Langsung ke konten utama

Kenapa Harus Salat?

Pertanyaan ini selalu muncul tetapi lebih banyak dipendam daripada dikeluarkan karena hal-hal yang berkaitan dengan ibadah hampir-hampir tabu untuk dipertanyakan. Para ulama menanggapnya sebagai perintah ta’abbudi, bukan ta’aqquli yang mesti dicari alasannya.

Bagi sebagian ulama, rakaat, jumlah, dan semua tata caranya sudah diturunkan seperti itu kepada hambanya hanya untuk menguji, "apakah seorang hamba benar-benar menyembah Tuhannya atau tidak?" Atau mengukur, "apakah seorang hamba meyakini Tuhan yang memerintahanya atau hanya sekadar lahiriah semata?"

Kalau kita melihat fenomena orang yang sengaja tak mempunyai niat sama sekali untuk melaksanakan ibadah, pada dasarnya akal mereka tidak melihat sesuatu yang menyenangkan dirinya dalam salat. Salat justru, menurutnya, menjadi penghalang aktivitas-aktivitas penting dalam hidupnya.

Wajar pengabaian itu terjadi. Sangat manusiawi. Akal manusia selalu mencari manfaat bagi dirinya dalam bentuk zahir atau batin. Jika akal tidak menemukan manfaat, tindakan itu akan ditinggalkan. 

Salat yang dilakukan dengan cara terpaksa atau karena tuntutan lingkungan sebenarnya mencari manfaat di balik salatnya. Paling tidak untuk menghindari cemoohan masyarakat atau mendapatkan perhatian beda dari lingkungannya.

Namun manfaat itu tidak akan selamanya bertahan, jika dia berpindah di lingkungan yang lain atau mendapatkan kesempatan menghindar dari perhatian masyarakat. Salat pada dasarnya mempunyai tujuan substansial yang melekat pada esensi salat, dan tujuan aksidental yang didapatkan tidak secara tetap dan bergantung pada syarat-syarat tertentu.

Tujuan substansial Salat pada hakikatnya ungkapan fitrawi manusia untuk menyembah kekuatan yang tinggi dan absolut, yakni Allah swt. Ketika manusia merasakan kelemahan dan kerendahannya pada saat yang sama muncul kekaguman atau ketakjuban pada pencipta alam semesta.

kompleksitas yang terbangun di alam tidak bisa terjadi tanpa proses evolusi yang mengarah pada tujuannya masing-masing entitas. Tetumbuhan bergerak, menghasilkan bebuahan, mengganti karbondioksida yang dipakai manusia menjadi oksigen. Hewan dan manusia dengan kemampuan jiwa mampu memahami sekitarnya untuk menghidupi dirinya sendiri.

Mereka mampu menyesuaikan dirinya untuk tetap panjang umur atau mati seketika karena bunuh diri. Semua gerakan dan kehidupan itu diakui oleh filsuf maupun saintis timbul secara perlahan-lahan melalui gerak evolusi.

Perubahan itu sangat merendahkan status manusia yang angkuh dengan pemahamannya dan menolak kekuatan absolut dibalik semua fenomena itu. Meski tidak teruji afirmasi atau negasi eksistensi kekuatan absolut itu secara indrawi, akal manusia mampu menelisik lebih dalam dari tanda-tanda alam yang diberikan oleh pembuat tanda itu.

Penyembahan merupakan aspek esensial kehidupan manusia dalam seluruh fase sejarah manusia hingga saat ini, karena itu beribadah atau salat adalah jalan Islam dalam menuntaskan fitrah dahaga spiritualitas dan ketuhanan.

Beberapa orang mungkin menolak fitrah spiritual dan menganggap hanya sebagai asumsi agamis belaka. Namun fakta di setiap tahapan kemanusiaan bahkan sekarang kita lihat, manusia selalu mencari entitas untuk dipertuhankan.

Seberapa hebat seseorang dalam dirinya fitrah pencarian itu tumbuh secara tidak sadar dan disesuaikan dengan lingkungan. Islam menjadikan Salat sebagai penolong dalam problem psikologis, yang mungkin juga berdampak pada fisiologis.

Kritik yang dilancarkan oleh pengagum Sains Modern terhadap agama justru kebanyakan hasil asumsi world view saintisme dan asumsi yang tak disadari. Neurosains paling banyak dipakai untuk menganalisa fenomena keberagamaan.

Beberapa mereka mendukung dan memberikan hasil positif akibat kedamaian dan ketentraman dalam pesan-pesan agama.

Namun, kesimpulan lainnya kedamaian dan ketentraman itu tidak mesti dengan agama karena kesan psikologis agama bisa ditemukan dengan metode non-agamis, seperti meditasi, berolahraga secara teratur, atau mengonsumsi makanan yang bergizi. Pandangan itu tentu sangat reduksionistik, karena memandang fenomena agama terbatas pada pola dan aliran elektromagnetik di dalam otak.

Persoalan afektif dan cara bernalar dalam realitas non-empirik luput dari perhatian. Afeksi, kognisi, dan aksi manusia sebagaimana kita mengalaminya langsung berbeda dari observasi dari luar.

Karena, terjadi hubungan timbal balik antara ranah luar dan dalam, tidak berjalan searah dari luar sehingga segala sesuatu adalah output dari akses eksternal.

Betapa banyak kita temukan orang yang miskin atau bahkan hampir semua bagian fisiknya cacat tetapi lebih bahagia, damai, dan tentram dibandingkan yang lebih sempurna fisik dan susunan sarafnya.

Dalam sejarah Islam, Ali bin Abi Thalib wafat karena otaknya dihantam belati, tetapi beliau tetap membiarkan pembunuhnya dihukum secara adil. Beliau tetap memberikannya makan pembunuhnya di akhir-akhir hidupnya. Itu menunjukkan kelemahan pendekatan psikologis untuk memahami manusia secara lebih dalam.

Ungkapan fitrawi jika diperlakukan berdasarkan jalurnya akan menghasilkan manusia sempurna secara lahir dan bathin. Semua instruksi sains yang terbukti secara faktual harus ditaati di dalam Islam sebagaimana menaati Tuhan, karena Dia sendiri yang memerintahkannnya untuk memakai akal melihat tanda-tanda, dan menghindar dari segala kemudaratan.

Dalam pandangan Muthahhari, kesempurnaan manusia mencakup semua aspek kehidupan manusia. Beliau memahami Islam sebagai keseimbangan hidup di antara setiap aspek tubuh, pikiran dan jiwa. Di dalam salat, ketiganya menyatu ketika seorang hamba menyerahkan dirinya kepada hadirat Tuhan yang maha esa. Gerakan tubuh yang dari berdiri, ruku’, sujud dan duduk memiliki pemaknaan simbolik.

Penyembahan di dalam salat tidak seharusnya mengarah pada luar diri manusia di mana pun itu. Khayalan tentang Tuhan yang transenden dan imanen bahkan terpecah menjadi wujud ketundukan itu sendiri.

Kita bisa temukan artikel yang banyak tentang pengaruh salat terhadap kesehatan: jantung, pembakaran kalori dan sebagainya. Pengaruh kesehatan pikiran untuk melatih mindfullness dan kesehatan mental. Apalagi pencerahan jiwa sebagaimana diungkapkan oleh ahli penyingkap hijab untuk menyaksian hakikat ilahi dalam kelupaannya. Pengaruh itu tergantung pada pandangan seseorang terhadap salat.

Ketinggian salat hanya bisa ditemukan dalam kesungguhan dan konsistensi hati menghadapkan jiwa keharibaan sang mahasuci. Itulah mengapa pengulangan lima kali sehari seumpama mandi di tengah aliran sungai. Setiap setelah salat dalam sehari kotoran itu terkikis hingga mengkilatkan cermin hatinya.

Akhirnya, di luar salatnya, setiap tindakan, pembicaraan, kehendak, bahkan pikiran adalah bentuk salat yang menetap.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...