Langsung ke konten utama

Problem Kebebasan, Aliran Pemikiran dan Kebahagiaan

 Hasrat manusia yang tidak bisa dilepaskan dan sudah menjadi tabiatnya untuk mencari kebebasan. Siapapun dan di mana pun selalu ada semacam gerakan dan perjuangan untuk pembebasan dalam satu masyarakat jika terjadi sejenis pengekangan. Manusia yang sudah mulai berpikir dan merasakan dirinya terkungkung dan dibatasi akan memberontak terhadap apa saja yang membuatnya terbatasi. Merenungi kebebasan akan banyak diksi yang muncul perlu untuk diperbandingkan satu sama lain diantaranya: pembatasan, kemerdekaan, tanggung jawab, aturan, perusakan, dan kesewenang-wenangan.

Persoalan yang paling jelas bagi kebebasan adalah tidak adanya kemutlakan bebas melakukan apa saja semau kita. Selalu ada batasan yang mengekang manusia. Batasan itu berupa aturan yang sudah disepakati bersama dalam masyarakat, atau batasan manusia agar tidak menghacurkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, persoalan kebebasan mutlak adalah hal yang utopis. Akal manusia selalu menolaknya. Paling tidak, batasan kebebasan manusia adalah sesuatu yang menyebabkan mudarat tidak akan pernah ingin dimasuki, direngkuh ranah itu. Melihat hal itu, pembatasan kebebasan manusia bersumber dari dalam diri manusia atau dari luar dirinya.

Pembatasan dari dalam diri manusia, disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan akal dalam bertindak sesuatu. Manusia selalu memikirkan meski secara sepintas, apa yang mau dia lakukan. Namun, terkadang motivasi-motivasi tindakannya masih saja didasari pikiran dangkal sehingga menyebabkan kerugian dirinya sendiri. Tindakan yang awalanya menginginkan keuntungan justru mendapatkan kerugian. Banyak kontradiksi dalam intensi-intensi tindakan manusia. Ketika masuk ke dalam ranah sosial kontradiksi itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena bisa menyebabkan konflik berkepanjangan karena perbedaan kepentingan di masyarakat.

Muncullah pembatasan sosial selanjutnya untuk mengatur setiap aksi-aksi yang menyebabkan kekacauan sosial. Dengan aturan tatanan masyarakat menjadi tentram dan tertib, tetapi dibalik itu muncul keterkekangan masyarakat. Individu tidak bisa bertindak sewenang-wenang karena tindakannya dibatasi oleh aturan yang ada.

Problem yang muncul kemudian, sejauh mana pembatasan kebebasan manusia bisa dilakukan? Naluri kebebasan manusia memang tidak dapat ditolak, tetapi dalam satu sisi naluri kesejahteraan dan hidup bahagia tidak mungkin dikorbankan demi kebebasan. Kebahagiaan tidak boleh dibeli oleh kebebasan. Maka dari itu, pertanyaaan yang lebih tepat diajukan bukan sejauh mana pembatasan manusia, tetapi manakah yang primer antara kebebasan atau kebahagiaan? Mungkinkah seseorang menginginkan kebebasan di atas penderitaan? atau kebahagiaan dalam keadaan terkekang?

Para pemikir membentuk aturan-aturan masyarakat bukan untuk kebebasan manusia an sich. Namun, untuk kebahagiaan manusia, sebenarnya. Hanya saja, kebahagiaan diungkapkan dalam kata: sejahtera, tentram, tertib, damai, bersih, dan sebagainya. Kondisi-kondisi itu membawa individu-individu pada kondisi hati yang bahagia. Perbedaan aturan antara satu tradisi dan tradisi lainnya hanya disebabkan oleh perbedaan cara pandang mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan memang sudah menjadi istilah yang sudah hampir menyamai “Tuhan”. Setiap tindakan manusia menuju dipersiapkan untuk menuju kebahagiaan. Jika tindakan itu tidak membawa kepada kebahagiaan, maka jangan harap untuk dijejaki. Kebahagiaan ini sudah ditafsirkan dengan makna yang begitu beragam sesuai landasan epistemologi dan world view masing-masing. Persoalan lebih lanjut lagi dari kebahagiaan adalah menentukan makna yang paling pantas bagi kehidupan manusia.

Terlepas dari semua itu, jika kita melihat kebahagiaan dan kebebasan, sebenarnya motivasi-motivasi isme yang terbentuk di masyarakat tidak lain adalah hasil reaksi dari problem yang ada. Motivasi itu tidak mencerminkan keinginan terdalam manusia. Aliran kebebasan muncul karena reaksi pengekangan gereja, penguasa tiran, dan lain-lain. Aliran feminisme muncul karena reaksi penindasan terhadap perempuan, sekiranya penindasan yang khusus menjadi stimulus munculnya aliran ini, tidak akan muncul ideologi kemasyarakatan seperti itu. Sosialisme juga adalah reaksi dari sejarah penindasan tuan tanah, kapitalis dan kalangan elit dalam sejarah. Hampir seluruh pemikiran itu lahir dari reaksi. Jarang sekali pemikiran yang datang dari kontemplasi langsung pada diri manusia yang terdalam; hakikat manusia. Kelemahan pemikiran reaktif seperti itu tidak akan bertahan lama dalam sejarah, kecuali stimulus-stimulus seperti penindasan perempuan, kalangan elit, pengekangan dan lainnya sudah hilang. Namun, pemikiran yang datang dari kontemplasi hakikat kemanusiaan tidak akan pernah hilang, bahkan dengan kemajuan sains pun tidak dapat menggantikannya secara total, karena kemanusiaan tidak pernah hilang dan selalu inheren dalam dirinya.

Pada akhirnya, tuhan-tuhan palsu akan tampak dengan sendirinya. Ritus-ritus modern yang tak disadari akan berubah, dan yang tertinggal adalah kemajuan bersama watak inheren manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...