Langsung ke konten utama

Jangan mengukur dirimu dengan orang lain!

Memperbaiki diri atau mencegah diri agar tidak merosot memerlukan ukuran tersendiri. Seseorang yang hidup di tengah masyarakat dengan pelbagai aktivitas, akan terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan mereka. Seperti adagium yang jamak kita dengar “orang yang bergaul dengan penjual parfum akan kecipratan harumnya, sedang orang yang bergaul dengan penjual ikan akan kecipratan baunya” cukuplah pengalaman dan sejarah orang lain jadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengulangi hal itu. Salah satu pengalaman pribadi saya, yang mungkin cukup berpengaruh dalam mengubah perilaku dalam bersosial adalah mengukur diri dengan orang lain, bukan dengan diri sendiri.

Setiap orang punya kemampuan sendiri-sendiri yang unik bagaikan sidik jari dirinya. Di dalam kemampuan itu tersimpan kepribadian dan emosional yang cukup kompleks, hasil dari kikisan lingkungan sejak ia lahir hingga saat ini. Dalam bertindak secara instan, kita sangat dipengaruhi watak yang melekat itu, tetapi dengan proses berpikir manusia bisa mengubah wataknya sedikit demi sedikit. Nah, mengukur diri sendiri tidak bisa didengan standardisasi orang lain dalam mencapai sesuatu, karena potensi dan kemampuan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda. Mungkin saja kita mengalami kegagalan di suatu kondisi tetapi dalam kondisi lain kita mendapatkan pencapaian yang terbaik.

Terkadang kita melupakan potensi yang kita miliki kemudian berusaha mencapai potensi orang lain, padahal potensi itu sangat lemah bagi kita. Pentingnya mengenali potensi untuk diasah lebih tajam lebih baik daripada membangun potensi yang sangat sedikit manfaatnya bahkan jika dibangun secara maksimal. Hal ini tidak menafikan bahwa hanya potensi tertentu saja yang dikembangkan, tetapi fokus pembangunan potensi diarahkan pada hal-hal yang bisa mempunyai impak besar. Potensi yang lemah tetap dibangun untuk menjaga keseimbangan unsur-unsur diri. Misalnya, fisik yang memerlukan olahraga, makanan, dan asupan bergizi. Melupakan potensi-potensi menyebabkan ketimpangan pada akhirnya justru melemahkan potensi lainnya.

Memerhatikan orang lain merupakan hal yang sangat penting, tetapi tujuan memerhatikan orang lain adalah menjaga harmonisasi sosial dan mempelajari alam semesta. Terkadang kita menjadikan orang lain sebagai objek untuk disalin ke dalam diri kita, karena kekaguman kita terhadap mereka. Pada satu sisi menyalin tindakan dan tradisi adalah sesuatu yang sangat lazim, di sisi lain tujuan itu mesti sejalan dengan potensi yang ingin kita kembangkan. Asal mengikuti alur tradisi masyarakat sekitar tanpa memikirkan tujuan dan dampaknya, membentuk manusia-manusia lekang sejarah. Yaitu, orang-orang yang hidup di dalam pergulatan sejarah tanpa berbuat apa-apa terhadap zamannya atau anak cucunya, kemudian mati dan tersisa baginya hanya untaian nisan.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...