Perpolitikan dan Religiusitas di Indonesia menjadi dua sisi yang saling menguntungkan. Pergerakan politik dengan semangat agama sudah digaungkan sejak awal kemerdekaan, tapi tidak pernah berhasil bertahan lama. Pemerintahan berdasarkan agama hanya ilusi semata, tetapi agama sebagai cara berpolitik selalu dibawa sepanjang masa. Agama memang konsep yang paling membangkitkan emosional massa, karena memberikan musuh-musuh yang harus dilawan, menunjukkan misi yang harus diperjuangkan, dan kawan yang mengikat gerakan mereka. Habib Rizieq dan tokoh-tokoh yang terikat dengannya menggaungkan slogan “Revolusi Akhlak” untuk perjuangannya. Bagi masyarakat awam, slogan itu sangat mulia. Setiap orang menginginkan Akhlak. Tambahan kata revolusi di depan kalimat itu menjadi bumbu yang lebih membangkitkan semangat mengubah akhlak yang hina baginya. Slogan ini tentu melahirkan banyak masalah mulai dari sisi kepentingan di dalamnya dan efek-efek yang berdampak darinya.
Penggunaan kata dalam ranah publik sangat
berpengaruh bergantung pikiran awam (common sense) yang berkembang. Slogan
ini jika dipandang dari pikiran awam masyarakat mungkin saja bermasalah. Tidak
sedikit masyarakat di luar Islam yang tidak menyukai gerakan Islamis ini karena
semangat keagamaan yang tinggi tetapi melupakan hak-hak sosial selainnya. Masyarakat
baik beragama Islam atau Non-muslim yang berhasil teracuni oleh slogan itu disebabkan
oleh faktor lingkungan dan pikiran yang terbangun sejak lama. Melihat ceramah tokoh
dalam gerakan ini, hampir semua pembicaraannya membangkitkan semangat berapi-api
menegakkan nilai dan idealitas Islam. Islam dianggap sebagai kebenaran dan sumber
semua kebaikan. Dari dasar pikiran itu, dibangunlah misi-misi dalam ceramahnya
yang berapi-api atas dasar kebenaran dan idealitas Islam. Siapa saja, tentu,
yang mendengarkan kata kebenaran, kebaikan, dan idealitas lain, akan terpikat.
Dorongan dalam diri bangkit untuk mewujudkan idelitas itu. Slogan yang digunakan
adalah cara membangkitkan idealitas bagi seseorang. “Mari kita wujudkan
bersama-sama! Mari kita lawan kezaliman!” adalah pembicaraan idealistik.
Jika dalam ranah akar rumput gerakan itu terkonsolidasi
melalui idealitas yang ingin dicapai bersama-sama, maka dalam ranah petinggi gerakan,
tokoh-tokoh dipenuhi dengan kepentingan yang asli dan penuh negosiasi. Sangat
kontras dengan orang-orang lapangan yang bergerak langsung secara praktis. Bisa
jadi sebagian besar mereka bahkan bekerja dengan niat yang ikhlas kepada
Tuhannya tanpa perlu mendapatkan imbalan sedikitpun. Idealitas mereka benar-benar
terbentuk dengan baik tetapi tindakan-tindakan mereka tersandera oleh orang-orang
yang sudah bosan dengan omong kosong idealitas. Setiap orang pada dasarnya menginginkan
kebaikan tetapi cara yang dilakukan sering kali salah, atau sebagian orang karena
tuntutan dalam diri atau keluarga sehingga mengharuskan berbuat salah.
Sebagaimana jika kita melihat para petinggi yang demi tuntutan ekonomi atau
politik, mengharuskan dia mencari jalan pintas memenuhi kebutuhan ekonomi atau
kepentingan martabat.
Analisis struktural terhadap fenomena politik
perlu dilakukan agar tidak menggeneralisasi semua kejadian dan tindakan politis
yang terjadi. Bisa jadi gerakan politik yang memakai agama tidak benar-benar
diinginkan oleh tokoh yang tampil di publik menyuarakan dukungan politis atas
nama agama. Namun karena semangat agama yang begitu tinggi sehingga lupa
merenungi percaturan kepentingan di hampir setiap proses politik. Kepentingan
ekonomi atau sekadar menaikkan martabat di hadapan masyarakat, meski mengorbankan
kerugian biaya yang besar. Orang yang mampu melihat siapa yang berkepentingan
dan apa yang dituju dari di balik setiap fenomena sosial politik adalah orang
yang berpotensi menyelamatkan diri dari sanderaan kepentingan. Sekali seseorang
ikut dalam dukungan politik tanpa alasan yang bisa dijustifikasi dan dengan cara
yang sebebas-bebasnya, meski tanpa perjanjian dengan siapapun sudah menjadikan dia
sebagai sanderaan politik. Gerakan Islam di kalangan akar rumput sebagian besar
adalah sanderaan politik para petinggi-petinggi yang mencari suaka kekuasaan dari
mereka. Di satu sisi, mereka yang haus keagamaan diberikan air idealisme mendukung
misi politik atas nama agama.
Slogan “Revolusi Akhlak” yang dibawakan harus bergerak
mengubah akhlak yang memperbaiki bukan malah merusak. Revolusi harus mengubah
sampai ke akar jangan hanya penampilan. Kenyataannya, gerakan perubahan hanya
memunculkan semangat emosional berbondong-bondong meneriakkan takbir dan memaki-maki
pemerintahan dengan dalih kezaliman. Perubahan yang bertujuan untuk memperbaiki
justru dilakukan dengan cara merusak, melanggar aturan, dan bertindak
sewenangnya. Gerakan sosial revolusioner yang karena idealisme keagamaan
membuat otak membeku.
Akhlak adalah jamak dari kata khulq yang
bermakna watak atau karakter yang melekat pada jiwa seseorang karena kebiasaan dan
didikan dari lingkungan. Merevolusi akhlak adalah mengubah kebiasaan dimulai
dari diri sendiri untuk mempengaruhi orang lain. Bukan dengan perkataan emosional
yang egoistis. Merevolusi akhlak adalah mengubah lingkungan tanpa menganggu
ketentraman masyarakat. Ia membuka pikiran untuk menerima segala perbedaan tanpa
perlu memaksakan pikiran kita kepada orang lain. Akan tetapi, semua itu hanyalah
perkataan politis yang memenuhi nafsu keagamaan yang membara.
Komentar
Posting Komentar