Langsung ke konten utama

Kesucian atau Kekuatan Jiwa

            Perbedaan antara spiritualitas Islam dan spiritualitas selainnya adalah penekanannya pada kesucian. Gerakan spiritualitas yang berkembang pada agama-agama non-muslim maupun sebagian sekte tarekat Islam, kebnayakan mengutamakan penguatan jiwa bukan penyuciannya. Keduanya hal yang berbeda. Penguatan jiwa bisa dianalogikan seperti berolahraga untuk membentuk otot-otot fisik. 

Tujuan penguatan jiwa membentuk kekuatan yang melampaui alam bendawi. Kekuatan yang dihasilkan badan ditandai dengan otot-otot yang kekar, sedangkan kekuatan jiwa ditandai dengan pengendalian fisik. Seseorang yang memiliki jiwa yang kuat bisa saja memiliki kemampuan khusus, membaca pikiran, membuat karamat-karamat, atau mengendalikan benda yang ada, dan sebagainya.

            Tujuan utama spiritualitas Islam bukanlah menguatkan, tetapi membersihkan noda-noda dalam jiwa. Seiring dengan kesucian jiwa, spiritualitas Islam secara tidak langsung mendapatkan kekuatan jiwa yang bahkan lebih besar. Akan tetapi, landasan laku jiwa dalam Islam didasarkan pada kebergantungan kepada Allah swt. sebagai pencipta daya dan potensi  jiwa. Tidak ada satupun upaya di alam raya ini kecuali atas izin Allah, artinya eksistensi makhluk senantiasa bergantung sejak awal diciptakan hingga keberlangsungan keberadaannya. Oleh karena itu, setiap kekuatan makhluk yang dianggap sangat besar, tidak berarti apa-apa dalam pandangan seorang muslim.

            Inti tasawuf Islam adalah mendekatkan diri menuju Allah. Tujuan itu dicapai dengan cara penyucian semua semua daya-daya yang dimiliki oleh manusia. Ada empat fakultas atau daya jiwa yang dominan, yang mempengaruhi manusia, diantaranya: kekuatan amarah, kekuatan khayal, kekuatan syahwat dan kekuatan akal. Setiap kekuatan jiwa itu mengatur tindakan manusia secara batin maupun lahir. Oleh karena itu, sangat penting menyelidiki dan mengawasi kekeliruan pada daya-daya ini sebagai jalan penyucian dan penyempurnaan manusia.

            Diri manusia seluruhnya, mulai ujung rambut hingga ujung kaki, mengalami perubahan dan mendapatkan hakikat dari empat kekuatan jiwa itu. Untuk memperbaiki kekuatan jiwa perlu menjaga keseimbangannya. Tidak ekstrem sehingga bertindak secara berlebihan maupun bersantai-santai sehingga bertindak kurang. Semuanya dilakukan secara proporsional. Dengan demikian, manusia mesti menggunakan akal memikirkan konsekuensi perbuatan yang maslahat atau mudarat dan syariat tolok ukur bagi tindakan ibadah di luar batas akal. 

            Perbuatan fisik tercermin pada setiap organ tubuh manusia, seperti tangan, kaki, mulut, perut, organ privat, dan setiap panca indera. Namun, hal itu masih berkaitan dengan organ yang terlihat. Bagian yang tersembunyi dan paling berpengaruh berada di dalam jiwa, yaitu daya khayal atau imajinasi, daya amarah, daya nafsu, dan daya rasional. Semua bagian lahir dan batin manusia memiliki manfaat jika digunakan pada tempatnya, tetapi jika digunakan dengan tidak sesuai tujuan keberadaannya, maka akan menyebabkan mudarat bagi diri sendiri. Mudarat itu akan bertahan pada jiwa setiap kali melakukan kekeliruan penggunaan daya-daya diri, yang disebut sebagai dosa. Dengan kembali (taubah) kepada Allah dan menyesalinya, lambat laun noda-noda itu akan terkikis sehingga terpancar cahaya makrifat Ilahi.

            Pemanfaatan jiwa sesuai tujuannya dan pembiasaannya akan membantuk pribadi yang "suci". Sebagaimana yang terlihat pada diri-diri nabi dan awliya’ Allah. Mereka mendaya gunakan jiwa sesuai pada tempatnya dan menyesuaikannya dengan konteks zaman. Akhirnya mereka mendapatkan kesucian dan kedekatan di sisi Alllah. Kedekatan itu karena menyerap sifat-sifat dan nama Allah dalam setiap situasi yang tepat. 

            Dengan menampakkan kasih sayang Allah pada orang yang butuh, pada saat yang sama menerapkan sifat keperkasaan Allah pada penindas dan orang-orang yang menentang. Oleh karena itu, masalah kesucian batin pada hakikatnya adalah esensi spiritualitas. Seorang muslim senantiasa ber-tazkiyah dan berzikir tanpa keinginan terselubung, kecuali karena Allah. Di setiap proses itu, dia menemukan kebahagiaan bahkan saat ditimpa musibah besar, karena hatinya hanya diisi oleh Allah swt.

Wallahu A’lam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...