Langsung ke konten utama

Manusia dalam Tasawuf

Manusia adalah misteri yang tidak pernah habis untuk dikaji. Sejak Aristoteles hingga saat ini, para filosof mengemukakan pandangannya dengan pelbagai pendekatan dan metode. Setiap hasil dari pandangan tentang manusia bergantung pada pendekatan yang digunakan. Hal ini tidak berarti semua pemahaman tentang manusia adalah relatif, karena kesimpulan-kesimpulannya dianggap benar menurut metode tertentu sedangkan jika dikaji dengan metode lain akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Pada dasarnya setiap metode itu memiliki kebenarannya selama mencerminkan realitas yang dikaji. Hanya saja sejauh mana kedalaman dan kekomprehensifan penelitiannya tentu akan menyebabkan perbedaan kesimpulan. Selain itu, cara berpikir manusia sangat dipengaruhi oleh keluasan wawasannya dalam menalar esensi manusia yang sebenarnya.

Hakikat Manusia

Mari kita memulai menelisik satu persatu pandangan para pemikir secara umum tentang manusia melalui pendekatan metodologis. Dalam keilmuan secara umum, dasar epistemologis menggunakan metode eksperimental, filosofis atau gabungan dari keduanya. Selain itu, hanya berpendapat melalui dogma agama dan teks-teks sejarah. Secara eksperimental tolak ukur yang digunakan adalah sejauh mana sebuah teori memiliki kaitan dengan pengalaman langsung manusia secara objektif atau subjektif. Dalam bahasa lain, menggunakan indra luar atau indra dalam. Kemudian, hasil pengamatan itu disusun secara induktif untuk membentuk kaidah-kaidah umum yang bisa diterapkan kembali kepada hal yang partikular. Adapun metode filosofis bersandar pada kaidah-kaidah umum pemikiran yang terlepas dari pengalaman subjektif atau objektif. Kaidah itu bisa berupa prinsip non-kontradiksi dan kausalitas. Kemudian peneliti mengamati alam eksternal secara mendalam untuk menemukan hakikat manusia itu sendiri.

Pandangan paling umum dan klasik tentang manusia adalah hakikat manusia ditentukan oleh rasionalitasnya. Setiap manusia disebut sebagai manusia jika memiliki fakultas rasio secara potensial ataupun aktual. Pandangan ini dimulai oleh Aristoteles dalam pembahasan logikanya. Bahwa manusia didefinisikan sebagai manusia sempurna. Kemudian, gurunya bernama Plato menyebut manusia bagian dari bayangan-bayangan ide universal yang merupakan cetakan umum dari segala sesuatu. Konsep universal yang dimiliki manusia adalah sesuatu yang memiliki hakikat nyata di luar sana. Manusia berasal dari alam itu kemudian turun ke alam bayangan ini sehingga menyebabkannya lupa akan kesempurnaannya yang dulu. Dalam filsafat barat hakikat manusia sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani sebelumnya dengan tambahan-tambahan baru, seperti manusia adalah makhluk yang asalnya adalah keburukan mirip dengan serigala, atau Roessau mengatakan manusia hakikatnya adalah kebaikan. Selain itu, Descartes menyebut teori dualisme jiwa dan badan bagi manusia yang berhubungan secara paralel.  

Dalam konteks tasawuf, manusia dipahami sebagai alam besar yang mencerminkan seluruh realitas yang ada. Allah memanifestasikan dirinya kepada wujud sempurna Muhammad sebagai tingkatan tertinggi alam semesta secara wujudi. Oleh karena itu, hakikat manusia adalah wadah yang menampung kesempurnaan Ilahi sesuai usahanya. Jika hanya mampu menangkap manifestasi material yang tercermin dalam binatang atau rasionalitas sebagai manifestasi alam akal, maka manusia hanya dipandang sebatas manusia rasional sebagaimana pandangan pada umumnya. Aksiden-aksiden manusia yang berupa fisik tidak dianggap sebagai hakikat manusia. Namun, jika manusia mampu mencerap hakikat tertinggi yang melampaui akal, maka manusia menapaki tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumya. Oleh karena itulah, Ibnu Arabi menyebut insan kamil adalah manusia yang dirinya adalah cermin Ilahi dengan penampakan nama-nama ilahi di dalam dirinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...