Pembahaasan Epistemologi berkutat pada proses pengetahuan, sumbernya dan neracanya. Dulunya pengetahuan dibatasi pada apa yang hadir dimental manusia. Para filsuf mengkajinya dari pelbagai aspek untuk menentukan sumber-sumbernya secara tashawwurat ataupun tashdiqaat. Pembahasan ini masuk pada ranah ilmu yang didapatkan secara perolehan (iktisab) atau memerlukan usaha rasional atau empiris untuk mendapatkannya. Namun, dalam perkembangannya diskursus itu tidak terbatas pada pengetahuan yang memiliki perantara. Manusia dapat memperoleh pengetahuan langsung tanpa ada pemisahan antara objek dan subjek. Pengetahuan ini hanya bisa diketahui secara individual dan tidak bisa diajarkan. Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan tentang pengetahuan ini tiada lain hanya sebagai penjelasan yang konsepsional sebagai cerminan tentang pengalaman ini. Namun, penjelasan-penjelasan itu rentan disalahpahami karena penggunaan kata-kata untuk menjelaskannya hanya dipahami oleh yang pernah mengalami pengetahuan ini secara langsung.
Pengetahuan
tentang Yang Gaib
Manusia
pada hakikatnya sudah memiliki pengetahuan yang ghaib pada levelnya
masing-masing. Sesuatu yang ghaib berarti sesuatu yang tersembunyi. Secara umum
hal-hal yang ghaib adalah sesuatu yang tidak dapat diindrai secara langsung.
Kenyataan ini kita ketahui dalam diri kita masing-masing, seperti perasaan
langsung terhadap kesedihan, bahagia, cinta, gelisah dan sebagainya.
Pengetahuan langsung tentang konsep-konsep mental kita sendiri juga tidak
terpisah dari jiwa manusia yang mengetahui. Hal inilah yang disebut sebagai
pengetahuan hudhuri. Pengetahuan ghaib individual itu tidak ditemukan secara
eksperimental, meskipun membedah fisik manusia. Namun, pengetahuan itu sangat
jelas karena selalu dialami oleh manusia. Pengetahuan tentang Tuhan pada
hakikatnya menjadi asal pengetahuan manusia. Namun, keterikatan dengan dunia
memalingkan perhatiannya terhadap Tuhan. Oleh karena itu, dengan latihan dan
praktik tasawuf manusia bisa mengalami dan menyaksikan Tuhan secara langsung
karena melepaskan segala sesuatu selainnya. Pelepasan itu tidak berarti
menghilangkan tanggung jawab sosial, justru tanggung jawab itu adalah bagian
dari jalan menuju Allah swt. Praktik-praktik itu dijelaskan secara panjang
lebar di tempat lain.
Sumber
Pengetahuan dalam Tasawuf
Pengetahuan
tasawuf adalah pengetahuan langsung tanpa perantaraan oleh apapun. Antara
subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui melebur menjadi satu.
Penyaksian-penyaksian yang dialami oleh para sufi bukan berarti Tuhan berubah
menjadi fisik. Melainkan, manusia menemukan Tuhan dalam cerminan-cerminan-Nya
sejauh mana tingkatan yang diselami oleh para sufi. Oleh karena itu sumber
pengetahuan berasal dari Tuhan langsung. Segala sesuatu musnah selain Tuhan.
Pengetahuan-pengetahuan manusia adalah ilham dan wahyu yang diperoleh melalui
latihan yang keras dalam melawan ego. Membersihkan karatan-karatan hati dari
segala dosa hingga dapat memantulkan cahaya Ilahi dalam cermin hatinya. Seperti
itulah, pengetahuan Tasawuf yang sempat diumpakan oleh Murtadha Mutahari.
Komentar
Posting Komentar