Langsung ke konten utama

Cocokologi

 

Semua proses pemikiran berlandaskan pada relasi-relasi. Sejak pengetahuan masih berupa gambaran imajinatif sampai analisis fundamental pada konsep universal, nalar tidak bisa lepas dari penghubungan. Saking kuatnya daya perelasian, pikiran terkadang jatuh pada kesesataan berpikir yang kita sebut “cocokologi”. Term ini mengungkapkan hubungan antara satu hal dengan yang lain karena mereka memiliki kemiripan. Kemiripan itu menjadi dalil akal untuk menyimpulkan hubungan atau pengaruh mereka satu sama lain. Paling tidak peristiwa relasional bersumber dari hubungan konsep universal ke partikular dan hubungan sebab ke akibat.

Pada bagian yang pertama, ahli hukum Islam menyebutnya dengan Qiyas. Dalam silogisme fikih terdapat objek yang sudah diketahui hukumnya dan objek yang belum diketahui hukumnya. Kemudian hukum objek pertama ini juga diketahui ‘sebab hukum’-nya atau ‘illat. Setelah objek yang kedua dianggap memiliki ‘illat yang sama, objek kemudian mempunyai hukum yang sama.

Contoh sederhana adalah hukum meminum khamar di zaman Nabi adalah haram dan sebab haramnya karena ia dapat memabukkan peminumnya. Di zaman sekarang khamar tidak lagi menjadi minuman keras. Minuman khusus yang dicampur alkohol belum ada pada masa Nabi, tetapi bisa menyebabkan mabuk, sehingga dihukumi haram.

Tulisan ini tidak menyebut metode Qiyas sebagai bentuk cocokologi. Namun dengan proses berpikir yang sama seperti Qiyas, seseorang akan jatuh pada penentuan kesamaan antara dua hal yang belum pasti memiliki sebab yang sama. Boleh jadi ada faktor implisit yang tidak terungkap oleh pengamat dalam aktualisasi sebuah objek, artinya relasi kausasi yang teramati bukanlah sebab primer. Dalam tradisi Filsafat Islam sebab aktualitas sangatlah kompleks. Ia melanjuti empat jenis sebab Aristotelian. Misalnya, biji mangga yang menumbuhkan daun dan tangkai secara empiris disebabkan oleh gabungan cahaya matahari, kelembaban tanah, air, oksigen dan pelbagai macam faktor sekitarnya. Namun dalam pandangan Filsafat Islam, penyebab pertumbuhan pohon apel bukan hanya dalam ranah empiris, tetapi daya immaterial atau jiwa tetumbuhan pada hakikatnya sebagai sebab penentu dalam mengolah seluruh faktor material yang sudah siap. Artinya, sangat sulit untuk menentukan kompleksitas sebab kejadian sebuah objek.

Ketika seseorang keliru menganggap satu hal sebagai sebab, padahal bukan sebab sama sekali, pada saat itulah terjadi cocokologi. Nalar ini sering terjadi dalam pembahasan-pembahasan yang bersifat informatif (bayani). Jarang sekali terjadi pada pembahasan burhani lebih-lebih tidak mungkin pada epistemologi irfani. Ketiga term itu merupakan pembagian epistemologi Abid al-Jabiri untuk melihat lebih lengkapnya. Menariknya bayani ini melingkupi cabang keilmuan yang berkaitan dengan humaniora, sastra, dan filsafat kontinental (bukan analitik). Analisis utama dalam ilmu-ilmu adalah operasi qiyasi terhadap teks-teks yang sudah ada. Operasi ini memang akan melahirkan hasil analisa yang lebih luas dan cukup common sense. Namun tidak untuk menggeneralkan bahwa di dalamnya juga menggunakan logika formal.

Ciri pemikiran cocokologis sangat digandrungi masyarakat awam. Cocokologi lebih membangkitkan rasa takjub karena telah menemukan—semacam—sesuatu yang selama ini tersembunyi melalui nalar cocokologi-nya. Teori konspirasi yang bertebaran atau pengungkapan sejarah-sejarah yang tersembunyi, jika tidak berlebihan, semaunya menuntut pada nalar ini. Metode mereka adalah mencari fragmen-fragmen yang dianggap dapat mendukung, yaitu memiliki “kesamaan”. Semakin banyak bukti fragmental seperti data tekstual, bukti arkeologi, atau pengujian carbon dating, maka hipotesanya semakin kuat dan diterima. Penelitian seperti ini sangat terkesan ambisius, karena hanya ingin menjustifikasi hipotesanya. Pencarian yang lebih fair dalam penelitian sejarah adalah melihat dua sisi. Motivasinya seimbang antara falsifikasi dan verifikasi, sehingga kesimpulan yang dihasilkan lebih mencerminkan netralitas. Jika tidak, terjatuh pada penyakit bernama cocokologis.

Nalar ini dapat kita pakai memahami realitas kekinian melalui rekam jejak panjang sebuah peristiwa lalu menghubungkan kesamaan-kesamaan antara satu fragmen informasi dengan informasi lain. Proses seperti itu harus ekstra hati-hati, dan yang terpenting mawas diri bahwa selamanya metode bayani secara murni hanya menghasilkan dugaan. Artinya ia bermanfaat sejauh memperluas wawasan memahami situasi di manapun dan apapun.

Di era informasi perlu menyadari ini, karena setiap individu akan dikuasai oleh pikirannya, dan setiap pikiran akan dikuasai oleh informasi dan logika mereka.


Komentar

  1. The girls here with us would never Call Girls near Ahmedabad Airport call you once your booking is over.Call Girls near Ahmedabad Airport This is one of the reasons why we here at the house ofRussian Escorts Agency in Aerocity have earned ourselves Haridwar Housewife Escorts agency a great reputation Ahmedabad Housewife Escorts agency and a good will that is surely unmatchable. Delhi Housewife Escorts agency Check our other Services...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...