Langsung ke konten utama

Postingan

Featured Post

Cocokologi

  Semua proses pemikiran berlandaskan pada relasi-relasi. Sejak pengetahuan masih berupa gambaran imajinatif sampai analisis fundamental pada konsep universal, nalar tidak bisa lepas dari penghubungan. Saking kuatnya daya perelasian, pikiran terkadang jatuh pada kesesataan berpikir yang kita sebut “ cocokologi ”. Term ini mengungkapkan hubungan antara satu hal dengan yang lain karena mereka memiliki kemiripan. Kemiripan itu menjadi dalil akal untuk menyimpulkan hubungan atau pengaruh mereka satu sama lain. Paling tidak peristiwa relasional bersumber dari hubungan konsep universal ke partikular dan hubungan sebab ke akibat. Pada bagian yang pertama, ahli hukum Islam menyebutnya dengan Qiyas . Dalam silogisme fikih terdapat objek yang sudah diketahui hukumnya dan objek yang belum diketahui hukumnya. Kemudian hukum objek pertama ini juga diketahui ‘sebab hukum’-nya atau ‘illat . Setelah objek yang kedua dianggap memiliki ‘illat yang sama, objek kemudian mempunyai hukum yang sama....
Postingan terbaru

Kenapa Harus Salat?

Pertanyaan ini selalu muncul tetapi lebih banyak dipendam daripada dikeluarkan karena hal-hal yang berkaitan dengan ibadah hampir-hampir tabu untuk dipertanyakan. Para ulama menanggapnya sebagai perintah ta’abbudi , bukan ta’aqquli yang mesti dicari alasannya. Bagi sebagian ulama, rakaat, jumlah, dan semua tata caranya sudah diturunkan seperti itu kepada hambanya hanya untuk menguji, "apakah seorang hamba benar-benar menyembah Tuhannya atau tidak?" Atau mengukur, "apakah seorang hamba meyakini Tuhan yang memerintahanya atau hanya sekadar lahiriah semata?" Kalau kita melihat fenomena orang yang sengaja tak mempunyai niat sama sekali untuk melaksanakan ibadah, pada dasarnya akal mereka tidak melihat sesuatu yang menyenangkan dirinya dalam salat. Salat justru, menurutnya, menjadi penghalang aktivitas-aktivitas penting dalam hidupnya. Wajar pengabaian itu terjadi. Sangat manusiawi. Akal manusia selalu mencari manfaat bagi dirinya dalam bentuk zahir atau batin. Jika a...

Sinkretisme Agama dan Spiritualisme

Di antara fenomena spiritualisme saat ini ialah usaha menyatukan semua tradisi pemikiran dan ritual menjadi satu “agama” baru. Boleh disebut Pseudoreligion . Fenomena ini membawa penganut agama tertentu masuk ke dalam ruang penggabungan wisdom seluruh agama. Memahami sinkretisme seperti ini sekompleks seperti memahami agama. Banyak metode implisit dan eksplisit dalam sinkretisme. Al-Ghazali dalam menggunakan sistem moral yang sama dengan empat kebijaksanaan stoisisme. Penyisipan ini sulit dikenali tanpa membandingkan dengan tradisi lain. Secara internal sinkretisme itu beragam ( internally diverse ). Cakupan peleburan agama-agama atau tradisi boleh jadi tetap mematuhi prinsip   non-kontradiksi, karena dalam proses sintesa pemikiran pertimbangan logika seperti itu jarang digunakan. Boleh dikatakan upaya sinkretisme sebagian hanya melakukan pencomotan ajaran untuk mendukung tujuan implisit lain. Tradisi pemikiran tidak lain dalil eksternal untuk meyakini kelompok lain. Theosophy ...

Agama, Iman, dan Pandangan Dunia

Agama tidak bisa lepas dari iman. Namun tidak setiap orang yang beragama lantas menjadi fideistis, mendahulukan iman di atas segalanya. Fenomena agama, sebenarnya, tidak bisa lepas dari fanatisme. Fanatik dalam pengertian berpegang kuat terhadap pandangannya. Hal seperti itu wajar saja, asal tidak menutup diri untuk berdiskusi dan melihat kritik atas pandangannya. Karena itu, agama dalam bentuk “iman” pada sebuah pandangan terjadi bukan hanya pada kaum bertuhan, tapi mencakup semua bentuk world view , ateis atau teis, materialis atau dualis, dan sebagainya.  Sulitnya, hanya orang beragama yang dianggap beriman dan fanatik terhadap ajarannya, padahal semua orang seperti itu pada world view -nya masing-masing. Perbedaannya, yang satu bersikap terbuka, yang lain masih ekslusif dengan pemikirannya. Dalam tingkat yang lain, sebagian tidak menyadari telah “beriman” dan sebagian menyadari terhadap apa mereka “beriman”, Nah, setelah seseorang mendapat “keimanan” tertentu, muncullah sikap...

Cinta: Eros, Philia, dan Agape

Cinta - Setiap orang mengalami cinta, tetapi tidak semua yang mampu mengungkapkannya. Cinta memiliki akar filosofis di alam pemikiran Yunani dilihat dari kekayaan bahasanya. Berbeda dengan bahasa lain, Ia membagi-bagi cinta berdasarkan objek dan motivasi munculnya cinta pada diri seseorang. Dalam bahasa inggris, kata love berasal dari bahasa Jerman, yaitu lubh artinya hasrat. Kemudian proses pemaknaan terhadap hasrat itu berubah sesuai pengalaman individual seseorang. Kahlil Gibran, seorang penyair kristiani yang sempat booming di tahun 80-an, memaknai cinta sebagai getaran. Getaran yang beliau maksud tentu reaksi jiwa yang mengguncang hati. Bukan getaran HP ketika notifikasi masuk lalu kita merasakan cinta, apalagi getaran gempa lalu memunculkan cinta ditengah guncangan yang dahsyat, sambil menikmati guncangan itu dan tidak mencari tempat yang aman. Gibran mengungkapkan perasaannya dengan puisinya ketika mendapatkan getaran dalam keadaan mencintai sesuatu. Pandangan ini jamak ter...

Berpikir dan Bertindak Maqashidi

Orang berakal identik dengan cara berpikir berorientasi pada tujuan yang jelas. Al-Qur’an dan agama secara umum mengajarkan manusia untuk mempunyai tujuan di setiap tindakan partikular atau dari keseluruhan jati dirinya. Maka tidak ada agama bagi orang yang jahil dan terombang-ambing oleh arus lingkungan dan pikirannya. Agama menghadirkan idealisme bagi akal untuk dituju. Jika kita melihat produk pemikiran modern, hampir semuanya memiliki tujuan jelas dan terstruktur dalam kehidupannya, sehingga terkadang disebut kaum strukturalis. Namun setelah perubahan dan kekecewaan terhadap nilai dan ideal, lahirlah post-strukturalis, mereka terombang-ambing di dalam relatifisme budaya dan pemikiran. Mereka mungkin tampak masih bisa hidup, tapi jiwa dan akalnya belum mendapatkan tempat tinggal untuk menetap dalam ruang idealisme dengan perjuangan tanpa henti. Kata-kata terakhir itu perlu direnungkan lebih dalam, tentang urgensi tujuan dalam segala aspek diri kita. Dalam Islam, seorang Ulama di S...

Literasi Agama Bagi Masyarakat Indonesia

Situasi sosial di Indonesia yang terdiri dari beragam agama dan kepercayaan memerlukan orang-orang yang melek literasi agama. Keragaman di Indonesia sangat unik dibandingkan dengan negara lain. Mungkin, jika kondisi sosio-kultur Indonesia terjadi di negara-negara homonim seperti Arab, Cina, India, atau wilayah Eropa bakal terjadi konflik terus menerus. Faktor ketertiban di Indonesia sangat kompleks. Tidak seperti yang diduga. Selain karena rumusan Pancasila yang begitu inklusif, kenyataan geografis yang dipisahkan banyak laut, keduanya termasuk pendorong masyarakat awam untuk cenderung toleran. Namun akhir-akhir ini pengaruh Islam formal cukup masif pengaruhnya, sehingga satu dua penyerangan terhadap agama lain terjadi. Dimulai dari sikap abai terhadap agama lain, pengkafiran, hingga bom bunuh diri menandai konservatisme agama eksis di Indonesia. Persoalan ini, saya kira, karena kurangnya pemahaman empatik terhadap agama lain, pemikiran tertutup, dan klaim kebenaran absolut. Abdul Ka...