Tauhid adalah pokok keyakinan dalam Islam. Dalam pengelompokan ilmu-ilmu keislaman, tauhid memiliki tingkatan berdasarkan kualitas pemahaman terhadap keesaan Tuhan. Setiap tingkatan tauhid yang lebih tinggi mesti didahului oleh pemahaman dasar tentang tauhid dibawahnya. Tauhid dalam Islam seperti landasan yang membangun cabang-cabang keyakinan lainnya. Oleh karena itu, tauhid tidak mungkin terpisah dari Islam dan tercermin dalam rukun keislaman pertama.
Jika
ditinjau secara umum, tauhid diyakini oleh semua umat muslim. Namun, dalam
aspek detail penjelasan tauhid, muncul beragam kelompok yang berusaha
menjelaskan rasionalitas tauhid atau bahkan mengalami tauhid secara langsung.
Oleh karena itu, perlu dibedakan sudut pandang tauhid menurut pemahaman kalam, filosofis
atau tasawuf. Masing-masing tiga cabang itu merepresentasikan metode berpikir
tersendiri dan di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan pendapat. Secara
singkat, dalam pandangan kalam, tauhid didemonstrasikan dengan memulai dari
dalil-dalil yang terdapat dinash kemudian mencari justifikasi rasional mengenai
teks tersebut. Sedangkan filsafat tidak memerhatikan bunyi teks keagamaan untuk
menalar realitas. Meskipun, dalam beberapa hal dilakukan penyesuaian dengan
pemaknaan teks-teks agama dan hasil penalaran filosofis. Adapun tasawuf memulai
ungkapan tauhidnya dari pengalaman langsung yang bersifat spiritual. Setelah
mendapatkan visi-visi (mukasyafah) para sufi mengungkapkan pengalamannya
dalam pelbagai bentuk, baik itu secara rasional seperti Ibnu Arabi dan
Suhrawardi atau secara puitis seperti Jalaluddin Rumi.
Sayyid
Haedar Amuli dalam bukunya mendaki tangga iman menyebutkan dua jenis
Tauhid. Yang pertama ialah tauhid uluhiyyah, yaitu tauhidnya orang-orang awam.
Pemahaman ini merujuk pada satunya Tuhan yang patut disembah dan tiada Tuhan
selainnya. Sebagaimana terungkan dalam surah al-Ikhlas dan Muhammad. Adapun
Tauhid wujudiyyah adalah pemahaman tauhid yang lebih tinggi. Mengacu pada
penegasian keberadaan segala sesuatu yang hak selain Allah swt. Artinya
keberadaan makhluk tidaklah hakiki, melainkan kebergantungan dan kebutuhan (faqr)
itu sendiri dihadapan Allah swt. Beberapa ayat seperti, “Dimanapun kamu
menghadap di situlah wajah Allah…”, “Segalanya musnah kecuali Wajah-Nya…”,
“Dialah yang Zahir dan Yang Bathin. Dia yang awal dan yang akhir…” Dalam
ayat-ayat itu menunjukkan hakikat alam semesta sebagai wajah Allah swt, dengan
wajah itulah kita mengenal hakikat realitas yang sebenarnnya. Realitas yang
satu.
Tauhid
Zati
Tauhid Zati
dalam pandangan tasawuf adalah maqam tertinggi realitas yang tidak bisa
dicapai oleh siapapun, karena menjadi hak privat Allah swt. Tingkatan ini
disebut sebagai zat yang tersembunyi dari yang tersembunyi (ghaib al-ghuyub).
Hakikat swt menjadi sumber segala sesuatu yang tercipta mulai tingkatan
ahadiyah, wahidiyah, alam al-‘uqul, alam al-mitsal hingga alam al-maddah. Zat
Allah swt yang tersembunyi dalam hadis disebut sebagai kanz makhfi atau
harta yang tersembunyi. Kemudian Dia cinta dikenal maka Hak swt menampakkan
dirinya ke dalam berbagai tingkatan-tingkatan.
Tauhid
Shifati
Dalam term
maqam-maqam ontologis Ibn Arabi, sifat dan asma’ Allah swt menampak pada
tingkatan wahidiyahnya. Sebelum wahidiyah terdapat tingkatan ahadiyah yang sama
sekali tidak memiliki komposisi atas apapun, baik secara realitas maupun
mental. Namun, setelah wahidiyah termanifestasi, muncullah nama Allah yang
mencakup berbagai sifat dan Asma-Nya. Kemunculan itu tidak menyebabkan
keberangkapan yang bersifat material atau aksidental. Setiap asma dan sifat
identik secara eksternal, tetapi dapat dipahami perbedaan-perbedaannya melalui
penampakan-penampakan di alam ciptaan (Khalq). Para pesalik mampu
mencerap asma dan sifat Allah sesuai keluasan wadah dan riyadhah-nya.
Tidak heran jika pengalaman-pengalaman spiritual sulit membedakan antara
cerminan Ilahi yang memantul di dalam jiwa setiap manusia dan Allah itu
sendiri. Hal itu juga menyebabkan jatuhnya seseorang pada pemahaman panteisme.
Tauhid
Af’ali
Pada
hakikatnya segala sesuatu adalah perbuatan Ilahi. Baik itu sesuatu yang
dianggap baik atau buruk. Secara realitas perbuatan ilahi mencakup semua
realitas dalam semua tingkatan. Inilah yang disebut sebagai tauhid Af’ali.
Manusia tidak lagi memiliki kehendak diri selain kehendak Tuhannya. Setiap
kejadian yang menimpa adalah ketetapan yang terbaik karena berasal dari Tuhan.
Namun, dari semua itu tidak berarti bahwa manusia kehilangan kehendak memilih
yang baik dan buruk. Manusia bertindak atas kuasa dan kehendak Allah swt,
tetapi dalam artian pengunaan kehendak-Nya untuk mengarah pada kesempurnaan
atau kehinaan diri manusia itu. Oleh karena itu, setiap hasil-hasil dari
tindakan manusia kembali ke dirinya sendiri karena sebab yang paling dekat dari
tindakan itu adalah manusia, tetapi penyebaban manusia dalam bertindak tidak
menghilangkan penyebaban ilahi yang lebih tinggi. Allah memberikan kekuasaan
pilihan kepada manusia untuk mengakibatkan yang baik atau yang buruk. Setiap
keburukan yang dipilih oleh manusia adalah sesuatu yang menyebabkan kemusnahan
atau ketiadaan dan setiap kebaikan identik dengan keberadaan yang diberikan
oleh swt. Sehingga, keburukan adalah sesuatu yang tidak diberi dan diciptakan.
Realitas-realitas yang berkaitan dengan keburukan sebenarnya bukanlah keburukan
itu sendiri, melainkan kebaikan pada dirinya. Keburukan terletak di luar
realitas itu, yakni sesuatu yang tidak ada atau menyebabkan ketiadaan.
Komentar
Posting Komentar