Langsung ke konten utama

Sekelumit Tentang Filsafat Jiwa

Ditengah kegelisahan, kemurungan, kebehagiaan dan semua perasaan yang datang silih berganti, hal itu tidak pernah disebabkan sama sekali oleh hal-hal di luar kita. Perasaan itu bahkan bisa datang sekejap dan hilang juga dengan tiba-tiba tanpa proses yang mendahuluinya. Antara satu rasa dengan rasa yang lain bahkan saling berkontradiksi. Perasaan tidak senang tidak perlu datang dengan gangguan dari luar. Bahkan cukup dengan mengkhayalkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada diri kita, sudah sangat mengganggu hidup kita. fenomena-fenomena itu menunjukkan sangat jelas perbedaan antara jiwa dan badan manusia.

Namun, bagaimana para filsuf menjelaskan pikiran dan sesuatu yang muncul dari jiwa manusia itu datanng? Mereka berbeda pendapat tentang sumber dari pikiran itu, tetapi semua bersepakat mengenai adanya khayalan dan rasa-rasa di dalam jiwa. Bersikukuh menolak kejadian yang sangat jelas di dalam diri kita, sangatlah musykil. Kecuali bagi orang-orang yang sama sekali memiliki pikiran tertutup, meski mengaku berasal dari kalangan rasional dan ilmiah. Persoalan jiwa adalah persoalan yang sangat jelas eksistensinya, karena langsung dirasakan tanpa perantara apapun. Bahkan lebih jelas dari persoalan indrawi yang notabene masih membutuhkan perantara.

Jiwa memiliki kekuatan atau daya yang berbeda-beda. Di dalamnya banyak aktivitas yang dilakukan melalui perantara-perantara fisik manusia, baik dengan organ luat seperti kaki tangan, mulut, dan sebagainya, atau organ dalam seperti saraf, pergerakan darah, denyut jantung, dan lain-lain. Aspek yang terlihat itu bisa diteliti secara ilmiah dengan alat-alat khusus. Namun, aspek jiwa itu sendiri yang menjadi penyebab segala kompleksitas yang terjadi pada diri manusia, memiliki problem-problem khusus yang berusaha dipahami oleh filsuf dengan dalil-dalil rasional yang sudah dibangun. Bangunan pemikiran filsafat menggunakan prinsip-prinsip akli secara ontologis. Dengannya filsuf memahami realitas secara keseluruhan.

Ibnu Sina memahami jiwa manusia terpisah dengan badan sejak awal, kemudian saling menyatu, menjadi senyawa, dengan badan yang murni fisik. Jiwa itu berasal dari alam tinggi yang ditiupkan kepada fisik. Prinsip filsafat yang digunakan tentu sangat kompleks. Yan terutama adalah kausalitas, kesempurnaan wujud jiwa, pemahaman tentang hakikat gerak, ruang dan waktu, dan masih banyak yang lainnya.

Badan yang tadinya tidak berbeda dengan benda-benda yang lain, lantas memiliki daya untuk bergerak dengan sendiri sesuai kehendaknya tanpa dorongan pasif dari badan-badan lain, seperti gerakan lemari yang hanya terdiri dari badan, batu yang menggelinding, dan sebagainya. Perbedaan antara setiap badan (benda fisik) adalah jiwa di dalam dirinya. Jika jiwa itu mempunyai tingkatan dan derajat yang tinggi maka kemampuan benda yang kita lihat semakin sempurna, misalnya bisa tumbuh membesar bagi tetumbuhan; bisa bergerak tanpa bantuan dari luar seperti hewan; atau bahkan memiliki daya kreatifitas sebagaimana manusia. Oleh karena itu, menurut Ibnu Sina, eksistensi jiwa berbeda dengan eksistensi benda. Perbedaan itu menunjukkan benda sejak awal masuk ke dalam benda, ketika benda itu siap menerimanya.

Namun, menurut Mulla Sadra, jiwa manusia berasal dari materi kemudian berubah menjadi jiwa yang independen darinya. Beliau mengemukakan prinsip “jismiyyatul Huduts wa Ruhaniyyatul Baqa’” artinya kebaruan jisim dan kelanggengan jiwa. Sebelumnya, materi tidak memiliki apa-apa, tetapi setelah proses gerak potensi ke aktual yang terus menerus, materi yang berasal dari wujud terendah memanjat menuju derajat yang lebih sempurna. Di titik kesempurnaan materi tertentu, ia mendapatkan pemberian baru berupa jiwa secara aktual. Perubahan ini disebut perubahan substansial (harakah al-jawhariyyah) dari materi yang rendah menuju jasad yang memiliki jiwa. Proses gerakan itu seperti pemakaian baju kesempurnaan yang baru tanpa melepas baju sebelumnya, yakni al-lubs ba’da al-lubsi. Hingga jiwa menjadi independen dari jiwa dan menguasai badan, mengendalikan setiap kerja-kerjanya dan mendapatkan kenonmaterian murni.

Sifat Immateri yang didapatkan jiwa dalam filsafat jiwa Mulla Sadra menjadi pertanda keabadaian jiwa manusia setelah rapuhnya fisik, yang tinggal menjadi seonggok jenazah. Jiwa berpisah dengannya dan tanpa perubahan sedikit pun dari yang sebelumnya. Tidak ada lokasi dan tempat baginya. Namun, dalam derajat eksistensi ia berada di alam malakuti atau barzakhi. Tempat munculnya gambaran-gambaran yang telah melekat dalam jiwa manusia akibat perbuatan selama memperlakukan fisik. Perbuatan itu membekas dan bisa menjadi luka bagi jiwa atau cahaya kebahagiaan baginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...