Langsung ke konten utama

Epistemologi Tasawuf

Pembahaasan Epistemologi berkutat pada proses pengetahuan, sumbernya dan neracanya. Dulunya pengetahuan dibatasi pada apa yang hadir dimental manusia. Para filsuf mengkajinya dari pelbagai aspek untuk menentukan sumber-sumbernya secara tashawwurat ataupun tashdiqaat. Pembahasan ini masuk pada ranah ilmu yang didapatkan secara perolehan (iktisab) atau memerlukan usaha rasional atau empiris untuk mendapatkannya. Namun, dalam perkembangannya diskursus itu tidak terbatas pada pengetahuan yang memiliki perantara. Manusia dapat memperoleh pengetahuan langsung tanpa ada pemisahan antara objek dan subjek. Pengetahuan ini hanya bisa diketahui secara individual dan tidak bisa diajarkan. Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan tentang pengetahuan ini tiada lain hanya sebagai penjelasan yang konsepsional sebagai cerminan tentang pengalaman ini. Namun, penjelasan-penjelasan itu rentan disalahpahami karena penggunaan kata-kata untuk menjelaskannya hanya dipahami oleh yang pernah mengalami pengetahuan ini secara langsung.

Pengetahuan tentang Yang Gaib

Manusia pada hakikatnya sudah memiliki pengetahuan yang ghaib pada levelnya masing-masing. Sesuatu yang ghaib berarti sesuatu yang tersembunyi. Secara umum hal-hal yang ghaib adalah sesuatu yang tidak dapat diindrai secara langsung. Kenyataan ini kita ketahui dalam diri kita masing-masing, seperti perasaan langsung terhadap kesedihan, bahagia, cinta, gelisah dan sebagainya. Pengetahuan langsung tentang konsep-konsep mental kita sendiri juga tidak terpisah dari jiwa manusia yang mengetahui. Hal inilah yang disebut sebagai pengetahuan hudhuri. Pengetahuan ghaib individual itu tidak ditemukan secara eksperimental, meskipun membedah fisik manusia. Namun, pengetahuan itu sangat jelas karena selalu dialami oleh manusia. Pengetahuan tentang Tuhan pada hakikatnya menjadi asal pengetahuan manusia. Namun, keterikatan dengan dunia memalingkan perhatiannya terhadap Tuhan. Oleh karena itu, dengan latihan dan praktik tasawuf manusia bisa mengalami dan menyaksikan Tuhan secara langsung karena melepaskan segala sesuatu selainnya. Pelepasan itu tidak berarti menghilangkan tanggung jawab sosial, justru tanggung jawab itu adalah bagian dari jalan menuju Allah swt. Praktik-praktik itu dijelaskan secara panjang lebar di tempat lain.

Sumber Pengetahuan dalam Tasawuf

Pengetahuan tasawuf adalah pengetahuan langsung tanpa perantaraan oleh apapun. Antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui melebur menjadi satu. Penyaksian-penyaksian yang dialami oleh para sufi bukan berarti Tuhan berubah menjadi fisik. Melainkan, manusia menemukan Tuhan dalam cerminan-cerminan-Nya sejauh mana tingkatan yang diselami oleh para sufi. Oleh karena itu sumber pengetahuan berasal dari Tuhan langsung. Segala sesuatu musnah selain Tuhan. Pengetahuan-pengetahuan manusia adalah ilham dan wahyu yang diperoleh melalui latihan yang keras dalam melawan ego. Membersihkan karatan-karatan hati dari segala dosa hingga dapat memantulkan cahaya Ilahi dalam cermin hatinya. Seperti itulah, pengetahuan Tasawuf yang sempat diumpakan oleh Murtadha Mutahari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...