil menyempurnakan dirinya di tengah gempuran dan ujian yang begitu berat itulah orang yang lulus.
Wallahu A'lam bisshawab

Komentar
Posting Komentar