Langsung ke konten utama

Pengantar Memahami Tasawuf dalam Islam

Tasawuf adalah aspek puncak dalam keberagamaan seseorang. Islam bukan sekadar agama yang mengajarkan aturan-aturan yang tidak bermakna, melainkan terdapat sisi spiritualitas yang sangat dalam pada setiap formalitas yang ditetapkan secara kanonik. Tasawuf adalah penggalian sisi spiritualitas Islam yang tujuan utamanya adalah menuju Allah swt. Dalam perjalanan keberagamaan seseorang, tidak sedikit yang berakhir pada Tasawuf. Contohnya Al-Ghazali, Ibnu Sina dan tokoh-tokoh fenomenal dalam Islam. Oleh karena itu, di dalam tasawuf, tujuan agama menjadi jelas, manusia bisa membedakan keislaman yang hakiki dan keislaman yang tertipu oleh simbol-simbol semata.

Ada beberapa pendapat para ahli tentang Tasawuf yang diambil dari terma linguistik dan historis. Pertama, kata “Ash-shaff” yang dinisbahkan kepada orang-orang yang salat di baris paling depan, sebagaimana pada salat jama’ah baris pertama memiliki kemuliaan, begitu pulalah Tasawuf. Kedua, diambil dari kata ahl as-shuffa merujuk kepada orang-orang yang ikut berhijrah bersama nabi dan meninggalkan semua kepemilikan duniawinya. Sampai-sampai mereka tidur di lantai-lantai mesjid dan pelana kudanya, karena kemuliaan mereka itulah dijadikan sebagai salah satu contoh dan asal-usul tasawuf. Ketiga, berasal dari kata shufa yang bermakna penyucian atau pemurnian. Dari kata ini diketahui bahwa inti dari Tasawuf adalah proses pensucian diri (tazkiyatu an-nafs) dari segala kemelakatan selain Allah swt. Pendapat terakhir mengatakan kata Tasawuf berasal dari kata as-shuf sebagai penyebutan bagi bulu yang terbuat dari wol. Menurut pendapat ini, orang-orang yang bertasawuf sering menggunakan pakaian-pakaian seperti itu sebagai bentuk kesederhanaan. Selain itu, kata ini juga berkaitan dengan kata sufi yang biasa disebut sebagai pelaku tasawuf. Dari asal-usul etimologis itu memang setiap kata memiliki keterkaitan dengan Tasawuf dan sangat konfirmatif. Haidar Bagir dalam bukunya lebih memiliki kata shafa atau pemurnian sebagai asal kata yang paling mendekati dibanding yang lainnya.

Adapun secara terminologis, Tasawuf dimaknai sebagai usaha penyucian diri untuk menuju Allah swt dengan bersungguh-sungguh dan memancarkan akhlak yang mulia. Definisi itu mencerminkan banyak pandangan para ahli tentang Tasawuf. Unsur-unsur yang mesti ada dalam Tasawuf adalah keikhlasan menuju Allah semata, usaha yang sungguh-sungguh dalam segala aspek kehidupan, dan penyucian diri dari segala sesuatu selain Allah. Hal itu membedakannya dari Akhlak yang bertujuan memperbaiki kerusakan-kerusakan jiwa dan mengisinya dengan karakter mulia. Sedangkan tasawuf lebih dari sekadar akhlak.

Tasawuf juga memiliki perkembangan dalam setiap zaman. Definisi dan praktek yang dilakukannya bisa berbeda-beda, tetapi substansi tasawuf tetap ada sejak Nabi Muhammad saw. Awalnya tasawuf berfokus pada akhlak dan ibadah, sehingga sangat sulit untuk membedakan antara ahli tasawuf dengan ‘abid. Kemudian juga, identitas selanjutnya dari tasawuf dilihat dari kezuhudannya terhadap dunia, hal ini juga merancukan sufi dengan zahid. Pada dasarnya, setiap sifat-sifat mulia mesti dimiliki oleh seorang pesalik atau sufi. Namun, perbedaan mendasar bagi seorang sufi adalah tujuan utamanya mencapai Allah swt. Mungkin saja banyak kita temui ahli ibadah, tetapi masih memikirkan masalah dunia atau hanya mencari surga dan takut neraka. Juga, banyak orang-orang zuhud yang tidak betul-betul karena Allah swt semata, tetapi derajat-derajat spiritual yang justru menyibukkannya.

Namun, terlepas dari itu tasawuf memang juga dibagi menjadi beberapa pendekatan oleh sarjana tasawuf belakangan ini. Pertama, tasawuf akhlaki membahas tentang proses penyempurnaan menuju Allah swt dengan karakter-karakter mulia dan melepaskan karakter-karakter buruk. Dalam kajian ini dibahas sebab-sebab karakter buruk serta mudharatnya dan sebab-sebab mendapatkan kemuliaan akhlak dengan mempertimbangkan rintangan-rintangannya. Kedua, tasawuf amali merupakan praktek tasawuf yang mengkususkan diri bagi para murid untuk mencapai kesempurnaan-kesempurnaan insani. Tasawuf ini kebanyakan membahas maqamat sebagai tingkatan-tingkatan yang diperoleh oleh pesalik setelah berjuang dengan sungguh-sungguh dan telah melekat pada dirinya. Selain itu, Ahwal adalah kondisi-kondisi yang datang begitu saja pada diri pesalik dan menyebabkan perasaan yang sangat dalam. Biasanya dalam bentuk sedih, cinta, takut, dan sebagainya. Kondisi ini akan hilang dalam beberapa saat. Para sufi menyebutnya seperti kilat yang datang pada murid. Menelaah secara mendalam tingkatan dan kondisi merupakan pengetahuan awal untuk mempersiapkan diri mencapai maqam-maqam tertentu. Dalam tasawuf amali yang lain, praktek sufistik tampak dalam bentuk organisasi tarikat melalui pengamalan zikir secara konsisten dan mengamalkan adab-adab yang diberikan oleh guru, hingga mendapatkan sinaran cahaya ilahi yang lebih terang. Terakhir, tasawuf teoritis atau falsafi yang berkembang beberapa abad setelah lahirnya ilmu-ilmu keislaman. Kajian menggunakan demonstrasi deduktif dan analisis rasional untuk membuktikan pengalaman-pengalaman spiritual yang dirasakan oleh para sufi. Yang paling terkenal adalah Ibnu Arabi. Beliau menyusun kitab-kitab bernuansa rasional dalam pembahasan kesatuan wujud atau wahdatul wujud.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...