Hasrat manusia yang tidak bisa dilepaskan dan sudah menjadi tabiatnya untuk mencari kebebasan. Siapapun dan di mana pun selalu ada semacam gerakan dan perjuangan untuk pembebasan dalam satu masyarakat jika terjadi sejenis pengekangan. Manusia yang sudah mulai berpikir dan merasakan dirinya terkungkung dan dibatasi akan memberontak terhadap apa saja yang membuatnya terbatasi. Merenungi kebebasan akan banyak diksi yang muncul perlu untuk diperbandingkan satu sama lain diantaranya: pembatasan, kemerdekaan, tanggung jawab, aturan, perusakan, dan kesewenang-wenangan.
Persoalan
yang paling jelas bagi kebebasan adalah tidak adanya kemutlakan bebas melakukan
apa saja semau kita. Selalu ada batasan yang mengekang manusia. Batasan itu
berupa aturan yang sudah disepakati bersama dalam masyarakat, atau batasan
manusia agar tidak menghacurkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, persoalan kebebasan
mutlak adalah hal yang utopis. Akal manusia selalu menolaknya. Paling tidak, batasan
kebebasan manusia adalah sesuatu yang menyebabkan mudarat tidak akan pernah ingin
dimasuki, direngkuh ranah itu. Melihat hal itu, pembatasan kebebasan manusia bersumber
dari dalam diri manusia atau dari luar dirinya.
Pembatasan
dari dalam diri manusia, disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan akal dalam
bertindak sesuatu. Manusia selalu memikirkan meski secara sepintas, apa yang
mau dia lakukan. Namun, terkadang motivasi-motivasi tindakannya masih saja didasari
pikiran dangkal sehingga menyebabkan kerugian dirinya sendiri. Tindakan yang awalanya
menginginkan keuntungan justru mendapatkan kerugian. Banyak kontradiksi dalam
intensi-intensi tindakan manusia. Ketika masuk ke dalam ranah sosial kontradiksi
itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena bisa menyebabkan konflik
berkepanjangan karena perbedaan kepentingan di masyarakat.
Muncullah pembatasan
sosial selanjutnya untuk mengatur setiap aksi-aksi yang menyebabkan kekacauan
sosial. Dengan aturan tatanan masyarakat menjadi tentram dan tertib, tetapi dibalik
itu muncul keterkekangan masyarakat. Individu tidak bisa bertindak
sewenang-wenang karena tindakannya dibatasi oleh aturan yang ada.
Problem yang
muncul kemudian, sejauh mana pembatasan kebebasan manusia bisa dilakukan? Naluri
kebebasan manusia memang tidak dapat ditolak, tetapi dalam satu sisi naluri
kesejahteraan dan hidup bahagia tidak mungkin dikorbankan demi kebebasan. Kebahagiaan
tidak boleh dibeli oleh kebebasan. Maka dari itu, pertanyaaan yang lebih tepat
diajukan bukan sejauh mana pembatasan manusia, tetapi manakah yang primer antara
kebebasan atau kebahagiaan? Mungkinkah seseorang menginginkan kebebasan di atas
penderitaan? atau kebahagiaan dalam keadaan terkekang?
Para pemikir
membentuk aturan-aturan masyarakat bukan untuk kebebasan manusia an sich.
Namun, untuk kebahagiaan manusia, sebenarnya. Hanya saja, kebahagiaan
diungkapkan dalam kata: sejahtera, tentram, tertib, damai, bersih, dan sebagainya.
Kondisi-kondisi itu membawa individu-individu pada kondisi hati yang bahagia. Perbedaan
aturan antara satu tradisi dan tradisi lainnya hanya disebabkan oleh perbedaan
cara pandang mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan memang sudah menjadi istilah
yang sudah hampir menyamai “Tuhan”. Setiap tindakan manusia menuju dipersiapkan
untuk menuju kebahagiaan. Jika tindakan itu tidak membawa kepada kebahagiaan,
maka jangan harap untuk dijejaki. Kebahagiaan ini sudah ditafsirkan dengan
makna yang begitu beragam sesuai landasan epistemologi dan world view
masing-masing. Persoalan lebih lanjut lagi dari kebahagiaan adalah menentukan
makna yang paling pantas bagi kehidupan manusia.
Terlepas dari
semua itu, jika kita melihat kebahagiaan dan kebebasan, sebenarnya motivasi-motivasi
isme yang terbentuk di masyarakat tidak lain adalah hasil reaksi dari problem
yang ada. Motivasi itu tidak mencerminkan keinginan terdalam manusia. Aliran
kebebasan muncul karena reaksi pengekangan gereja, penguasa tiran, dan lain-lain.
Aliran feminisme muncul karena reaksi penindasan terhadap perempuan, sekiranya
penindasan yang khusus menjadi stimulus munculnya aliran ini, tidak akan muncul
ideologi kemasyarakatan seperti itu. Sosialisme juga adalah reaksi dari sejarah
penindasan tuan tanah, kapitalis dan kalangan elit dalam sejarah. Hampir seluruh
pemikiran itu lahir dari reaksi. Jarang sekali pemikiran yang datang dari kontemplasi
langsung pada diri manusia yang terdalam; hakikat manusia. Kelemahan pemikiran
reaktif seperti itu tidak akan bertahan lama dalam sejarah, kecuali stimulus-stimulus
seperti penindasan perempuan, kalangan elit, pengekangan dan lainnya sudah hilang.
Namun, pemikiran yang datang dari kontemplasi hakikat kemanusiaan tidak akan
pernah hilang, bahkan dengan kemajuan sains pun tidak dapat menggantikannya secara
total, karena kemanusiaan tidak pernah hilang dan selalu inheren dalam dirinya.
Pada
akhirnya, tuhan-tuhan palsu akan tampak dengan sendirinya. Ritus-ritus modern
yang tak disadari akan berubah, dan yang tertinggal adalah kemajuan bersama watak
inheren manusia.
Komentar
Posting Komentar