Memperbaiki diri atau mencegah diri agar tidak merosot memerlukan ukuran tersendiri. Seseorang yang hidup di tengah masyarakat dengan pelbagai aktivitas, akan terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan mereka. Seperti adagium yang jamak kita dengar “orang yang bergaul dengan penjual parfum akan kecipratan harumnya, sedang orang yang bergaul dengan penjual ikan akan kecipratan baunya” cukuplah pengalaman dan sejarah orang lain jadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengulangi hal itu. Salah satu pengalaman pribadi saya, yang mungkin cukup berpengaruh dalam mengubah perilaku dalam bersosial adalah mengukur diri dengan orang lain, bukan dengan diri sendiri.
Setiap
orang punya kemampuan sendiri-sendiri yang unik bagaikan sidik jari dirinya. Di
dalam kemampuan itu tersimpan kepribadian dan emosional yang cukup kompleks,
hasil dari kikisan lingkungan sejak ia lahir hingga saat ini. Dalam bertindak secara
instan, kita sangat dipengaruhi watak yang melekat itu, tetapi dengan proses
berpikir manusia bisa mengubah wataknya sedikit demi sedikit. Nah, mengukur diri
sendiri tidak bisa didengan standardisasi orang lain dalam mencapai sesuatu, karena
potensi dan kemampuan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda. Mungkin saja
kita mengalami kegagalan di suatu kondisi tetapi dalam kondisi lain kita
mendapatkan pencapaian yang terbaik.
Terkadang
kita melupakan potensi yang kita miliki kemudian berusaha mencapai potensi
orang lain, padahal potensi itu sangat lemah bagi kita. Pentingnya mengenali
potensi untuk diasah lebih tajam lebih baik daripada membangun potensi yang sangat
sedikit manfaatnya bahkan jika dibangun secara maksimal. Hal ini tidak menafikan
bahwa hanya potensi tertentu saja yang dikembangkan, tetapi fokus pembangunan
potensi diarahkan pada hal-hal yang bisa mempunyai impak besar. Potensi yang
lemah tetap dibangun untuk menjaga keseimbangan unsur-unsur diri. Misalnya, fisik
yang memerlukan olahraga, makanan, dan asupan bergizi. Melupakan potensi-potensi
menyebabkan ketimpangan pada akhirnya justru melemahkan potensi lainnya.
Memerhatikan
orang lain merupakan hal yang sangat penting, tetapi tujuan memerhatikan orang
lain adalah menjaga harmonisasi sosial dan mempelajari alam semesta. Terkadang
kita menjadikan orang lain sebagai objek untuk disalin ke dalam diri kita, karena
kekaguman kita terhadap mereka. Pada satu sisi menyalin tindakan dan tradisi adalah
sesuatu yang sangat lazim, di sisi lain tujuan itu mesti sejalan dengan potensi
yang ingin kita kembangkan. Asal mengikuti alur tradisi masyarakat sekitar
tanpa memikirkan tujuan dan dampaknya, membentuk manusia-manusia lekang sejarah.
Yaitu, orang-orang yang hidup di dalam pergulatan sejarah tanpa berbuat apa-apa
terhadap zamannya atau anak cucunya, kemudian mati dan tersisa baginya hanya
untaian nisan.
***
Komentar
Posting Komentar