Cinta - Setiap orang mengalami cinta, tetapi tidak semua yang mampu mengungkapkannya. Cinta memiliki akar filosofis di alam pemikiran Yunani dilihat dari kekayaan bahasanya. Berbeda dengan bahasa lain, Ia membagi-bagi cinta berdasarkan objek dan motivasi munculnya cinta pada diri seseorang. Dalam bahasa inggris, kata love berasal dari bahasa Jerman, yaitu lubh artinya hasrat. Kemudian proses pemaknaan terhadap hasrat itu berubah sesuai pengalaman individual seseorang.
Kahlil Gibran, seorang penyair kristiani yang sempat booming di tahun 80-an, memaknai cinta sebagai getaran. Getaran yang beliau maksud tentu reaksi jiwa yang mengguncang hati. Bukan getaran HP ketika notifikasi masuk lalu kita merasakan cinta, apalagi getaran gempa lalu memunculkan cinta ditengah guncangan yang dahsyat, sambil menikmati guncangan itu dan tidak mencari tempat yang aman.
Gibran mengungkapkan perasaannya dengan puisinya ketika
mendapatkan getaran dalam keadaan mencintai sesuatu. Pandangan ini jamak
terjadi setiap orang, namun mungkin saja cinta hadir dalam diamnya jiwa yang
penuh hasrat.
Di Barat, diskursus cinta menjadi terpinggirkan karena cinta tereduksi pada kondisi-kondisi fisikal manusia. Alfred Kinsey, misalnya, memandang cinta sekadar pemenuhan untuk tuntutan biologis semata. Ungkapan transendental dalam cinta adalah manipulasi atau penyembunyian hasrat biologis, sebagai puncak perjalanan cinta. Ia sejalan dengan Sigmund Freud ketika melihat cinta sebagai anomali tuntutan seksual manusia. Paradigma Freud selalu dikaitkan dengan anomali hasrat seksual yang sebenarnya.
Anak muda yang kecanduan merokok pada dasarnya adalah ungkapan alternatif untuk mencium puting susu ibunya. Jika itu masih tidak terpenuhi, mencium bibir pasangan adalah alternatif lain. Cinta adalah salah satu alternatif itu, untuk menjadi diri dari hasrat seksual yang terlarang. Namun interpretasi model Freudian selalu terfalsifikasi dengan fakta langsung pengalaman cinta.
Thomas Hobbes, bisa masuk dalam kategori kedua
ini. Ia memandang manusia sebagai proses mekanikal yang berjalan seperti mesin.
Maka cinta sebenaranya proses mekanikal yang muncul hanya karena reaksi kimia atau
hormonal saraf manusia. Unsur-unsur itu saling berhubungan timbal balik lalu menghasilkan
emosi cinta. Pandangan reduktif ini sangat dipermasalahkan oleh filsuf cinta transendental
karena menyempitkan cinta dari sisi fisikal, dan mengabaikan korelasinya dengan
entitas immateri cinta.
***
Melihat sebagian pandangan di atas, bahasa Yunani memiliki tiga terma cinta untuk mengungkapkan cinta. Terma ini lebih proporsional untuk tidak menggeneralisasi pengalaman cinta yang satu dengan yang lainnya. Variasi bahasa seperti ini dipengaruhi oleh kondisi kultural lingkungannya. Bahasa terbentuk melalui kesepakatan secara arbitrer dalam melihat kondisi masyarakatnya.
Bahasa Indonesia memiliki kekayaan dalam membedakan gabah, padi, dan beras.
Sementara bahasa Inggris menyebut ketiganya dengan rice. Oleh karena itu,
kultur Yunani kemungkinan besar memiliki pengalaman cinta yang cukup
diperhatikan, karena pemetaan bahasanya.
Eros, terma pertama yang menekankan cinta dalam pengertian hasrat seksual dan fisikal. Erotisisme dipakai dalam KBBI dengan pengertian “keadaan bangkitnya nafsu berahi” atau “keinginan akan seks secara terus menerus”. Pengertian yang cukup tabu, tapi sebenarnya sangat manusiawi. Dalam pandangan banyak agama, cinta seperti ini diarahkan untuk dikontrol. Lebih ekstrem, Biarawan(ti), Bikku, atau Spiritualis dalam agama memilih untuk memotong potensi ini, karena dianggap menurunkan derajat manusia ke dalam status binatang. Terlepas dari perdebatan itu, penggunaan kata Eros ternyata tidak mesti berarti hasrat yang berakhir pada fisik.
Plato memahami Eros sebagai manifestasi kecintaan manusia
pada keindahan ide arketipal. Hakikat hasrat seksual bukan cinta yang
sebenarnya, tetapi kecintaan transenden terhadap sumber semua keindahan. Keindahan
universal seperti konsep umum tentang manusia, tetumbuhan, atau hewan.
Philia, berarti cinta terhadap sahabat, pekerjaan, ilmu, dalam tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar fisik. Kata ‘filsafat’ berasal dari cinta seperti ini, yaitu cinta kebijaksanaan. Aristoteles menekankan pengertian ini.
Etika Nikomakean adalah kecintaan terhadap kebaikan tertinggi secara bersamaan
merupakan kebahagiaan itu sendiri bagi sang pencari. Ciri pertemanan dalam pandangan
Aristo sangat menekankan ketulusan. Seseorang bertindak tanpa perlu bertanya, tanpa
perlu menampilkan, atau memproklamirkannya. Friendship love merupakan
cinta dalam pengertian ini.
Agape, terma ini dianggap sebagai ungkapan cinta tertinggi dari ungkapan sebelmnya. Bahkan Agape mencakup pengertian cinta Eros dan Philia. Agape paling sering diartikan kecintaan terhadap Tuhan atau entitas transenden. Menurut Internet Encyclopedia of Philosophy, tradisi Yudeo-Kristiani sangat dekat dalam pengertian ini. Dalam Deutoronomy 6:5 disebutkan bahwa “Engkau semestinya mencintai Tuhanmu dengan sepenuh hati, jiwa, dan kehendakmu”.
Selain itu, Agape tidak mengarah terhadap Tuhan tetapi mencintai kemanusiaan untuk Tuhan dalam Leviticus 19:18 bahwa “Diri tentanggamu adalah dirimu sendiri”. Cinta yang tertinggi ini hampir ditemukan dalam setiap tradisi agama. Doktrin agama, dalam pengertian umum, kembali pada entitas transenden.
Agama tidak berhenti pada problem fisik. Khususnya tradisi sufistik Islam, tokoh
seperti Rabi’ah ‘Adawiyah dan Jalaluddin Rumi menjadikan cinta sebagai pondasi dalam
perjalanan menuju Ilahi. Dalam al-Qur’an lafaz basmalah mengawali surah-surah
kecuali Taubah. Peletakan rahman dan rahim Tuhan dalam setiap tindakan mengungkapkan
setiap tindakan bersumber dari cinta Ilahi. Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.
Komentar
Posting Komentar