Langsung ke konten utama

Agama Produk Ilahi sekaligus Produk Budaya

Banyak yang bertanya sekaligus menyangsikan realitas sejarah agama yang selalu diikat oleh kebudayaan. Kategorisasi agama menjadi langit dan non-wahyu merupakan pembagian paling populer. Dasar pembagian itu adalah paradigma yang dibangun tentang ketuhanan yang memberikan pesan kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan ataukah kemampuan manusia membangun jalan hidupnya sendiri untuk mencapai tujuan dirinya. Agama langit diidentikkan dengan ajaran-ajaran Ibrahim yang melahirkan tiga agama besar di dunia, sedangkan agama non-wahyu berkembang di sebelah timur asia hingga selatan seperti Buddha dan Hindu. Di samping itu hampir di setiap pelosok yang telah mencapai tahap peradaban memiliki kepercayaan yang unik bagi kulturnya. Dalam hal itu, setiap kepercayaan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kultur setempat dan interaksi historis dengan dunia luarnya. Namun, di satu sisi tiga agama tauhid secara murni berasal dari sumber ilahi yang tidak dijangkau oleh pemahaman kultural manusia.

Sampai di sini, pentingnya membahas sumber inspirasi agama adalah mempengaruhi kerangka berpikir yang digunakan penganut agama dalam menjalani agamanya. Agama budaya yang lahir dari kepercayaan kultural manusiawi selalu mengembalikan tujuan agamanya kepada manfaat individual dan sosial. Artinya, agama budaya, meski mungkin saja memercayai kekuatan supranatural, tidak menjadikan objek metafisis sebagai kekuatan satu-satunya. Kekuatan itu bahkan hanya menjadi cerminan semangat kultural yang terbangun di masyarakat itu. Contohnya, kepercayaan terhadap kekuatan dewa yang mengatur kesuburan tanah, bencana alam, atau rezeki. Eksistensi dewa tidak lain adalah hasil silogisme pikiran awam (common sense) bahwa untuk mengharapkan keberuntungan dan menghindari kemalangan manusia mengharuskan ada tempat mengadu dan memuja. Maka, dibentuklah tuhan-tuhan yang memuaskan emosi religius mereka.

Sedangkan agama langit asal-usul aturan, pandangan hidup, dan kepercayaannya berasal dari pengalaman spiritual murni sang Nabi. Ketika pengalaman itu diungkapkan dalam bentuk bahasa manusia barulah terjadi proses dialog antara kultur dan transendentalisme. Ajaran tentang cara beribadah terhadap Tuhan dianggap aneh oleh akal kultural. Di dalam Islam, salat lima kali sehari yang diawal takbir dan diakhiri oleh salam tidak mempunyai landasan rasional karena itu merupakan perintah langsung Tuhan. Secara substansial bentuk dan gerakan salat bisa memiliki manfaat medis atau psikologis. Namun tujuan perintah Tuhan adalah untuk ditaati. Dia hendak menguji ketaatan seorang hamba tanpa perlu alasan rasional, sebagaimana menurut satu pendapat. Alasan rasional bagi agama langit memang tidak sepenuhnya diperlukan dalam konteks penemuan (context of discovery), tetapi untuk membuktikan (context of justification) setiap perintah Tuhan itu punya tujuan yang rasional merupakan keniscayaan beragama.

Yang diungkapkan sebelumnya menunjukkan kemestian setiap agama berdialog dengan budaya setempat. Agama budaya sangat jelas dibentuk karena prospek kesejahteraan manusia dan menghindari kekacauan. Agama langit meski pada awalnya berupa hakikat transenden murni, harus menyesuaikan dengan wadah kultural sebagai tempat diturunkan wahyu. Itulah mengapa al-Qur’an mengambil bahasa Arab sebagai bahan untuk membentuk ungkapan wahyu yang unik. Agama sebagai seperangkat kepercayaan dan aturan bertindak menggunakan bahan budaya sekaligus menempatinya. Namun, yang terpenting esensi agama langit adalah adanya asumsi sumber di luar kapasitas kemanusiaan, sedangkan agama budaya tercipta oleh rumusan kemampuan manusia. Keduanya memiliki tujuan yang tidak lepas dari dorongan fitrawi sebagai penyatu kesamaan agama dalam diskursus sejarah agama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...