Langsung ke konten utama

Sinkretisme Agama dan Spiritualisme

Di antara fenomena spiritualisme saat ini ialah usaha menyatukan semua tradisi pemikiran dan ritual menjadi satu “agama” baru. Boleh disebut Pseudoreligion. Fenomena ini membawa penganut agama tertentu masuk ke dalam ruang penggabungan wisdom seluruh agama. Memahami sinkretisme seperti ini sekompleks seperti memahami agama. Banyak metode implisit dan eksplisit dalam sinkretisme. Al-Ghazali dalam menggunakan sistem moral yang sama dengan empat kebijaksanaan stoisisme. Penyisipan ini sulit dikenali tanpa membandingkan dengan tradisi lain.

Secara internal sinkretisme itu beragam (internally diverse). Cakupan peleburan agama-agama atau tradisi boleh jadi tetap mematuhi prinsip  non-kontradiksi, karena dalam proses sintesa pemikiran pertimbangan logika seperti itu jarang digunakan. Boleh dikatakan upaya sinkretisme sebagian hanya melakukan pencomotan ajaran untuk mendukung tujuan implisit lain. Tradisi pemikiran tidak lain dalil eksternal untuk meyakini kelompok lain.

Theosophy Society di antara organisasi neo-hinduisme dengan mengambil unsur-unsur lain dari Kristen, Buddha, Jainisme, dan selainnya. Adaptasi unsur agama lain belum tentu benar-benar unsur baru dari agama sebelumnya. Konsep moral dan kemanusiaan ada di setiap agama.

Adaptasi moral pada dasarnya hanya penguatan bukan adaptasi yang sebenarnya. Namun dalam praktik agama tertentu, ritual sembahyang dalam agama Buddha dan Hindu benar-benar tidak bisa dimasukkan ke dalam ajaran Islam, selain karena sudah mempunyai ritual “sembahyang” tersendiri secara doktrinal Islam hanya menerima sumber Qur’ani dan Sunnah dalam beribadah. Sinkretisme ini dalam pengertian ritual dan masih sangat jarang yang mempraktikkan secara langsung. Organisasi yang dibuat Helena Blavatsky bersama dengan Olcott lebih dominan dalam ranah moral-doktrinal.

Selain itu, kita bisa melihat Filsafat Perennial yang banyak dilekatkan pada ahli studi agama-agama. Rene Guenon, salah satu pelopornya, melancarkan kritik terhadap aliran Theosophy Society yang dibentuk mme Blavatsky, karena menganggapnya sebagai agama baru yang ilutif atau pseudoreligion. Lembaga Blavatsky lebih cocok disebut sebagai Teosofisme dibanding Teosofi (tanpa -isme) dalam makna yang sebenarnya.

Dalam pernyataan Blavatsky yang dikutip Guenon, lembaga Theosophy Society hakikatnya tidak merekonstuksi Hinduisme tetapi tujuan sebenaranya dalah mendekonstruksi Kristiani di muka bumi ini. Ambisi itu seakan-akan penuh kebencian. Namun, benih ajaran Blavatsky telah berevolusi dengan topeng baru di bawah pelanjutnya, Besant. Uraian Guenon yang lebih lengkap bisa ditemukan di bukunya tentang Pseudoreligion.

Filsafat Perennial juga memiliki unsur sinkretis dalam ranah esoteris, bahwa setiap agama memiliki merupakan ungkapan dari kebenaran absolut. Manusia bisa menemukan kebenaran absolut dengan intelect, sebuah media pengetahuan spiritual yang dibedakan dengan akal (reason). Namun, Filsafat Perennial ini biasa disebut sebagai Tradisionalisme karena kebenaran absolut (Tuhan) ada dalam setiap tradisi yang murni.

Perennialis mengkritik modernitas karena telah mengaburkan manusia untuk memahami warisan di setiap tradisi. Modernitas adalah satu-satunya pembelokan dalam perjalanan sejarah dari “tradisi”. Ia membawa manusia jauh dari kebenaran spiritual. Perennialisme ini sangat menarik karena kebanyakan orang yang mempercayainya sudah mempelajari banyak tradisi agama, seperti Huston Smith, Hossein Nasr, Marin Lings, Fritjhof Schuon, dan sebagainya.

Namun, jika ingin menggunakan upaya rasional dan empiris untuk membuktikan “sinkretisme spiritual” maka tidak akan pernah berhasil, karena mereka meyakini alat epistemologi intellect (hati) yang hampir tidak diakui karena tidak bisa diakses setiap orang. Namun secara faktual, eksistensi yang menyatu dalam ranah esoteris bisa dipandang melalui fenomenologi agama-agama. Secara logis, kebersatuan itu tidak bermsalah jika berada di luar ranah (field) doktrinal dan ritual.

Upaya mencapai kebijaksanaan tertinggi sudah banyak diungkapkan oleh setiap agama. Dalam batasan tertentu penggabungan itu tidak bersamalah kalau justru saling menguatkan satu sama lain. Namun peleburan hanya karena ketakjuban dari diversifikasi tradisi pemikiran absurd secara logika.

Pengakuan atas ketinggian setiap tradisi pemikiran belum bisa diklaim oleh siapa saja. Setiap mansuia di beri akal untuk melihat, menganalisa, dan membandingkan. Diversifikasi itu memiliki titik temu dan titik pisah masing-masing. Dalam ranah sosial dan kehidupan kita mencari titik temu dan terbuka pada titik pisah. Tidak ada kesimpulan umum tentang sinkretisme yang sangat kompleks. Namun prinsip umum dari penjelasan adalah rasionalitas dan keberasamaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...