INSIST atau Institute for the study of Islamic Thought and Civilization merupakan lembaga pengkajian dan pemikiran yang bertujuan untuk melakukan Islamisasi Pengetahuan. Lembaga ini terinspirasi oleh Syed Naquib Alatas. Banyak peneliti dan pengajar di dalamnya lulusan universitas bentukan Syed Alatas dan mengadopsinya menjadi misi gerakan lembaga ini. Frasa “Islamisasi Ilmu” yang dibawakan tidak lepas dari pro-kontra kalangan pengkaji Filsafat Sains maupun agamawan. Lembaga ini sangat produktif menerbitkan karya ilmiah dan buku-buku untuk mendiseminasi pemikirannya ke publik. Buku-bukunya penuh dengan kutipan dan pendapat dari pelbagai aliran melalui hasil interpretasi mereka. Salah satu buku antologi berjudul Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam, adalah representasi pemikiran yang ia tawarkan. Kita akan mengulas buku ini dan visi penulisannya.
Buku ini dieditori oleh Dr. Adian Husaini dari
antologi beberapa peneliti INSIST dalam satu lingkup bahasan Filsafat Ilmu. Diantara
tujuan penulisan buku ini untuk menjadi buku teks perkuliahan di Universitas
Ibnu Khaldun. Terdiri dari dua belas tulisan dari aspek sekularisasi ilmu,
Sejarah, Epistemologi, Adab berilmu, dan diakhiri oleh Islamisasi Pengetahuan.
Akhir pembahasan buku ini pada dasarnya menjadi puncak tujuan dari keseluruhan
buku ini, yaitu islamisasi pengetahuan dari term-term yang bertentangan dengan world
view Islam. Dalam setiap bab, buku ini tidak jarang mengulang kutipan sebelumnya,
bahkan hingga lebih dari tiga kali. Pengulangan itu terdapat di bahasan sumber
dan alat pengetahuan menurut yaitu akal,
indra, intuisi, dan khabar wahid.
Sekularisasi Ilmu Pengetahuan
Tema pertama buku ini adalah proses
sekularisasi Ilmu pengetahuan. Tentu judul itu sudah di awali banyak presumsi
tentang Ilmu. Misalnya asumsi nilai ilmu tidak semata-mata persoalan realitas,
tetapi adanya pengaruh nilai keagamaan atau paham sekular di dalamnya. Artinya
penyimpulan ilmu sangat dipengatuhi oleh world view ilmuwan. Dalam buku
ini disebutkan bahwa sekularisasi ilmu adalah tidak adanya pengaruh wahyu
(al-Qur’an) terhadap epistemologi dan cara menjalani pengetahuan. Seharusnya, ilmu
didasarkan oleh nilai-nilai al-Qur’an sehingga bisa menjadi landasan iman yang
kuat bagi muslim atau kaum beragama secara umum.
Lahirnya sains sekular atau sains modern menunjukkan
epistemologi saintisme menjadi penjelas satu-satunya terhadap alam semesta. Proses
Islamisasi Ilmu ini mirip dengan pandangan seorang saintis atau fisikawan Iran,
Mehdi Gholsani, tentang perlunya menerapkan nilai-nilai al-Qur’an. Pada dasarnya,
proyek Islamisasi Ilmu dipelopori oleh banyak ilmuwan seperti Sayyed Hossein
Nasr, Ismail Faruqi, Syed Naquib al-Attas dan lainnya. Mereka berusaha melawan
arus modernisme dan saintisme yang mendominasi dalam paradigma sains sekarang
ini. Postivisme saat ini menampakkan wajah baru dalam beragam disiplin keilmuan.
Keahlian membedakan ranah filosofis dalam penalaran ilmiah dan ranah sains positif
banyak diabaikan oleh saintis modern. Percampuran itu terkadang tidak disadari
karena dalam membangun teori alam berdasarkan interpretasi data memerlukan penalaran
filosofis. Namun menguji kesesuaian penalaran itu dengan realitas memerlukan
prinsip metafisika yang melampaui pengujian observatif.
Dalam bagian pertama buku ini, kritik terhadap
sains modern mengacu pada kebermanfaatan sains. Akhirnya tidak benar-benar
substansial, karena efek buruk atau baik sains tidak bergantung pada kevalidan
atau keakuratan metodologi saintifik. Agama bisa sangat bermanfaat bagi ilmuwan
yang bergelut dalam sains karena memanfaatkannya untuk kepentingan manusia dan
alam. Namun kaum humanis sekular bisa menolak hal itu dengan berdalih moralitas
kemanusiaan tidak mesti dibarengi dengan menganut agama tertentu. Persoalan konsekuensi
sains memang menjadi objek kritik aksiologi sains. Konstelasi politik dan
kultur sangat mempengarui etika dalam memanfaatkan teknologi dan penerapannya. Tetapi,
melihat fakta baik kaum humanis sekular dan beragama, kedua-duanya bertindak
pongah. Kita bisa melihat pada perang dunia pertama dan kedua antara blok barat
dan timur, dilanjutkan perang dingin. Begitu pula eksterimis dan kekacauan atas
nama agama di Timur Tengah. Teknologi dan sains itu sendiri tidak bisa di nilai
sebagai baik dan buruk tanpa ada motif tindakan atau konsekuensi buruk di
dalamnya. Namun Iptek an sich adalah hasil ijtihad keilmuan.
Filsafat Ilmu dan Tradisi Keulmuan dalam Islam
Bagian selanjutnya, fokus tulisan buku ini menjelaskan
secara rinci dasar-dasar epistemologi berdasarkan pendapat pemikir Islam. Dalam
buku ini, Adian Husaini, menjelaskan Epistemologi sebagai studi tentang sumber-sumber
pengetahuan. Beliau mengangkat empat alat pengetahuan yaitu, indra, akal, ilham,
dan khabar wahid. Berbeda dengan tradisi filsafat sains barat, indra dan
akal mendominasi perdebatan epistemologi dalam sejarah filsafat barat. Ilham dan
Khabar Wahid dianggap sebagai sumber pengetahuan lain yang kredibel di
dalam Islam. Ilham atau wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad benar sehingga
kitab suci al-Qur’an bisa diafirmasi. Demikian juga Khabar Wahid atau penukilan
yang dalam satu tingkatan tidak lebih dari tiga orang. Penerimaan Khabar Wahid
berimplikasi pada penerimaan hadis atau tradisi Nabi yang masih murni hingga
sekarang.
Bagi saya, Ilham dan Khabar Wahid tidak
sesederhana untuk diterima begitu saja. Karena penerimaan dua sumber
pengetahuan itu memunculkan masalah lain yang memerlukan argumentasi rasional,
bukan sekadar berlandaskan dogma agama. Islam mengajarkan untuk meyakini dan membangun
ilmu dengan akal, bukan dengan dogma yang tidak boleh dipertanyakan. Ilham atau
Wahyu hampir diakui oleh semua agama dan kepercayaan seluruh dunia. Bahkan agama
kultural nusantara meyakini ilham dalam ajarannya, atau Buddha menyebarkan empat
kebijaksanaan yang diinspirasi dari pengalaman spiritualnya. Bagaimana membedakan
ilham yang benar dan sekadar ilusi psikologis semata? Siapa saja bisa mendaku mendapatkan
ilham dan membuat ajaran tanpa tolok ukur untuk menguji validitas ilham. Tidak
mungkin mengembalikannya ke ajaran Islam yang didasarkan dengan Ilham itu sendiri.
Tentu justifikasi Islam hanya bisa ditemukan secara rasional kemudian naik ke tahap
ilham yang lebih tinggi. Setiap bagian dari ajaran Islam harus teruji secara
rasional sehingga manusia bisa naik ke tangga spiritual yang benar-benar mencerminkan
realitas.
Sedangkan Khabar Wahid terkadang dipertentangkan
dengan Khabar Mutawatir. Pembagian itu memerhatikan jumlah orang yang meriwayatkan
dalam setiap tingkatan. Dalam studi sejarah, tradisi penukilan dari satu
generasi ke generasi secara oral (lisan) terjadi dalam semua agama dan masyarakat
kuno. Uniknya setiap agama baik itu Ibrahim atau Non Ibrahim setelah wafatnya Nabi
atau tokoh pertama yang membawa ajaran, transmisi lisan selalu terjadi pada
generasi selanjutnya. Kalau bisa dikatakan, tidak pernah terjadi pencatatan ajaran
secara langsung kemudian tersimpan hingga sekarang. Itulah di antara alasan kanonisasi
kitab-kitab suci terjadi lebih dari seabad setelah agama faktual pertama kali
disebarkan. Dalam penelusuran sarjana barat, al-Qur’an disusun secara teratur
ayat dan surah dalam bentuk yang seperti sekarang di zaman Abdul Malik bin
Marwan kemudian tahun 1920an dicetak secara besar-besaran di Mesir untuk dilakukan
standardisasi al-Qur’an. Peristiwa ini memang tidak lepas kritik dan asumsi untuk
mengkritik Islam di dalamnya. Namun dalam ranah akademik, penelitian tidak pernah
tetap dan perlu untuk selalu direvisi. Dalam tradisi Islam, al-Qur’an bahkan
sudah tercatat seluruhnya pada masa kehidupan Nabi, tapi menurut Zaid bin
Tsabit belum tersusun menjadi mushaf standard hingga zaman Utsman bin Affan. Informasi
itu semua ditemukan dari proses penukilan Khabar wahid dari generasi ke
generasi, baik yang diteliti oleh outsider dan insider Islam sendiri. Kelemahan
Khabar Wahid adalah banyaknya konten-konten yang berkontradiksi dan penuh
dengan fabrikasi dengan motif politis dan ideologis. Dampaknya, umat Islam semakin
hari semakin terpecah-pecah berdasarkan data ideologis yang menurutnya lebih mendukung
kelompoknya. Menelusuri periwayatan ideologis dan politis hampir-hampir tidak
mungkin terjadi, karena proses panjang yang penuh dengan kompleksitas transmisi.
Khabar Wahid pada akhirnya akan berujung pada spekulasi dugaan (zann)
pada berita-berita yang sampai. Bahkan jika tidak berlebihan, labelisasi Mutawatir
pada berita historis tidak mendatangkan kepastian. Walhasil, pada dasarnya sumber
pengetahuan langsung kembali pada pertimbangan akal dalam memastikan validitas
pengetahuan. Islam sangat menekankan akal untuk memerhatikan alam semesta, diri
sendiri, dan sejarah. Indra media yang sangat canggih bagi manusia namun bukan
menjadi neraca kebenaran yang final.
Komentar
Posting Komentar