Agama tidak bisa lepas dari iman. Namun tidak setiap orang yang beragama lantas menjadi fideistis, mendahulukan iman di atas segalanya. Fenomena agama, sebenarnya, tidak bisa lepas dari fanatisme.
Fanatik dalam pengertian berpegang kuat terhadap pandangannya. Hal seperti itu wajar saja, asal tidak menutup diri untuk berdiskusi dan melihat kritik atas pandangannya. Karena itu, agama dalam bentuk “iman” pada sebuah pandangan terjadi bukan hanya pada kaum bertuhan, tapi mencakup semua bentuk world view, ateis atau teis, materialis atau dualis, dan sebagainya.
Sulitnya, hanya orang beragama yang dianggap beriman dan fanatik terhadap ajarannya, padahal semua orang seperti itu pada world view-nya masing-masing. Perbedaannya, yang satu bersikap terbuka, yang lain masih ekslusif dengan pemikirannya. Dalam tingkat yang lain, sebagian tidak menyadari telah “beriman” dan sebagian menyadari terhadap apa mereka “beriman”,
Nah, setelah seseorang mendapat “keimanan” tertentu, muncullah sikap cara menjalani “keimanan”-nya. Dalam context of discovery, iman sah-sah saja ditemukan dari sumber-sumber selain akal. Banyak penemuan sains datang dari mimpi dan imajinasi. Penemuan seperti itu tidak masalah karena yang ingin dicari adalah context of justification.
Mimpi atau konstruksi imajinatif seseorang harus bisa terbukti secara faktual dan rasional. Penemua ilmiah selalu diawali dari hipotesa, karena itu setiap sumber pengetahuan non rasional mesti melalui tahap justifikasi faktualitas. Kerangka metodis itu semestinya diterapkan pada cara “beriman” seseorang. Namun, sistem pengujian “iman” berada dilaboratorium akal. Ia tidak bergantung sepenuhnya pada indra, karena objek “iman” selalu bersifat luas dan holistik, melampaui pertanyaan indrawi.
Pertanyaan supra indrawi itu seperti “Adakah awal
dan akhir alam semesta?” “Seberapa akurat pengatahuan indra menemukan
faktualitas?” “Adakah tujuan dan sistem alam semesta?” Semua pertanyaan itu tidak
mungkin diselesaikan dengan observasi, tanpa perenungan dibalik tampilan semesta.
Pertanyaan di atas mencakup ranah epistemologis dan world view.
Para penganut world view mana pun perlu mengetahui persoalan itu, paling tidak agar dirinya sadar telah menganut world view tertentu. Banyak orang yang tidak sadar terhadap “keimana” mereka, terutama doktrin agama. Saat ini kita bisa melihat teori evolusi alam semesta menjadi acuan untuk menginterpretasi alam semesta.
Terlepas dari faktualitas evolusi, semua cara interpretasi alam yang sudah melampaui tahap indrawi sudah masuk ke ranah filosofis. Seorang saintis tidak bisa hanya mengandalkan neraca indra, karena determinasi ilmiah kembali pada akal.
Nah, ketika proses determinasi ilmiah mulai merambah ke seluruh nature
alam semesta, terbentuklah sebuah world view. Pembentukan itu sangat berbeda
dari kerja ilmiah sains. Sains bekerja paling banter berputar pada pengulangan
induksi data kemudian deduksi teori dan seterusnya. Namun, pseudosains mengalami
deviasi dengan mengabduksi secara
implisit teori ilmiah untuk menemukan pandangan menyeluruh terhadap dunia.
Pencarian pandangan dunia memang selalu mendesak dari dalam tanpa kita sadari. Dorongan itu menghasilkan begitu banyak pandangan dunia berdasarkan latar belakang masing-masing. Muthahhari membagi pandangan dunia menjadi: agama, sains, dan filsafat. Tiga latar belakang itu berangkat dari tiga epistemologi berbeda.
Wajar jika terlalu banyak kepercayaan di dunia ini dan akhirnya saling menuduh satu sama lain, karena ambisi absolutisme sangat melekat dalam setiap pandangan dunia. Penganutnya juga berdakwah mengajak pada kebenaran yang ia temukan.
Gerakan New Atheism
yang dicanangkan Dawkins adalah bentuk dakwah religius modern. Segolongan
dengan gerakan religius lainnya, hanya saja ia dianggap berbahaya oleh sebagian
kaum bertuhan. Namun religiusitas tidak mesti ditandai oleh ketuhanan tetapi sebuah
ideologi kompleks yang lahir dari pandangan dunia tertentu.
Komentar
Posting Komentar