Langsung ke konten utama

Postingan

Dua Cara Memahami Wujud

Salah satu terma yang paling krusial dalam filsafat adalah Wujud, khususnya Filsafat Islam. Wujud berasal dari bahasa arab yang artinya keberadaan, eksistensi, atau being . Cukup mudah untuk memahaminya, tetapi sangat sulit untuk mendalami cabang-cabang pembahasan yang diulas oleh para filsuf. Hal yang terpenting dalam memahami Filsafat ialah pemahaman presisi terhadap terma-terma filsafat yang ada dan penguasaan terhadap analisis logika.     Karenanya, Wujud jika dianalisis lebih dalam, ia mempunyai banyak posisi dan perbedaan  dalam menggunakan istilahnya. Meskipun, beberapa orang berkomunikasi menggunakan kata itu dengan makna yang sama. Perbedaan dalam memaknai kata bisa menyebabkan miskomunikasi. Oleh karena itu, perlu membahas wujud sebagaimana dalam konteks cara memahaminya.     Wujud banyak dikaji secara dalam, karena merupakan konsep paling mendasar dari semua pemikiran manusia. Watak Filsafat selalu mencari akar dan asas realitas yang disel...

Apakah Keburukan Diciptakan? (Bagian Pertama)

Wabah Covid-19 yang menimpa kita ini sangat mencemaskan masyarakat global. Bukan hanya menyebabkan kematian di pelbagai tempat, tetapi kemiskinan dan kejahatan. Kita dilanda musibah yang begitu pedih, bahkan sebagian orang tidak mampu menanggungnya. Alih-alih bersabar atas musibah itu, beberapa tergugah dengan sang pencipta alam semesta yang menurutnya harus menuntaskan semua keburukan, kejahatan, dan kemelaratan di dunia ini.  Banyak pertanyaan dicecarkan kepada orang-orang yang bertuhan, Siapa yang menciptakan musibah ini? di banyak pelosok terjadi kemiskinan, penyakit dan sebagainya, mungkinkah semua itu terjadi tanpa izin dari pencipta alam semesta? apakah Dia sudah melepaskan sifat mahabaik-Nya atau mahakuasa-Nya tak mampu menghalangi bencana itu terjadi? Melihat kejadian itu, salah satu agama kuno memberikan solusi dengan dua pencipta alam semesta. Satu yang menciptakan kebaikan dan satunya lagi khusus menciptakan keburukan, bencana, kejahatan. Kebaikan dan keburukan memang...

Tiga Dalil Kemendasaran Wujud

Kemendasaran Wujud atau Ashalatul Wujud merupakan doktrin penting dalam filsafat Islam yang menjawab pertanyaan tentang apa yang mengisi segala yang ada dalam realitas eksternal dan menjadi hakikat bagi realitas itu. Tanpa landasan atau dasar maka realitas eksternal menjadi tak ada. Penelitian terhadap realitas eksternal dimulai secara indrawi mencerap benda-benda kemudian akal memahami konsep itu lebih dalam sampai jantung hakikat benda, menerobos apa yang sekadar tampak.      Setiap filsuf   yang mempunyai kerangka pandangan dunia ontologis pasti memiliki jawaban atas pertanyaan ini, dengan hasil penalaran mereka masing-masing, tentunya. Sebagian masih melakukan perdebatan dalam ranah materi dan benda-benda dengan menganggap yang mendasar adalah air, bahwa yang menjadi sumber adanya yang lain merupakan hasil dari berubahnya air. Lalu, berkembang filsuf alam lain yang menyimpulkan bahwa api, empat unsur dalam bumi, atau bagian terkecil alam (semacam atom) seperti ya...

Beribadah — Sebuah Puisi

Dimana-mana orang menyembah Mencari tempat, mencari arah Dengan-Nya kuberibadah Tapi aku selalu merasa salah Kebenaran yang kucari-cari Membuatku menjadi tak berarti Mengapa bisa begini Merasakan nir-makna hidup Yang selalu menari Di dalam hati Rutin saja aku bertakbir Mengucapkan zikir dengan mengalir Tanpa banyak pikir Aku hanya menyapa diri yang getir Apa akhir semua ini Apa awal jalan ini Bagaimana menapak kaki ini Adakah ruang kosong dalam sanubari Yang mendorong pada Ilahi Lantas mencapai kebahagiaan yang hakiki Dimana kebenaran sejati? Yang selalu kunanti-nanti Apakah itu cuma ilusi Atau akhir dari semua langkah kaki Achmad Fadel 1 Juli 2020

Tanpa Arah — Sebuah Puisi

Dunia tak ada lagi rasa Agama tak juga memberikan Fana yang selalu dijanjikan Penglihatan yang membuka Menelisik tabir yang menahan Ilmu seakan-akan meragukan Tapi, tak mungkin tanpanya Aku berjalan dengannya Berhenti dengannya Dan mati bersamanya Setiap orang menawarkan Setiap orang memilih Setiap orang ragu Setiap orang yakin Semuanya klaim Aku memilih untuk tidak memilih Membiarkan jalan menjadi tujuan Dimana perhentian, disitulah kematian Siapa yang bisa membuka tabir? Banyak yang bicara tapi pandir Hanya berkata dan menyitir Tak pernah mencari cara, sendiri. ***

Berpikir Sederhana (Refleksi)

Pernah tidak, melihat orang yang terlalu ribet mikir, berputar-putar, sudah menjelaskan di ulang lagi penjelasannya. Penyakit ini banyak dijangkit orang-orang yang terlalu ‘berfilsafat’, dalam tanda kutip. Saya banyak menemui begitu, ditengah pelajaran atau bahkan kuliah dari dosen-dosen yang berlatarbelekang filsafat, beberapa sedihnya juga terjangkit. Saya melihat ini karena watak filsafat yang selalu berpegang pada prinsip logika, biasa kita sebut ‘identitas’. Prinsip ini memang sangat sulit untuk ditolak, bahkan mustahil. Tidak perlu untuk dijelaskan karena sudah sangat jelas, dan takutnya saya akan mengikuti dosen saya yang menanyakan yang sudah jelas-jelas jawabannya. Entah, memang ciri filsafat itu kritis alias selalu mempertanyakan apapun itu. tapi, kelewatan juga kalau mempertanyakan yang sudah sangat jelas sekali, ini bisa membuat kita jengkel. Yah , sama saja satu tambah satu, semua orang sudah pasti tau dua. Kita bisa melihat, sudah pasti. Ini yang terkadang membuatku jen...

Mengorbankan untuk Memenangkan

DULU, sewaktu orang-orang masih berjalan kaki untuk ke sekolah, masih sangat sulit untuk mendapatkan bahan bacaan, dan masih memerlukan tenaga yang banyak demi mencari Ilmu baru. Orang-orang memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mencari Ilmu pada saat itu. Bahan keilmuan begitu sulit dicari. Perpustakaan kalau pun ada, jaraknya jauh ditengah kota. Menyedihkan bagi yang tinggal di pedalaman desa, tetapi memiliki ingin tahu yang tinggi tanpa dukungan lingkungan dan tempat mencari Ilmu yang lebih luas. Hasilnya, ilmu yang didapati hanya apa yang ada di desanya saja. Dia mungkin menjadi juara satu di desanya, tapi sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan orang-orang kota yang barangkali tidak lebih kuat semangatnya. Orang desa itu hanya mengulang-ulang apa yang sudah dipelajarinya. Itu kisah orang desa. Mereka mempunyai ilmu yang dalam dan paham betul yang mereka pelajari, tapi tetap saja wawasan mereka sangat terbatas.   *** Produksi Pribadi Sekarang, orang desa itu sudah beru...