Ditengah kegelisahan, kemurungan, kebehagiaan dan semua perasaan yang datang silih berganti, hal itu tidak pernah disebabkan sama sekali oleh hal-hal di luar kita. Perasaan itu bahkan bisa datang sekejap dan hilang juga dengan tiba-tiba tanpa proses yang mendahuluinya. Antara satu rasa dengan rasa yang lain bahkan saling berkontradiksi. Perasaan tidak senang tidak perlu datang dengan gangguan dari luar. Bahkan cukup dengan mengkhayalkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada diri kita, sudah sangat mengganggu hidup kita. fenomena-fenomena itu menunjukkan sangat jelas perbedaan antara jiwa dan badan manusia.
Namun, bagaimana para filsuf menjelaskan pikiran dan
sesuatu yang muncul dari jiwa manusia itu datanng? Mereka berbeda pendapat
tentang sumber dari pikiran itu, tetapi semua bersepakat mengenai adanya khayalan
dan rasa-rasa di dalam jiwa. Bersikukuh menolak kejadian yang sangat jelas di
dalam diri kita, sangatlah musykil. Kecuali bagi orang-orang yang sama sekali memiliki
pikiran tertutup, meski mengaku berasal dari kalangan rasional dan ilmiah. Persoalan
jiwa adalah persoalan yang sangat jelas eksistensinya, karena langsung
dirasakan tanpa perantara apapun. Bahkan lebih jelas dari persoalan indrawi yang
notabene masih membutuhkan perantara.
Jiwa memiliki kekuatan atau daya yang berbeda-beda. Di
dalamnya banyak aktivitas yang dilakukan melalui perantara-perantara fisik manusia,
baik dengan organ luat seperti kaki tangan, mulut, dan sebagainya, atau organ
dalam seperti saraf, pergerakan darah, denyut jantung, dan lain-lain. Aspek
yang terlihat itu bisa diteliti secara ilmiah dengan alat-alat khusus. Namun,
aspek jiwa itu sendiri yang menjadi penyebab segala kompleksitas yang terjadi pada
diri manusia, memiliki problem-problem khusus yang berusaha dipahami oleh
filsuf dengan dalil-dalil rasional yang sudah dibangun. Bangunan pemikiran
filsafat menggunakan prinsip-prinsip akli secara ontologis. Dengannya filsuf
memahami realitas secara keseluruhan.
Ibnu Sina memahami jiwa manusia terpisah dengan badan sejak
awal, kemudian saling menyatu, menjadi senyawa, dengan badan yang murni fisik. Jiwa
itu berasal dari alam tinggi yang ditiupkan kepada fisik. Prinsip filsafat yang
digunakan tentu sangat kompleks. Yan terutama adalah kausalitas, kesempurnaan
wujud jiwa, pemahaman tentang hakikat gerak, ruang dan waktu, dan masih banyak
yang lainnya.
Badan yang tadinya tidak berbeda dengan benda-benda
yang lain, lantas memiliki daya untuk bergerak dengan sendiri sesuai kehendaknya
tanpa dorongan pasif dari badan-badan lain, seperti gerakan lemari yang hanya
terdiri dari badan, batu yang menggelinding, dan sebagainya. Perbedaan antara
setiap badan (benda fisik) adalah jiwa di dalam dirinya. Jika jiwa itu mempunyai
tingkatan dan derajat yang tinggi maka kemampuan benda yang kita lihat semakin
sempurna, misalnya bisa tumbuh membesar bagi tetumbuhan; bisa bergerak tanpa bantuan
dari luar seperti hewan; atau bahkan memiliki daya kreatifitas sebagaimana
manusia. Oleh karena itu, menurut Ibnu Sina, eksistensi jiwa berbeda dengan
eksistensi benda. Perbedaan itu menunjukkan benda sejak awal masuk ke dalam benda,
ketika benda itu siap menerimanya.
Namun, menurut Mulla Sadra, jiwa manusia berasal dari
materi kemudian berubah menjadi jiwa yang independen darinya. Beliau mengemukakan
prinsip “jismiyyatul Huduts wa Ruhaniyyatul Baqa’” artinya kebaruan jisim
dan kelanggengan jiwa. Sebelumnya, materi tidak memiliki apa-apa, tetapi
setelah proses gerak potensi ke aktual yang terus menerus, materi yang berasal
dari wujud terendah memanjat menuju derajat yang lebih sempurna. Di titik kesempurnaan
materi tertentu, ia mendapatkan pemberian baru berupa jiwa secara aktual. Perubahan
ini disebut perubahan substansial (harakah al-jawhariyyah) dari materi yang
rendah menuju jasad yang memiliki jiwa. Proses gerakan itu seperti pemakaian baju
kesempurnaan yang baru tanpa melepas baju sebelumnya, yakni al-lubs ba’da al-lubsi.
Hingga jiwa menjadi independen dari jiwa dan menguasai badan, mengendalikan
setiap kerja-kerjanya dan mendapatkan kenonmaterian murni.
Sifat Immateri yang didapatkan jiwa dalam filsafat
jiwa Mulla Sadra menjadi pertanda keabadaian jiwa manusia setelah rapuhnya fisik,
yang tinggal menjadi seonggok jenazah. Jiwa berpisah dengannya dan tanpa
perubahan sedikit pun dari yang sebelumnya. Tidak ada lokasi dan tempat
baginya. Namun, dalam derajat eksistensi ia berada di alam malakuti atau
barzakhi. Tempat munculnya gambaran-gambaran yang telah melekat dalam jiwa
manusia akibat perbuatan selama memperlakukan fisik. Perbuatan itu membekas dan
bisa menjadi luka bagi jiwa atau cahaya kebahagiaan baginya.
Komentar
Posting Komentar