Dalam sejarah, pada hari rabu terakhir bulan safar Rasulullah diracun. Sejak 12 hari setelah itu Nabi wafat. Tentu hari itu sangat menyedihkan bagi kaum muslimin seluruhnya hingga sekarang. Namun disamping itu, utusan Allah telah kembali kepada kekasihnya yang abadi. Kesedihan kita tidak lebih besar dari kesedihan Nabi dalam melihat umatnya yang terpecah belah. Kebahagiaan Nabi tidak lebih kecil daripada kita ketika bertemu kepada Rabbnya.
Sejarah
pasti berulang jika syarat-syarat sebab itu kembali ada. Hari-hari yang datang
kemudian dan yang telah lewat secara materil bisa diidentifikasi sebab-sebabnya.
Banyak bala’ yang menghampiri manusia dan rezeki yang mendatanginya. Keduanya
tidak muncul tanpa sebab dan syarat-syarat yang mendahuluinya. Dalam cerahan
akal dan penelitian eksperimental, kematian mempunyai banyak sebab yang tidak
mesti didahului sakit, begitu pula sakit tidak mesti didahului perbuatan buruk
yang dilakukan. Terdapat hal-hal yang bisa dikontrol dan tidak dikontrol
sebagai sebab terjadinya sesuatu pada kita secara materil. Namun, dibalik
gerak-gerak itu terdapat sebab hakiki yang melandasi hukum materil dunia. Terdapat
hukum yang belum dicerap oleh akal manusia, sehingga manusia menganggapnya tidak
masuk akal. Namun, pada dasarnya semua kejadian mempunyai sebab, hanya saja
menentukan objek sebab oleh manusia masih sangat lemah.
Kepercayaan
terhadap hari rabu terakhir safar sebagai hari yang diturunkan ratusan ribu
bala’ ke bumi adalah kepercayaan yang belum bisa diverfikasi secara valid. Akan
tetapi, hal ini mungkin saja terjadi. Nyatanya banyak kecelakaan yang terjadi
setiap hari, tidak peduli itu hari rabu atau bukan. Terlepas dari adanya
kehendak Allah swt, setiap bala’ bagi manusia bisa diminimalisir dengan memasimalkan
kehati-hatian dalam berbuat. Memang semestinya manusia selalu berhati-hati,
karena keburukan bisa datang kapan saja. Namun bagi orang yang memerhatikan
dirinya, selalu mengawasi (muraqabah) dirinya dari potensi-potensi
malapetaka dengan izin Allah swt dirinya tidak akan tertimpa musibah. Pada dasarnya,
semua yang terjadi di dunia ini berdasarkan ukuran-ukuran yang jika manusia
mengikutinya akan mendapatkan hasil sesuai ukuran itu. Ketetapan Allah tidak
akan berubah atas ukuran-ukuran-Nya. Beruntungnya, manusia mampu mencerap sebagian
ukuran itu untuk membawanya pada kesempurnaan dan menghindari dari malapetaka.
Inti pembicaraan
saya adalah hari-hari dalam seminggu tidak berdampak signifikan dalam
menentukan adanya malapetaka. Terdapat sebab-sebab materil dan non-materil yang
harus diwaspadai dan diperhatikan sejauh jangkauan visi manusia. Dan yang tidak
kalah pentingnya bahwa tidak setiap bala’ adalah keburukan. Dalam arti ujian, bala’
menjadi tangga untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi itulah yang disebut ujian
kebaikan. Tidak ada nama hari yang menjadi penyebab turunnya bala’. Lagipula
nama-nama itu hanya bentukan manusia saja sejak ribuam tahun yang lalu. Realitas
disebabkan oleh realitas yang menyebabkannya. Bukan bentukan nama-nama hari
yang dibangun oleh manusia.
Jadilah
seorang muslim yang rasional dan bebas. Jangan terkungkung oleh simbolisme yang
dibangun oleh formalitas semata. Islam mengajarkan hikmah dan spiritualitas
sebagai substansi kehidupan. Hikmah-hikmah itu disesuikan dengan kondisi
manusia yang hidup di alam materi. Alam yang hakikatnya adalah simbol-simbol
bagi kenyataan yang lebih asli, yaitu kenyataan dari kenyataan. Tugas manusia adalah
menerobos simbol-simbol itu, tidak terjebak dalam simbol. Meskipun memang simbol
sangat penting untuk dimeriakkan agar terdapat tanda-tanda yang jelas antara
satu dan yang lain.
Hari-hari dan
waktu-waktu yang cukup berpengaruh dalam aturan keagamaan adalah bagian dari
realitas kehidupan manusia. Penamaan itu hanya sebagai perantara untuk
memudahkan manusia mengidentifikasi realitas. Fajar untuk salat subuh, siang
untuk salat zuhur dan ashar, dan malam untuk salah maghrib dan isya. Hakikatnya
bukan pada waktu yang menentukan, tetapi pengaruh konsistensi yang dilakukan
secara bertahap sangat berpengaruh bagi pembentukan kehambaan manusia. Makhluk
yang berdimensi banyak, terdiri dari perasaan, pikiran, dan naluri selalu
berkaitan dengan lingkungan dan kondisi disekitar. Pertimbangan waktu begitu
penting bagi aturan-aturan keagamaan dalam menjaga efektifitas agama. Tujuan
agama adalah penyembahan kepada Allah swt. Tidak berarti kehidupan manusia jika
tidak menyembah kekuatan tertinggi yang menciptakan alam semesta ini. Dorongan
terdalam yang akan muncul jika direnungkan secara dalam. Hanya saja, modernitas
telah memudarkannya.
Rabu wekasan
adalah bagian dari waktu-waktu yang tidak banyak mempengaruhi, kecuali karena
peristiwa bersejarah manusia suci 1400 tahun yang lalu. Hal itu tidak akan
berulang dengan tokoh-tokoh yang sama. Namun, kondisi-kondisi itu mungkin saja
berulang. Sejarah menjadi hikmah untuk mengetahui kondisi setiap kejadian dan efek-efek
yang akan terjadi, sehingga kita tidak mengulangi lagi kesalahan nenek-nenek
moyang kita. Biarkanlah mereka yang memberitahu kesalahannya. Kita menjauhinya.
Mereka memberitahu kebehasilannya. Kita menyempurnakannya.
Komentar
Posting Komentar