Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Epistemologi Tasawuf

Pembahaasan Epistemologi berkutat pada proses pengetahuan, sumbernya dan neracanya. Dulunya pengetahuan dibatasi pada apa yang hadir dimental manusia. Para filsuf mengkajinya dari pelbagai aspek untuk menentukan sumber-sumbernya secara tashawwurat ataupun tashdiqaat . Pembahasan ini masuk pada ranah ilmu yang didapatkan secara perolehan ( iktisab ) atau memerlukan usaha rasional atau empiris untuk mendapatkannya. Namun, dalam perkembangannya diskursus itu tidak terbatas pada pengetahuan yang memiliki perantara. Manusia dapat memperoleh pengetahuan langsung tanpa ada pemisahan antara objek dan subjek. Pengetahuan ini hanya bisa diketahui secara individual dan tidak bisa diajarkan. Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan tentang pengetahuan ini tiada lain hanya sebagai penjelasan yang konsepsional sebagai cerminan tentang pengalaman ini. Namun, penjelasan-penjelasan itu rentan disalahpahami karena penggunaan kata-kata untuk menjelaskannya hanya dipahami oleh yang pernah mengalami pengetahuan...

Kosmologi Tasawuf

Kosmologi adalah pembahasan tentang realitas alam semesta dan asal-usulnya. Berbeda dengan ontologi yang lebih umum dari pembahasan kosmos karena menuju langsung pada realitas itu sendiri secara keseluruhan. Oleh karena itu dalam pandangan tasawuf, kosmos hanyalah manifestasi ilahi yang di dalamnya terkadung tingkatan-tingkatan sesuai kedekatannya pada manifestasi ilahi yang pertama. Segala sesuatu selain Dia adalah manifestasi yang bergantung. Kosmos tidak memiliki keberadaan yang sebenar-benarnya. Realitas yang sebenarnya menampak pada untaian alam semesta. Alam Rububiyyah Penyebutan Allah sebagai nama adalah kemencakupan bagi seluruh sifat dan asma lainnya. Dengan nama itulah manusia mengenal Zat tuhan yang tersembunyi. Pengenalan terhadap Zatnya adalah makrifat tertinggi dan tujuan kehiduoan manusia. Pengenalan itu tidak secara konsepsional atau hushuli melainkan melalui makrifat kehadiran dan pengalaman manusia secara langsung tanpa perantara. Manusia bisa mencerap hikmah keda...

Manusia dalam Tasawuf

Manusia adalah misteri yang tidak pernah habis untuk dikaji. Sejak Aristoteles hingga saat ini, para filosof mengemukakan pandangannya dengan pelbagai pendekatan dan metode. Setiap hasil dari pandangan tentang manusia bergantung pada pendekatan yang digunakan. Hal ini tidak berarti semua pemahaman tentang manusia adalah relatif, karena kesimpulan-kesimpulannya dianggap benar menurut metode tertentu sedangkan jika dikaji dengan metode lain akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Pada dasarnya setiap metode itu memiliki kebenarannya selama mencerminkan realitas yang dikaji. Hanya saja sejauh mana kedalaman dan kekomprehensifan penelitiannya tentu akan menyebabkan perbedaan kesimpulan. Selain itu, cara berpikir manusia sangat dipengaruhi oleh keluasan wawasannya dalam menalar esensi manusia yang sebenarnya. Hakikat Manusia Mari kita memulai menelisik satu persatu pandangan para pemikir secara umum tentang manusia melalui pendekatan metodologis. Dalam keilmuan secara umum, dasar epi...

Tauhid dalam Tasawuf

Tauhid adalah pokok keyakinan dalam Islam. Dalam pengelompokan ilmu-ilmu keislaman, tauhid memiliki tingkatan berdasarkan kualitas pemahaman terhadap keesaan Tuhan. Setiap tingkatan tauhid yang lebih tinggi mesti didahului oleh pemahaman dasar tentang tauhid dibawahnya. Tauhid dalam Islam seperti landasan yang membangun cabang-cabang keyakinan lainnya. Oleh karena itu, tauhid tidak mungkin terpisah dari Islam dan tercermin dalam rukun keislaman pertama. Jika ditinjau secara umum, tauhid diyakini oleh semua umat muslim. Namun, dalam aspek detail penjelasan tauhid, muncul beragam kelompok yang berusaha menjelaskan rasionalitas tauhid atau bahkan mengalami tauhid secara langsung. Oleh karena itu, perlu dibedakan sudut pandang tauhid menurut pemahaman kalam, filosofis atau tasawuf. Masing-masing tiga cabang itu merepresentasikan metode berpikir tersendiri dan di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan pendapat. Secara singkat, dalam pandangan kalam, tauhid didemonstrasikan dengan memulai d...

Rabu Wekasan dan Waktu Sial

Dalam sejarah, pada hari rabu terakhir bulan safar Rasulullah diracun. Sejak 12 hari setelah itu Nabi wafat. Tentu hari itu sangat menyedihkan bagi kaum muslimin seluruhnya hingga sekarang. Namun disamping itu, utusan Allah telah kembali kepada kekasihnya yang abadi. Kesedihan kita tidak lebih besar dari kesedihan Nabi dalam melihat umatnya yang terpecah belah. Kebahagiaan Nabi tidak lebih kecil daripada kita ketika bertemu kepada Rabbnya. Sejarah pasti berulang jika syarat-syarat sebab itu kembali ada. Hari-hari yang datang kemudian dan yang telah lewat secara materil bisa diidentifikasi sebab-sebabnya. Banyak bala’ yang menghampiri manusia dan rezeki yang mendatanginya. Keduanya tidak muncul tanpa sebab dan syarat-syarat yang mendahuluinya. Dalam cerahan akal dan penelitian eksperimental, kematian mempunyai banyak sebab yang tidak mesti didahului sakit, begitu pula sakit tidak mesti didahului perbuatan buruk yang dilakukan. Terdapat hal-hal yang bisa dikontrol dan tidak dikontrol s...

Pengantar Memahami Tasawuf dalam Islam

Tasawuf adalah aspek puncak dalam keberagamaan seseorang. Islam bukan sekadar agama yang mengajarkan aturan-aturan yang tidak bermakna, melainkan terdapat sisi spiritualitas yang sangat dalam pada setiap formalitas yang ditetapkan secara kanonik. Tasawuf adalah penggalian sisi spiritualitas Islam yang tujuan utamanya adalah menuju Allah swt. Dalam perjalanan keberagamaan seseorang, tidak sedikit yang berakhir pada Tasawuf. Contohnya Al-Ghazali, Ibnu Sina dan tokoh-tokoh fenomenal dalam Islam. Oleh karena itu, di dalam tasawuf, tujuan agama menjadi jelas, manusia bisa membedakan keislaman yang hakiki dan keislaman yang tertipu oleh simbol-simbol semata. Ada beberapa pendapat para ahli tentang Tasawuf yang diambil dari terma linguistik dan historis. Pertama, kata “Ash-shaff” yang dinisbahkan kepada orang-orang yang salat di baris paling depan, sebagaimana pada salat jama’ah baris pertama memiliki kemuliaan, begitu pulalah Tasawuf. Kedua, diambil dari kata ahl as-shuffa merujuk kepada ...

Perjalanan Mendaki

Dalam kehidupan penyempurnaan diri, filosofi yang paling sering digunakan adalah pendakian memuncak hingga mencapai titik tertinggi dari lereng gunung. Ada banyak hal yang bisa mencerminkan perjalanan asli manusia dengan analogi di dalam pendakian itu. Sebut saja sulitnya pendakian yang ditempuh bersamaan dengan semakin dekatnya kita ke puncak. Terdapat banyak rintangan dan hal-hal yang bisa menjatuhkan seseorang tiba-tiba ke jurang yang paling bawah, tersesat hingga tak bisa kembali lagi melihat cahaya penerang jalan. Perjalanan itu membutuhkan istirahat yang cukup untuk mengambil tenaga. Terakhir, seorang pendaki mesti sangat berhati-hati dari banyaknya gangguan yang datang dari perjalanan itu sendiri atau kawan-kawan sekitar dalam perjalanan yang tidak mengetahui perjalananmu. Seorang pejalan mesti memahami dirinya dan perjalanannya, karena sesungguhnya pengetahuan terhadap medan perjalanan adalah setengah dari perjalanan. Apa yang saya alami adalah banyaknya keterjatuhan yang tid...