Agamawan banyak dibenci karena fanatisme dan memanjikan dirinya dengan kebenaran. Di satu sisi, anti agama yang traumatik memukul rata agama sebagai tradisi mitologis, dalam artian positif atau negatif. Agama menjadi alat penenang, narkosis, bagi orang-orang yang tak mampu menanggung kerasnya kehidupan, kemiskinan, pertahanan emosional. Bagi Psikolog, agama hanya delusi yang disebarkan dari satu orang ke orang lain, tidak lain memenuhi naluri keinginan atas kebenaran mutlak. Selain itu, antropolog melihatnya hanya sebagai fenomena kultural yang berubah karena interaksi sosial.
Kesimpulan-kesimpulan ilmuwan tentang agama tidak bisa
ditolak mentah-mentah. Itulah yang memang terjadi sepanjang sejarah hingga
sekarang. Selain menjadi instrumen emosional penggerak massa, juga sebagai
penenang individual. Tidak ada unsur rasionalitas dalam agama, kecuali penambahan-penambahan
sebagai unsur apologetika untuk meyakinkan penganutnya. Fenomena empirik
tentang agama, tidak akan membuktikan atau menegasikan pengalaman spiritual
seorang agamawan, kecuali sebatas gerakan elektrokimia saraf-saraf otak dan
pola-polanya. Emosi keagamaan melampaui instrumen-instrumen empirik.
Masalah lain dari agama adalah tidak mempunyai
pengertian yang jelas dan pasti. Banyak ahli yang berusaha mendefinisikan, justru
menjadi ambigu dengan lembaga politik yang juga membawa emosi dan bentuk yang
sama. Jika agama diartikan seperti lembaga sosial yang memiliki keyakinan dan
ritual tertentu, partai politik tidak berbeda secara esensial dari itu. Hanya
masalah penamaan saja. Fenomena politik nyaris tidak memiliki perbedaan dengan
fenomena agama. Makanya, dua-dua itu selalu menghasilkan penganut yang fanatik.
Pengertian lain, agama adalah seperangkat keyakinan,
terdiri dari pandangan dunia (worldview) dan ideologi, Ushuluddin dan
Furu’uddin. Pengertian ini akan sangat luas, bahkan mencakup seorang ateis yang
saintis, atau materialis filosofis. Seorang saintis yang menolak semua jenis
tuhan-tuhan ibrahim, politeis, hingga panteis, membentuk keyakinan barunya
berdasarkan penyimpulan kosmologis fisika. Apakah itu evolusi terus menerus dengan
pelebaran alam semesta sejak terjadinya big bang; atau alam semesta mekanis seperti
mesin; ataukah alam semesta adalah sekumpulan gelombang; semuanya mengekspresikan
akidah sains tentang alam dan ketuhanan alam. Ketuhanan adalah keteraturan
dalam bentuk hukum alam yang diinduksi dari fenomena alam. Adapun, furu’uddin seorang
saintis secara otomatis terbentuk setelah meyakini pandangan kosmologi tertentu.
Pandangan itulah yang menentukan cara menghadapi alam.
Keresahan lain terhadap agama yang paling perenial
adalah kekerasan atas nama agama, Jihad fi sabilillah; perang suci. Itu adalah
kenyataan sejarah yang tak bisa ditolak, agama menjadi alasan berperang dan menguasai.
Melihat itu, agama sudah tidak relevan bagi masyarakat sekarang. Ia menjadi
borok sejarah dan masyarakat; menjadi pembantu kemalasan dan fatalisme; membutakan
pikiran dan membakar api emosi. Akibatnya, agama menghilangkan rasionalitas. Yang
tertinggal adalah pseudo rasional, yakni rasionalisasi agama agar diterima.
Sejarah agama sangat kompleks dan tidak bisa
digeneralisasikan begitu saja. Bahkan di dalam satu lembaga agama pun, terbagi
menjadi bercabang-cabang sekte. Sekarang, memahami agama bukan lagi yang bertuhan
secara personal atau impersonal; yang emosional atau yang rasional. Satu-satunya
tanda beragama adalah keimanan mutlak.
Berbeda antara keimanan relatif, yang hanya sekadar memercayai
tanpa adanya rasa emosional untuk mengikuti dan membudakkan diri pada objek
iman. Keimanan mutlak adalah kebertuhanan terhadap apapun. Modernitas bersama kata-kata
tirannya (plastic words) seperti kebebasan, perdamaian, keadilan,
humanisme dan sebagainya telah menjadi objek kebertuhanan. Mengidentifikasi kebertuhanan
merupakan identifikasi agama sekarang ini. Sains bisa jadi instrumen penelitian,
tetapi bisa juga menjadi agama. Filsafat dan seperangkat nilai lainnya menjadi tuhan
baru jika dijadikan sebagai keimanan mutlak.
Komentar
Posting Komentar