Langsung ke konten utama

Kosmologi Tasawuf

Kosmologi adalah pembahasan tentang realitas alam semesta dan asal-usulnya. Berbeda dengan ontologi yang lebih umum dari pembahasan kosmos karena menuju langsung pada realitas itu sendiri secara keseluruhan. Oleh karena itu dalam pandangan tasawuf, kosmos hanyalah manifestasi ilahi yang di dalamnya terkadung tingkatan-tingkatan sesuai kedekatannya pada manifestasi ilahi yang pertama. Segala sesuatu selain Dia adalah manifestasi yang bergantung. Kosmos tidak memiliki keberadaan yang sebenar-benarnya. Realitas yang sebenarnya menampak pada untaian alam semesta.

Alam Rububiyyah

Penyebutan Allah sebagai nama adalah kemencakupan bagi seluruh sifat dan asma lainnya. Dengan nama itulah manusia mengenal Zat tuhan yang tersembunyi. Pengenalan terhadap Zatnya adalah makrifat tertinggi dan tujuan kehiduoan manusia. Pengenalan itu tidak secara konsepsional atau hushuli melainkan melalui makrifat kehadiran dan pengalaman manusia secara langsung tanpa perantara. Manusia bisa mencerap hikmah kedalaman nama-nama Allah swt dengan merenungi dan bertindak sesuai dengannya. Pada Alam Rububiyyah belum ada satupun ciptaan. Hanya Dia dan nama-namanya yang termanifestasikan dalam maqam ahadiyah dan wahidiyah.

Alam ‘Uqul

Alam ‘Uqul atau alam akal adalah manifestasi dalam ciptaan Allah swt yang pertama. Jika dipandang secara kosmologi, tingkatan inilah yang paling tertinggi karena sebelumnya tidak disebut sebagai sesuatu selain Tuhan. Alam ini memiliki ciri immaterial yang sederhana dan tidak berangkap. Di sinilah terletak ilmu-ilmu tuhan menurut sebagia pendapapat, yakni ummul kitab. Namun, pendapat lain Ilmu-ilmu Tuhan atau A’yan ats-Tsabitat berada dimanifestasi pertama alam Rububiyyah. Kemudian termanifestasi menjadi kosmos/ciptaan yang disebut sebagai A’yan al-Kharijiyah. Para Malaikat Muqarrabin mendapatkan tingkatan di alam ini pula.

Alam Mitsal

Alam Mitsal adalah alam penghubung antara manifestasi immateri murni dan manifestasi material. Oleh karena itu, di satu sisi alam ini memiliki sisi Immateri karena tidak ada dimensi ruang, waktu, dan kepadatan. Hanya saja, masih tersisa bekas-bekas Immaterial seperti warna, rasa, bau dan sebagainya di alam ini. Gambaran khayal di alam ini melampaui batasan waktu sehingga perbandingan di alam dunia tidak dapat diukur. Di alam inilah terjadi siksaan kubur yang dirasakan oleh manusia. Di sini juga surga dan neraka berada. Oleh karena itu, gambaran-gambaran yang diungkapkan oleh Al-Qur’an akan memiliki kenyataan sebagaimana karakteristik alam ini.

Alam Maddah

Alam Maddah adalah alam bendawi yang dapat diukur panjang, lebar dan kedalamannya. Baik itu materi dalam fisika atau energi-energi yang ditangkap secara eksperimental. Alam ini adalah manifestasi dari alam sebelumnya dan merupakan paling rendahnya alam. Di dalamnya setiap aktivitas dibatasi oleh ruang dan waktu. Batasan-batasan itu mungkin saja berubah seiring dengan perkembangan teknologi manusia, tetapi tidak pernah keluar dari batasan-batasan material. Alam ini memiliki batasan antara satu benda dan benda lainnya. Juga batasan antara materialitas alam semesta seluruhnya dengan alam mitsal. Batasan itu memiliki awal sebagaimana awal mula munculnya waktu dan akhir dari waktu setelah energi yang memasok realitas material tidak berjalan lagi. Alam semesta senantiasa bergerak dari potensisalitas menuju aktualitas dengan tambahan forma-forma baru dalam dirinya. Dalam tasawuf, alam materi tidak mendapat perhatian kecuali sebagai perantara menuju Allah swt.

Alam Insan Kamil

Alam insan kamil tercermin dalam tingkatan nur Muhammadiyyah yang paling pertamanya tingkatan dan paling mulianya ciptaan. Alam ini dihuni oleh manusia-manusia yang disucikan oleh Allah swt. Secara ontologis bisa disederajatkan dengan alam intelek awal. Namun, beberapa pandangan menyebut para pesalik mencapai tingkatan tertinggi di maqam ahadiyyah. Oleh karena itu, maqam itulah yang menjadi tingkatan tertinggi manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...