Langsung ke konten utama

Teknik Menulis dan Kebiasaan

 Yang dibutuhkan dalam menulis bukan tangan, pena, kertas, atau alat-alat yang memerantarai kita untuk menulis. Menulis adalah proses mengungkapkan ide yang ada di dalam otak, karena itu alat yang paling penting dan paling utama adalah kepala berisi ide. Seseorang bisa saja menulis semaunya tanpa memikirkan apa yang harus ditulis. Tetapi hasilnya akan beda dengan orang yang benar-benar memiliki ide yang matang dan brilian. Kebanyakan tulisan hanya merupakan hasil latihan para penulis untuk melatih teknik penulisan agar indah dibaca atau agar terbiasa dengan menulis. Namun, tulisan mereka tidak merubah apa-apa bagi pembaca, kecuali mengulang kembali apa yang sudah diketahui.

Saya mendapatkan pelajaran dari penulis yang sudah mengirimkan tulisannya di pelbagai portal media online dan bahkan diminta untuk menulis. Dia selalu menulis sesuatu sebisa mungkin berbeda dengan pikiran umum orang-orang (common sense). Dia menggambarkan cara mencari ide yang out of the box agar tulisan kita tetap bermanfaat bagi orang lain, bukan mengulang-ulang apa yang sudah ada. Saya menyimpulkan ini merupakan satu hal yang perlu untuk dipertimbangkan paling awal setelah memiliki ide untuk menulis. Apakah ide kita benar-benar bermanfaat bagi orang lain? apakah ide kita menarik dan berkesan bagi orang-orang? Kalau hanya mengutip dan mendeskripsikan apa yang sudah ada kembali, itupun dengan cerita yang lazim didengar, orang-orang akan bosan membacanya, dan celakanya, kalau kita sudah sering menulis, kita akan mendapat cap (stereotip) dengan tulisan-tulisan kita. ini sangat penting untuk dipertimbangkan di awal.

Lalu, Penulis itu menganalogikan dengan kamera yang bisa di-zoom out, zoom in, atau melihat dari sisi samping objek permasalahan. Kalau orang-orang memandang masalah dari depannya saja, maka cari pendekatan lain atau objek masalah yang tidak dilihat oleh orang-orang. Dengan begitu orang yang membaca akan mendapatkan kesan baru dari tulisan dan kaget karena mendapatkan perspektif yang tidak dikiranya.

Membutuhkan Keseriusan dan Penghayatan

Saya belum pernah menemukan seorang penulis hebat yang sekarang mempunyai buku best seller atau tulisan yang selalu membongkar cara berpikir orang, tetapi tidak diawali dengan proses panjang yang melelahkan. Semua petuah-petuah tentang cara menjadi sukses dalam bidang apapun tidak akan pernah terwujud jika hanya didengar saja. Bukan juga dengan dilakukan hanya beberapa kali secara instan dan mendapatkan hasilnya. Proses yang terus menerus dilakukan secara Istiqamah tanpa henti meskipun dengan intensitas yang sedikit akan lebih membuahkan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan satu kali percobaan yang mengeluarkan semua tenaga yang dimiliki.

Sebagai contoh, salah satu institusi yang sekarang sudah sangat berpengaruh di kalangan sosial media, membahas tentang kajian Rumi. Awalnya kajian dan tulisan-tulisannya dibagikan dengan cara yang sangat terbatas di lingkaran sekitar saja. Namun, silih berganti berjalannya waktu, salah satu rutinitas yang dilakukan di Twitter dengan membagikan petuah dan syair Rumi setiap hari sangat berdampak sekali bagi pengikut di sosial medianya. Sisi pertama dari rutinitas itu, melatih pendiri institute itu mendalami Rumi lebih besar dan tidak merasa berat dengan prosesnya. Rutinitas akan menghilangkan kemalasan dan keinginan berat untuk melakukan sesuatu karena tidak terbiasa. Itulah mengapa orang yang masih awal-awal membuat rutinitas baru sangat sulit. Pembiasaan membutuhkan perjuangan di awal-awal. Saya sendiri mengalami ketidakkonsistenan dalam menulis. Padahal, awalnya saya sudah membuat tulisan perjanjian untuk menulis setiap hari. Selalu ada hambatan atau lebih tepatnya rintangan. Di situ memerlukan kelincahan melompati rintangan supaya rutinitas itu bisa terus berjalan.

Hal yang kedua dari proses rutinitas itu, berdampak bagi orang yang membaca. Hukum kebiasaan mengatakan: semua yang dilakukan secara terus menerus mustahil sama di setiap tindakannya. Maksudnya, jika kita menulis pada tulisan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, tulisan-tulisan itu tidak pernah sama tingkatan kualitasnya. Mungkin saja, yang pertama lebih baik dari yang ketiga. Namun, skill yang melekat pada diri penulis berbeda ketika menulis pada tulisan yang ketiga dibandingkan sebelumnya. Hal ini terjadi dalam semua hal. Saya melihat banyak pengalaman orang-orang dari pembiasaan ini menghasilkan sesuatu yang sangat besar.

Ketekunan atau penghayatan terhadap apa yang dilakukan juga sangat penting, sebagai salah satu pendorong untuk bisa melakukan pembiasaan yang konsisten. Orang yang tidak menghayati apa yang dilakukannya pasti merasa kebosanan. Saya mendapat pelajaran ini dari salah satu dosen saya yang memang benar-benar orang yang mempunyai kemampuan yang luar biasa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...