Langsung ke konten utama

Perjalanan Mendaki

Dalam kehidupan penyempurnaan diri, filosofi yang paling sering digunakan adalah pendakian memuncak hingga mencapai titik tertinggi dari lereng gunung. Ada banyak hal yang bisa mencerminkan perjalanan asli manusia dengan analogi di dalam pendakian itu. Sebut saja sulitnya pendakian yang ditempuh bersamaan dengan semakin dekatnya kita ke puncak. Terdapat banyak rintangan dan hal-hal yang bisa menjatuhkan seseorang tiba-tiba ke jurang yang paling bawah, tersesat hingga tak bisa kembali lagi melihat cahaya penerang jalan. Perjalanan itu membutuhkan istirahat yang cukup untuk mengambil tenaga. Terakhir, seorang pendaki mesti sangat berhati-hati dari banyaknya gangguan yang datang dari perjalanan itu sendiri atau kawan-kawan sekitar dalam perjalanan yang tidak mengetahui perjalananmu.

Seorang pejalan mesti memahami dirinya dan perjalanannya, karena sesungguhnya pengetahuan terhadap medan perjalanan adalah setengah dari perjalanan. Apa yang saya alami adalah banyaknya keterjatuhan yang tidak bisa kuhitung kembali, dan banyaknya pengulangan kembali dari nol untuk mau memulai lagi. Jangan sampai kita tidak tersadar bahwa telah terjatuh, meskipun dengan penampilan yang tidak berubah, qalbu bisa saja mengalami perubahan yang begitu drastis dibanding sesuatu yang tampak. Pada dasarnya, setiap perjalanan selalu bersifat mendaki. Setiap tingkatan yang lebih tinggi akan memunculkan kesulitan yang lebih tinggi pula, musuh-musuh baru yang terlihat seperti sahabat, tipuan baru yang belum pernah terlihat sebelumnya. Sebagaimana juga perang, seseorang harus paham medan pertempuran dan kemungkinan ancaman yang akan datang serta peluang-peluang. Banyak keterjatuhan muncul karena tidak melihat sesuatu sebagai ancaman, dan banyak ketertinggalan karena tidak melihat sesuatu sebagai peluang batu loncatan. Hampir setiap perjalanan didesain seperti itu, hanya saja perjalanan tertinggi adalah puncak tertinggi dan abadi.

Saya merenungi apa saja tujuan tertinggi dalam hidup ini. Setiap orang mempunyai tujuan yang sama, tetapi kebanyakan hanya mencari manifestasi-manifestasi dari tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara yang asli dan turunan. Kesempurnaan itu bersifat asli dan merupakan sumber segala sesuatu. Dengannya segala sesuatu bergantung, sedangkan turunan adalah segala sesuatu yang kemunculannya membutuhkan yang asli secara langsung atau tidak. Mengapa orang-orang menginginkan kenikmatan, kebahagiaan dari turunan-turunan itu? bukankah ia akan musnah dan menambah kekecewaan. Sekalipun ia abadi, ia belum menjadi sandaran yang terbaik bagi manusia. Tidak ada jalan lain kecuali menuju Allah swt, karena setiap martabat seseorang ditentukan sampai sejauh mana dan setinggi mana tujuannya.

Perjalanan spiritual penuh dengan kerikil yang menusuk dan bebatuan yang licin. Jika tidak hati-hati, seseorang akan terjatuh dan terluka. Mungkin saja keterjatuhannya tidak jauh dan bisa kembali lagi dengan cepat. Namun, orang yang berjalan dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan mendapatkan kesempurnaan yang sedikit demi sedikit akan terasa secara gradual. Pencapaian instan tidak akan pernah membawa pada keaslian tujuan. Antara tujuan dan proses adalah dua hal yang tidak bisa terpisah. Tercapainya tujuan bersamaan dengan berjalannya proses ke tingkat yang lebih tinggi secara berkesinambungan. Terdapat gerak naik atau gerak turun. Jangan sampai kita menganggap diri ini naik memuncak padahal sedang menghinakan diri kita atau sebaliknya.

Sebab-sebab kejatuhan bisa dijaga dengan konsisten. Dalam awal perjalanan untuk menjaga konsisten adalah hal yang sangat sulit, tetapi setelah mendapatkan malakah perbuatan, tindakan-tindakan akan terasa mengalir. Di satu sisi, awal perjalanan adalah sesuatu yang mudah, makanya ketika rintangan semakin tinggi, banyak orang yang kalah dan terpaksa mengulang dari nol lagi. Padahal, jika seseorang melihat pentingnya konsistensi maka setiap pembelajar tidak akan pergi dari tindakan-tindakannya setelah mendapat hasil sempurna. Banyak usaha yang dilakukan tidak tuntas, hal itu tidak jauh berbeda dengan tidak melakukan sama sekali. Namun, melakukan secara totalitas, sekecil apapun manfaatnnya, akan sangat dihargai.

Dalam Islam, seorang pejalan mesti selalu bertafakkur, merenung secara mendalam. Tentu bukan merenung sembarangan tanpa manfaat. Di sinilah mengambil waktu istirahat yang cukup. Orang-orang akan mendapatkan jenuh atau bosan. Kita harus mencari cara mengatasi itu. Prinsipnya, setiap permasalahan pasti ada solusi. Setiap solusi ditemukan dengan tafakkur. Akan banyak persoalan-persoalan dalam kamus kehidupan setiap orang menghadap dengan berbagai wajah. Sebagian kecil dari itu tidak bisa diubah dan diatur. Seperti perasaan orang lain terhadap kita. Orang suci seperti Nabi saja dibenci, apalagi orang seperti kita yang jelas memiliki banyak kesalahan. Tidak perlu risau dengan hal-hal seperti itu. Tugas kita bukan untuk menaklukkan hati setiap orang. Banyak hal yang bisa direnungi. Tulisan ini pada dasarnya sebagai objek perenungan saya. Mungkin suatu saat bisa bermanfaat.

Harapan tak akan sampai tanpa tindakan, tetapi kekecewaan akan datang karena salah meletakkan harapan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...