Tujuan utama spiritualitas Islam bukanlah menguatkan, tetapi membersihkan noda-noda dalam jiwa. Seiring dengan kesucian jiwa, spiritualitas Islam secara tidak langsung mendapatkan kekuatan jiwa yang bahkan lebih besar. Akan tetapi, landasan laku jiwa dalam Islam didasarkan pada kebergantungan kepada Allah swt. sebagai pencipta daya dan potensi jiwa. Tidak ada satupun upaya di alam raya ini kecuali atas izin Allah, artinya eksistensi makhluk senantiasa bergantung sejak awal diciptakan hingga keberlangsungan keberadaannya. Oleh karena itu, setiap kekuatan makhluk yang dianggap sangat besar, tidak berarti apa-apa dalam pandangan seorang muslim.
Inti tasawuf Islam adalah mendekatkan diri menuju Allah. Tujuan itu dicapai dengan cara penyucian semua semua daya-daya yang dimiliki oleh manusia. Ada empat fakultas atau daya jiwa yang dominan, yang mempengaruhi manusia, diantaranya: kekuatan amarah, kekuatan khayal, kekuatan syahwat dan kekuatan akal. Setiap kekuatan jiwa itu mengatur tindakan manusia secara batin maupun lahir. Oleh karena itu, sangat penting menyelidiki dan mengawasi kekeliruan pada daya-daya ini sebagai jalan penyucian dan penyempurnaan manusia.
Diri manusia seluruhnya, mulai ujung rambut hingga ujung kaki, mengalami perubahan dan mendapatkan hakikat dari empat kekuatan jiwa itu. Untuk memperbaiki kekuatan jiwa perlu menjaga keseimbangannya. Tidak ekstrem sehingga bertindak secara berlebihan maupun bersantai-santai sehingga bertindak kurang. Semuanya dilakukan secara proporsional. Dengan demikian, manusia mesti menggunakan akal memikirkan konsekuensi perbuatan yang maslahat atau mudarat dan syariat tolok ukur bagi tindakan ibadah di luar batas akal.
Perbuatan fisik tercermin pada setiap organ tubuh manusia, seperti tangan, kaki, mulut, perut, organ privat, dan setiap panca indera. Namun, hal itu masih berkaitan dengan organ yang terlihat. Bagian yang tersembunyi dan paling berpengaruh berada di dalam jiwa, yaitu daya khayal atau imajinasi, daya amarah, daya nafsu, dan daya rasional. Semua bagian lahir dan batin manusia memiliki manfaat jika digunakan pada tempatnya, tetapi jika digunakan dengan tidak sesuai tujuan keberadaannya, maka akan menyebabkan mudarat bagi diri sendiri. Mudarat itu akan bertahan pada jiwa setiap kali melakukan kekeliruan penggunaan daya-daya diri, yang disebut sebagai dosa. Dengan kembali (taubah) kepada Allah dan menyesalinya, lambat laun noda-noda itu akan terkikis sehingga terpancar cahaya makrifat Ilahi.
Pemanfaatan jiwa sesuai tujuannya dan pembiasaannya akan membantuk pribadi yang "suci". Sebagaimana yang terlihat pada diri-diri nabi dan awliya’ Allah. Mereka mendaya gunakan jiwa sesuai pada tempatnya dan menyesuaikannya dengan konteks zaman. Akhirnya mereka mendapatkan kesucian dan kedekatan di sisi Alllah. Kedekatan itu karena menyerap sifat-sifat dan nama Allah dalam setiap situasi yang tepat.
Dengan menampakkan kasih sayang Allah pada
orang yang butuh, pada saat yang sama menerapkan sifat keperkasaan Allah pada penindas
dan orang-orang yang menentang. Oleh karena itu, masalah kesucian batin pada hakikatnya adalah esensi spiritualitas. Seorang muslim senantiasa ber-tazkiyah dan berzikir tanpa keinginan
terselubung, kecuali karena Allah. Di setiap proses itu, dia menemukan kebahagiaan bahkan saat ditimpa musibah
besar, karena hatinya hanya diisi oleh Allah swt.
Wallahu A’lam

Komentar
Posting Komentar