Semua proses pemikiran berlandaskan pada relasi-relasi. Sejak pengetahuan masih berupa gambaran imajinatif sampai analisis fundamental pada konsep universal, nalar tidak bisa lepas dari penghubungan. Saking kuatnya daya perelasian, pikiran terkadang jatuh pada kesesataan berpikir yang kita sebut “ cocokologi ”. Term ini mengungkapkan hubungan antara satu hal dengan yang lain karena mereka memiliki kemiripan. Kemiripan itu menjadi dalil akal untuk menyimpulkan hubungan atau pengaruh mereka satu sama lain. Paling tidak peristiwa relasional bersumber dari hubungan konsep universal ke partikular dan hubungan sebab ke akibat. Pada bagian yang pertama, ahli hukum Islam menyebutnya dengan Qiyas . Dalam silogisme fikih terdapat objek yang sudah diketahui hukumnya dan objek yang belum diketahui hukumnya. Kemudian hukum objek pertama ini juga diketahui ‘sebab hukum’-nya atau ‘illat . Setelah objek yang kedua dianggap memiliki ‘illat yang sama, objek kemudian mempunyai hukum yang sama....
Pertanyaan ini selalu muncul tetapi lebih banyak dipendam daripada dikeluarkan karena hal-hal yang berkaitan dengan ibadah hampir-hampir tabu untuk dipertanyakan. Para ulama menanggapnya sebagai perintah ta’abbudi , bukan ta’aqquli yang mesti dicari alasannya. Bagi sebagian ulama, rakaat, jumlah, dan semua tata caranya sudah diturunkan seperti itu kepada hambanya hanya untuk menguji, "apakah seorang hamba benar-benar menyembah Tuhannya atau tidak?" Atau mengukur, "apakah seorang hamba meyakini Tuhan yang memerintahanya atau hanya sekadar lahiriah semata?" Kalau kita melihat fenomena orang yang sengaja tak mempunyai niat sama sekali untuk melaksanakan ibadah, pada dasarnya akal mereka tidak melihat sesuatu yang menyenangkan dirinya dalam salat. Salat justru, menurutnya, menjadi penghalang aktivitas-aktivitas penting dalam hidupnya. Wajar pengabaian itu terjadi. Sangat manusiawi. Akal manusia selalu mencari manfaat bagi dirinya dalam bentuk zahir atau batin. Jika a...