Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

Merekonstruksi Pemahaman Agama

Agamawan banyak dibenci karena fanatisme dan memanjikan dirinya dengan kebenaran. Di satu sisi, anti agama yang traumatik memukul rata agama sebagai tradisi mitologis, dalam artian positif atau negatif. Agama menjadi alat penenang, narkosis, bagi orang-orang yang tak mampu menanggung kerasnya kehidupan, kemiskinan, pertahanan emosional. Bagi Psikolog, agama hanya delusi yang disebarkan dari satu orang ke orang lain, tidak lain memenuhi naluri keinginan atas kebenaran mutlak. Selain itu, antropolog melihatnya hanya sebagai fenomena kultural yang berubah karena interaksi sosial. Kesimpulan-kesimpulan ilmuwan tentang agama tidak bisa ditolak mentah-mentah. Itulah yang memang terjadi sepanjang sejarah hingga sekarang. Selain menjadi instrumen emosional penggerak massa, juga sebagai penenang individual. Tidak ada unsur rasionalitas dalam agama, kecuali penambahan-penambahan sebagai unsur apologetika untuk meyakinkan penganutnya. Fenomena empirik tentang agama, tidak akan membuktikan atau ...

Duka Asyura, Tangisan, dan Perjuangan

Tangisan Asyura adalah ungkapan rasionalitas, tangisan yang membanjiri kezaliman di dalam diri. Tangisan itu menjadi petunjuk bagi perlawanan diri, bukan sekadar perlawanan terhadap pembunuh-pembunuh Al-Husain as. Banyak tangisan dan duka yang datang di sela-sela kehidupan, tetapi tangisan terhadap Al-Husain memiliki semangat yang berbeda dari tangisan lainnya. Ini bukan jeritan kelemahan atas diri, tetapi persiapan untuk kebangkitan jiwa yang tertatih. Asyura mengungkakan semua dimensi kebijaksanaan hidup. Bukan hanya kesedihan, atau ratapan tanpa makna. Di dalam itu semua terdapat persiapan untuk melawan diri, menghilangkan ego, cinta dunia, menghilangkan ikatan-ikatan yang menjatuhkan. Pengorbanan Al-Husain membentuk pemikiran Husainisme bagi pengikutnya, mengorbankan dirinya, menghilangkan keakuan. Di dalam tangisan itu tidak ada istilah tasawuf, pengkajian tentang perjalanan menuju Tuhan, tetapi dalam tangisan terhadap Al-Husain as telah terangkum semua nilai tasawuf, spirituali...

Problem Kebebasan, Aliran Pemikiran dan Kebahagiaan

  Hasrat manusia yang tidak bisa dilepaskan dan sudah menjadi tabiatnya untuk mencari kebebasan. Siapapun dan di mana pun selalu ada semacam gerakan dan perjuangan untuk pembebasan dalam satu masyarakat jika terjadi sejenis pengekangan. Manusia yang sudah mulai berpikir dan merasakan dirinya terkungkung dan dibatasi akan memberontak terhadap apa saja yang membuatnya terbatasi. Merenungi kebebasan akan banyak diksi yang muncul perlu untuk diperbandingkan satu sama lain diantaranya: pembatasan, kemerdekaan, tanggung jawab, aturan, perusakan, dan kesewenang-wenangan. Persoalan yang paling jelas bagi kebebasan adalah tidak adanya kemutlakan bebas melakukan apa saja semau kita. Selalu ada batasan yang mengekang manusia. Batasan itu berupa aturan yang sudah disepakati bersama dalam masyarakat, atau batasan manusia agar tidak menghacurkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, persoalan kebebasan mutlak adalah hal yang utopis. Akal manusia selalu menolaknya. Paling tidak, batasan kebebasan m...

Berpegang dan Berlepas (Tawalla dan Tabarra')

Dalam pusaran sejarah, selalu muncul dikotomi-dikotomi yang saling berlawanan. Memang cara berpikir itu tidak mesti biner, hitam dan putih. Terkadang dalam melihat realitas diperlukan cara berpikir bertingkat. Namun, masing-masing cara berpikir memiliki tempat masing-masing. Kita tidak mungkin melihat kontradiksi dalam bentuk tingkatan. Kontradiksi selalu meniscayakan dua hal yang tidak memiliki jalan tengah. Antara konsep ‘ada’ dan ‘tiada’, tidak memiliki jalan tengah ( law of excluded middle). Namun, dalam tempat lain, realitas harus dilihat secara bertingkat, seperti suhu panas, ukuran-ukuran, dan lain-lain. Selalu banyak perbandingan ke atas atau ke bawah. Banyak yang keliru mengkritik cara berpikir biner itu terlalu simplisistik. Alih-alih menggunakan cara berpikir itu secara tidak sadar. Dualisme dalam pikiran memang tidak bisa dihindarkan, karena watak pikiran yang selalu mencari esensi sesuatu, hakikat, dan definisinya. Semua itu tidak bisa dipahami akal manusia tanpa membed...

Kemajuan Sains dan Agama

Beberapa dekade ini kemajuan sains sudah menjelaskan misteri-misteri yang tidak terpecahkan oleh manusia. Pengujian empiris banyak membuktikan persoalan yang terkadang dijawab dengan dogmatisme atau keyakinan umum yang tersebar di masyarakat. Mulai dari penyakit yang menjangkiti manusia, emosi-emosi manusia, peristiwa-peristiwa alam yang menakutkan, hingga misteri di ujung alam semesta. Banyak kepercayaan yang dikonstruksi untuk menyelesaikan kegelisahan manusia. Dogma itu sangat berguna karena menghilangkan kegelisahan manusia yang terus mempertanyakan alam. Seiring berjalannya waktu Filsafat juga mulai datang untuk menjelaskan masalah-masalah metafisis yang tak terjangkau indra. Persoalan etika, makna hidup, dan prinsip-prinsip realitas. Di balik itu, melihat realitas sekarang. Ilmu pengetahuan sudah berkembang sangat maju. Penjelasan-penjelasan metafisis yang bersifat dogmatis dan spekulatif digantikan dengan penjelasan sains. Masyarakat modern abad ke-21 hingga abad selanjutnya a...

Teknik Menulis dan Kebiasaan

  Yang dibutuhkan dalam menulis bukan tangan, pena, kertas, atau alat-alat yang memerantarai kita untuk menulis. Menulis adalah proses mengungkapkan ide yang ada di dalam otak, karena itu alat yang paling penting dan paling utama adalah kepala berisi ide. Seseorang bisa saja menulis semaunya tanpa memikirkan apa yang harus ditulis. Tetapi hasilnya akan beda dengan orang yang benar-benar memiliki ide yang matang dan brilian. Kebanyakan tulisan hanya merupakan hasil latihan para penulis untuk melatih teknik penulisan agar indah dibaca atau agar terbiasa dengan menulis. Namun, tulisan mereka tidak merubah apa-apa bagi pembaca, kecuali mengulang kembali apa yang sudah diketahui. Saya mendapatkan pelajaran dari penulis yang sudah mengirimkan tulisannya di pelbagai portal media online dan bahkan diminta untuk menulis. Dia selalu menulis sesuatu sebisa mungkin berbeda dengan pikiran umum orang-orang ( common sense ). Dia menggambarkan cara mencari ide yang out of the box agar tulisan ki...

Sekelumit Tentang Filsafat Jiwa

Ditengah kegelisahan, kemurungan, kebehagiaan dan semua perasaan yang datang silih berganti, hal itu tidak pernah disebabkan sama sekali oleh hal-hal di luar kita. Perasaan itu bahkan bisa datang sekejap dan hilang juga dengan tiba-tiba tanpa proses yang mendahuluinya. Antara satu rasa dengan rasa yang lain bahkan saling berkontradiksi. Perasaan tidak senang tidak perlu datang dengan gangguan dari luar. Bahkan cukup dengan mengkhayalkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada diri kita, sudah sangat mengganggu hidup kita. fenomena-fenomena itu menunjukkan sangat jelas perbedaan antara jiwa dan badan manusia. Namun, bagaimana para filsuf menjelaskan pikiran dan sesuatu yang muncul dari jiwa manusia itu datanng? Mereka berbeda pendapat tentang sumber dari pikiran itu, tetapi semua bersepakat mengenai adanya khayalan dan rasa-rasa di dalam jiwa. Bersikukuh menolak kejadian yang sangat jelas di dalam diri kita, sangatlah musykil. Kecuali bagi orang-orang yang sama sekali memiliki pikiran te...

Pembagian Lazim dalam Substansi dan Aksiden (Logika)

Dalam memahami konsep universal yang bersifat substansial atau aksidental, terdapat beberapa pembagian dari segi kemestian dua konsep untuk bersama-sama secara permanen atau tidak. Pembahasan ini merupakan sub bagian dari kajian Logika di bawah tema Lima Universal atau biasa disebut Kulliyat al-khamsah . 1) Hubungan Lazim ( Concomitance , Koeksistensi)                Ketika dua pahaman universal dihubungkan harus memiliki keberadaan secara bersamaan, disebut sebagai kelaziman. Contohnya: Segitiga dan jumlah dua sudut siku-siku (180 derajat); Ganjil dan angka tiga; Genap dan angka empat; Kebergantungan dan akibat; dan lain sebagainya.  Hubungan itu merupakan keharusan yang selalu bersama-sama bagi keduanya. Akan tetapi, dalam melihat letak keberadaannya, kita bisa membaginya menjadi beberapa pembagian lagi. a) Lazim hanya di luar akal                Kelaziman ini tidak terjadi di dalam akal ata...

Memahami Wabah sebagai Kebaikan (Bagian Kedua)

T elah sejak lama para ulama dari Islam maupun agama abrahamik sebelumnya mendiskusikan masalah bencana yang datang menimpa manusia. Dalam filsafat Skolastik, terdapat pembahasan khusus mengenai keburukan alam semesta yang dinamai Teodisi. Berlanjut ke Islam, para ahli kalam juga mempunyai argumentasi rasional dan pemaknaan terhadap keburukan dan bencana yang menimpa manusia, yang sebelumnya sudah dijelaskan di bagian pertama.                Permasalahan ini banyak yang membuat orang tidak mempercayai lagi agama bahkan Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Wabah atau bencana tidak mungkin terjadi bersamaan dengan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan, karena jika Tuhan mahakuasa pastilah Dia menghilangkan semua keburukan dan wabah itu keburukan, maka Tuhan tidaklah mahakuasa atau tidak mahabaik. Pemahaman seperti itu jelas sangat keliru. Karena menentukan keburukan pada wabah itu tidak berdasar sama sekali. Tidak setiap yang menyebabka...

Kesucian atau Kekuatan Jiwa

               Perbedaan antara spiritualitas Islam dan spiritualitas selainnya adalah penekanannya pada kesucian. Gerakan spiritualitas yang berkembang pada agama-agama non-muslim maupun sebagian sekte tarekat Islam, kebnayakan mengutamakan penguatan jiwa bukan penyuciannya. Keduanya hal yang berbeda. Penguatan jiwa bisa dianalogikan seperti berolahraga untuk membentuk otot-otot fisik.  Tujuan penguatan jiwa membentuk kekuatan yang melampaui alam bendawi. Kekuatan yang dihasilkan badan ditandai dengan otot-otot yang kekar, sedangkan kekuatan jiwa ditandai dengan pengendalian fisik. Seseorang yang memiliki jiwa yang kuat bisa saja memiliki kemampuan khusus, membaca pikiran, membuat karamat-karamat, atau mengendalikan benda yang ada, dan sebagainya.                Tujuan utama spiritualitas Islam bukanlah menguatkan, tetapi membersihkan noda-noda dalam jiwa. Seiring dengan kesucian jiwa, spirit...