Agamawan banyak dibenci karena fanatisme dan memanjikan dirinya dengan kebenaran. Di satu sisi, anti agama yang traumatik memukul rata agama sebagai tradisi mitologis, dalam artian positif atau negatif. Agama menjadi alat penenang, narkosis, bagi orang-orang yang tak mampu menanggung kerasnya kehidupan, kemiskinan, pertahanan emosional. Bagi Psikolog, agama hanya delusi yang disebarkan dari satu orang ke orang lain, tidak lain memenuhi naluri keinginan atas kebenaran mutlak. Selain itu, antropolog melihatnya hanya sebagai fenomena kultural yang berubah karena interaksi sosial. Kesimpulan-kesimpulan ilmuwan tentang agama tidak bisa ditolak mentah-mentah. Itulah yang memang terjadi sepanjang sejarah hingga sekarang. Selain menjadi instrumen emosional penggerak massa, juga sebagai penenang individual. Tidak ada unsur rasionalitas dalam agama, kecuali penambahan-penambahan sebagai unsur apologetika untuk meyakinkan penganutnya. Fenomena empirik tentang agama, tidak akan membuktikan atau ...