Yang dibutuhkan dalam menulis bukan tangan, pena, kertas, atau alat-alat yang memerantarai kita untuk menulis. Menulis adalah proses mengungkapkan ide yang ada di dalam otak, karena itu alat yang paling penting dan paling utama adalah kepala berisi ide. Seseorang bisa saja menulis semaunya tanpa memikirkan apa yang harus ditulis. Tetapi hasilnya akan beda dengan orang yang benar-benar memiliki ide yang matang dan brilian. Kebanyakan tulisan hanya merupakan hasil latihan para penulis untuk melatih teknik penulisan agar indah dibaca atau agar terbiasa dengan menulis. Namun, tulisan mereka tidak merubah apa-apa bagi pembaca, kecuali mengulang kembali apa yang sudah diketahui.
Saya
mendapatkan pelajaran dari penulis yang sudah mengirimkan tulisannya di
pelbagai portal media online dan bahkan diminta untuk menulis. Dia selalu
menulis sesuatu sebisa mungkin berbeda dengan pikiran umum orang-orang (common
sense). Dia menggambarkan cara mencari ide yang out of the box agar tulisan
kita tetap bermanfaat bagi orang lain, bukan mengulang-ulang apa yang sudah
ada. Saya menyimpulkan ini merupakan satu hal yang perlu untuk dipertimbangkan
paling awal setelah memiliki ide untuk menulis. Apakah ide kita benar-benar
bermanfaat bagi orang lain? apakah ide kita menarik dan berkesan bagi
orang-orang? Kalau hanya mengutip dan mendeskripsikan apa yang sudah ada
kembali, itupun dengan cerita yang lazim didengar, orang-orang akan bosan membacanya,
dan celakanya, kalau kita sudah sering menulis, kita akan mendapat cap (stereotip)
dengan tulisan-tulisan kita. ini sangat penting untuk dipertimbangkan di awal.
Lalu, Penulis
itu menganalogikan dengan kamera yang bisa di-zoom out, zoom in, atau
melihat dari sisi samping objek permasalahan. Kalau orang-orang memandang
masalah dari depannya saja, maka cari pendekatan lain atau objek masalah yang
tidak dilihat oleh orang-orang. Dengan begitu orang yang membaca akan
mendapatkan kesan baru dari tulisan dan kaget karena mendapatkan perspektif
yang tidak dikiranya.
Membutuhkan
Keseriusan dan Penghayatan
Saya belum
pernah menemukan seorang penulis hebat yang sekarang mempunyai buku best seller
atau tulisan yang selalu membongkar cara berpikir orang, tetapi tidak diawali
dengan proses panjang yang melelahkan. Semua petuah-petuah tentang cara menjadi
sukses dalam bidang apapun tidak akan pernah terwujud jika hanya didengar saja.
Bukan juga dengan dilakukan hanya beberapa kali secara instan dan mendapatkan
hasilnya. Proses yang terus menerus dilakukan secara Istiqamah tanpa henti
meskipun dengan intensitas yang sedikit akan lebih membuahkan hasil yang jauh
lebih baik dibandingkan dengan satu kali percobaan yang mengeluarkan semua
tenaga yang dimiliki.
Sebagai
contoh, salah satu institusi yang sekarang sudah sangat berpengaruh di kalangan
sosial media, membahas tentang kajian Rumi. Awalnya kajian dan tulisan-tulisannya
dibagikan dengan cara yang sangat terbatas di lingkaran sekitar saja. Namun, silih
berganti berjalannya waktu, salah satu rutinitas yang dilakukan di Twitter
dengan membagikan petuah dan syair Rumi setiap hari sangat berdampak sekali
bagi pengikut di sosial medianya. Sisi pertama dari rutinitas itu, melatih pendiri
institute itu mendalami Rumi lebih besar dan tidak merasa berat dengan
prosesnya. Rutinitas akan menghilangkan kemalasan dan keinginan berat untuk
melakukan sesuatu karena tidak terbiasa. Itulah mengapa orang yang masih
awal-awal membuat rutinitas baru sangat sulit. Pembiasaan membutuhkan
perjuangan di awal-awal. Saya sendiri mengalami ketidakkonsistenan dalam
menulis. Padahal, awalnya saya sudah membuat tulisan perjanjian untuk menulis
setiap hari. Selalu ada hambatan atau lebih tepatnya rintangan. Di situ memerlukan
kelincahan melompati rintangan supaya rutinitas itu bisa terus berjalan.
Hal yang kedua
dari proses rutinitas itu, berdampak bagi orang yang membaca. Hukum kebiasaan
mengatakan: semua yang dilakukan secara terus menerus mustahil sama di setiap
tindakannya. Maksudnya, jika kita menulis pada tulisan pertama, kedua, ketiga,
dan seterusnya, tulisan-tulisan itu tidak pernah sama tingkatan kualitasnya. Mungkin
saja, yang pertama lebih baik dari yang ketiga. Namun, skill yang melekat pada
diri penulis berbeda ketika menulis pada tulisan yang ketiga dibandingkan
sebelumnya. Hal ini terjadi dalam semua hal. Saya melihat banyak pengalaman
orang-orang dari pembiasaan ini menghasilkan sesuatu yang sangat besar.
Ketekunan
atau penghayatan terhadap apa yang dilakukan juga sangat penting, sebagai salah
satu pendorong untuk bisa melakukan pembiasaan yang konsisten. Orang yang tidak
menghayati apa yang dilakukannya pasti merasa kebosanan. Saya mendapat
pelajaran ini dari salah satu dosen saya yang memang benar-benar orang yang mempunyai
kemampuan yang luar biasa.
Komentar
Posting Komentar